Pendidikan Membentuk Karakter dan Martabat Utuh
Pendidikan Membentuk Karakter dan Martabat Utuh
Oleh: Fr. F.X. Empi Siloka Astageni, CM
Vitalitas Pendidikan bagi Manusia

Pendidikan merupakan kebutuhan hidup manusia dan hak atasnya harus menjadi skala prioritas.
Setiap orang harus terlibat secara serius dalam pendidikan, dididik dan mendidik, baik sebagai mediator atau pemerhati yang dapat menjamin proses pendidikan berjalan dengan baik.
Sebab pendidikan menjadi sebuah unsur vital dalam perjalanan hidup manusia. Tanpa adanya pendidikan, manusia menjadi makhluk yang tumpul.
Menuntun Keluar Potensi Diri

Pendidikan memiliki makna yang mendalam berdasarkan etimologinya.
Dalam bahasa Latin, kata pendidikan berasal dari kata educare yang terdiri dari dua kata e-/ex (keluar) dan ducere (memimpin-menuntun).
Berangkat dari etimologi tersebut, pendidikan memiliki arti sebagai usaha untuk menuntun atau mengerahkan keluar potensi yang ada dalam diri manusia.
Dalam proses tersebut, manusia membina dirinya sedemikian rupa agar terciptanya pertumbuhan diri secara menyeluruh.
Pendidikan Membentuk Karakter Ideal

Dalam kebudayaan Yunani (klasik), terdapat istilah yang akan mengungkapkan saratnya makna pendidikan.
Pendidikan sebagai “pembinaan” dihubungkan dengan istilah paideia yang berasal dari kata pais (anak). Paideia dimengerti sebagai usaha untuk membentuk manusia menjadi yang ideal.
Letak ideal manusia tidak dilihat dari betapa pintarnya dia, tetapi dari karakter, budaya, moral, dan etika yang dimiliki.
Paideia menjadi sebuah langkah untuk mem-“format” jiwa dan keutamaan pada manusia.
Proses tersebut pada gilirannya akan melahirkan keselarasan antara akal budi, rasa, dan aksi.
Perspektif Iman dan Martabat Pribadi
Gereja Katolik dalam Ajaran Sosial Gereja (ASG) memiliki paradigma bahwa pendidikan adalah jalan pembentukan manusia yang utuh. Gereja menganggap bahwa indikator keberhasilan pendidikan bukan hanya meliputi kematangan intelektual, melainkan matang juga secara moral, sosial, dan spiritual. Sebab pendidikan adalah bagian dari martabatnya, dan dari situ manusia dapat memenuhi panggilannya di hadapan Allah.
Dalam dokumen Gravissimum Educationis (GE) menegaskan bahwa setiap orang dari suku, kondisi, atau usia mana pun juga, berdasarkan martabat mereka selaku pribadi mempunyai hak yang tak dapat diganggu gugat atas pendidikan (GE art. 1).
Dari sini bisa dipahami bahwa kesejatian pendidikan diperuntukkan untuk semua orang tanpa terkecuali. Siapa pun bertanggung jawab untuk mendapatkan pendidikan dan memberikan pendidikan.
Sampai pada poin ini, penulis menyimpulkan bahwa cara untuk menghargai martabat manusia adalah dengan memberikan edukasi dalam berbagai bentuk dan usaha kreatif untuk mengembangkannya. Pendidikan akan terus berkembang di segala zaman. Sejauh eksistensi manusia masih ada, maka pemenuhan martabatnya (pendidikan) harus tetap berjalan, berkembang, dan kontekstual.
Pendidikan untuk Solidaritas Bangsa

Lebih lanjut lagi, pendidikan sejatinya akan bermuara pada bagaimana setiap manusia mengambil partisipasi aktif dalam membangun dunia. Paus Paulus VI dalam ensiklik Populorum Progressio (Perkembangan Bangsa-bangsa) melihat bahwa perkembangan adalah nama baru bagi perdamaian.
Gagasan tersebut dilatarbelakangi oleh lahirnya ketimpangan sosial antara negara-negara maju dengan negara-negara berkembang pasca Perang Dunia Kedua.
Ketimpangan tersebut kemudian melahirkan apa yang disebut sebagai kemiskinan struktural.
Oleh karena itu, Gereja melihat bahwa perlu adanya perkembangan yang tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi saja, tetapi meliputi pertumbuhan atas martabat manusia, yang menyentuh seluruh dimensinya—mengarah pada solidaritas antarbangsa. Di situlah terjadi titik temunya dengan pendidikan.
Jalan Menuju Pembebasan
Berdasarkan pemaparan di atas, pendidikan menjadi jembatan yang adalah jalan menuju pembebasan bagi manusia dari kebodohan, ketidakadilan, kemiskinan, dan ketergantungan sosial.
Dengan itu, pendidikan harus berorientasi pada pemberdayaan manusia, bukan pada prestasi belaka yang secara perlahan memudarkan esensi pendidikan itu sendiri.
Lingkungan, ruang, dan aktivitas belajar harus menyematkan pertumbuhan kesadaran akan apa yang sedang terjadi pada dunia (realitas sosial).

Integrasi Ilmu dan Aksi Nyata
Di tengah derasnya arus individualisme, budaya konsumtif, dan digitalisasi, pendidikan tampil sebagai harapan akan dunia yang baik. Dunia selalu berjalan berdampingan dengan ragam polemik yang ada.
Setiap manusia memiliki panggilannya masing-masing untuk mengambil andil dalam membangun dunia. Itulah yang kemudian disebut sebagai integrasi pendidikan dengan iman dalam kehidupan sosial.
Ilmu pengetahuan adalah tool untuk menerangi atau filter untuk menghadapi persoalan-persoalan sosial, dan hal itu diejawantahkan dalam aksi atau pelayanan yang konkret.
Dengan demikian, pendidikan menjadi partisipasi manusia dalam karya Allah membangun dunia yang lebih adil.

