Sungai Suka Cita

Spread the love

Menjadi seorang perekam proses bersama Tim PPS (Pusat Pengembangan Sosial) merupakan hal yang tidak asing lagi bagi saya. Kali ini salah satu divisi YKBS (Yayasan Kasih Bangsa Surabaya) itu kembali memercayakan peran tersebut kepada saya, merekam proses selama kegiatan LKTD OMK St. Maria Blitar. Seperti biasa, saya melakukan tugas saya dengan tenang, mengamati dan menikmati setiap proses sambil mencatat bagian-bagian yang saya perlukan dalam buku rekam proses saya. Kemudian, semua berubah saat kebingungan mulai menyerang. Hanya buku rekam proses yang telah berisi catatan penting saya yang dapat menghentikannya. Tapi, saat saya membutuhkannya, dia menghilang. Eh, kok jadi seperti narasi film kartun Avatar the Legend of Aang, hehe… Intinya, sampai tulisan ini selesai dibuat saya kehilangan buku rekam proses, sehingga memutuskan untuk membuat narasi dari salah satu momen berkesan selama kegiatan LKTD.

 

Outbond di sungai menjadi kegiatan yang akan saya narasikan. Sebanyak 40-45 peserta telah dibagi menjadi lima kelompok kerja, dan nama kelompok diambil dari mata pelajaran di sekolah. Mereka harus menyusuri sungai untuk menuju pos permainan, kira-kira 100 meter jarak yang harus ditempuh. Di pos permainan saya dan Pak Lasmidi telah siap menunggu kelompok yang harus menyelesaikan permainan. Sedangkan di pos pemberangkatan ada Bro Diaz yang memberi pembekalan, instruksi, serta aturan main. Mas Agus dibantu anggota senior OMK (Bobby dan Topan) telah siap di sungai memberikan pengamanan pada peserta.

 

Aturan mainnya sangat jelas. Seluruh anggota kelompok harus bisa menyentuh jembatan di atas sungai (sekitar 4,5 meter di atas permukaan air) dengan bantuan tali, dan setiap peserta yang sudah menyelesaikan permainan tidak boleh membantu anggotanya, jadi hanya yang belum menyelesaikan permainan yang bisa membantu anggota kelompok.

 

Ada dua kelompok yang membuat saya terkesan, Kelompok Sejarah dan Kelompok Matematika. Keduanya sama-sama memiliki seorang anggota bertubuh besar (Petrus di Kelompok Sejarah dan Mentari di Kelompok Matematika) yang mengalami kesulitan untuk memanjat tali.

 

Satu per satu anggota Kelompok Sejarah telah berhasil menyelesaikan permainan, sehingga hanya tersisa Petrus dan dua orang temannya yang bertubuh lebih kecil. Alhasil, tidak ada yang mampu membantu Petrus untuk menyelesaikan permainan. Berkali-kali Petrus gagal di tengah jalan akibat rasa sakit di tangan dan kaki yang harus memanjat tali dengan menahan beban tubuhnya dan rasa lelah yang harus ditanggungnya, belum lagi terlihat ekspresi putus asa akibat kegagalan yang berulang dialami dan rasa khawatir yang semakin menguat akibat ditinggalkan oleh anggota kelompoknya.

 

Hal yang sama dialami oleh Mentari dari Kelompok Matematika. Hanya bedanya, tidak ada anggota kelompoknya yang mau naik duluan sebelum Mentari berhasil. Berbekal kerjasama kelompok mereka berusaha membantu Mentari menyelesaikan permainan, namun berkali-kali pula mereka harus gagal karena tidak ada yang mampu terlalu lama menahan Mentari. Sampai-sampai seorang dari mereka selalu meminta keringanan aturan pada saya, untuk memberi pengecualian pada Mentari, dan selalu saya tolak.

 

Hingga mereka semua diminta oleh Pak Lasmidi meriview materi yang telah dipelajari dan menelaah betul instruksi dari Bro Diaz. Kesadaran mulai muncul dari Kelompok Matematika untuk meminta bantuan sekaligus menawarkan bantuan pada Kelompok Sejarah yang hanya terisa Petrus dan seorang anggotanya saja. Akhirnya Petrus dan temannya membantu Mentari untuk menyelesaikan permainan duluan dan berhasil. Kemudian ganti Petrus dibantu oleh seluruh kelompok yang tersisa hingga berhasil pula dan sorak-sorai keberhasilan bergemuruh di tempat itu. Momen yang membuat terkesan lagi, ketika Petrus berjalan menghampiri saya lalu menangis haru di hadapan saya. Melihat kejadian itu semua teman-temannya menuju pada Petrus memberi pelukan kemenangan padanya.

 

Sebagai pribadi, kita pasti memiliki keterbatasan yang sering kali dianggap sebagai kelemahan kita. Namun jika kita berhasil menerima keterbatasan yang ada dan mampu mensyukurinya, hal itu bisa jadi berbalik menjadi kelebihan kita. Keterbatasan yang menjadi kekuatan membuat diri berani berperan dan memberi dampak positif dalam hidup oranglain, tanpa memandang perbedaan kelompok. Itulah kemenangan kalian. Semoga kemenangan ini tidak terhenti di kegiatan LKTD ini saja.

 

Oleh : Christianus H. Winjaya

Dimuat dalam buletin fides Et Actio edisi No.121, Juli thn 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *