Lagi-Lagi, Semua Tentang Cinta
Lagi-Lagi, Semua Tentang Cinta
Oleh: Christianus Winjaya
Gema di Balik Dering Telepon
Semuanya bermula dari sebuah dering telepon. Cindy di ujung sana menawarkan sebuah peran yang, jujur saja, membuat insting pertahanan diriku langsung bangkit.
“Pasti melelahkan menjadi pusat perhatian di tengah keramaian. Harus hadir setiap latihan. Dan yang paling jujur: aku merasa tidak pantas. Mungkin lebih baik orang lain saja.” pikirku saat itu.
Namun, sebelum sempat kupikirkan lebih jauh, suara Bella—sutradara Visualisasi Jalan Salib—menyelip dengan seloroh yang ternyata menjadi benih refleksi: “Kan Mas tahun ini 33 tahun… sama seperti usia Yesus waktu disalib.”
Kalimat itu terdengar seperti guyonan ringan. Tapi entah kenapa, ada sesuatu yang mengendap di kepalaku. Tiga puluh tiga tahun. Aku justru merasa sedang berada di titik yang jauh dari-Nya. Tawaran itu akhirnya kuterima dengan nada ragu, namun ada satu bisikkan kecil di hati: mungkin ini cara-Nya memanggilku pulang, untuk mengenal kembali siapa sebenarnya pria yang terpaku di kayu salib dua ribu tahun lalu.
Saat Tubuh Mulai Mencatat
Latihan dimulai, dan tubuhku mulai mencatat semuanya. Lutut dan siku terasa sakit, bekas yang bahkan masih menetap hingga hari ini. Ada satu momen yang tak bisa kulupakan: saat pertama kali dinaikkan ke salib. Kayu itu tidak tegak lurus, ia meluncur condong ke depan sekitar 45 derajat.
Degup jantungku naik tajam. Di tengah usaha mencari tumpuan, pikiran teknis sebagai manusia muncul, “Kalau ini miring sedikit lagi, kalau kakiku tidak bisa menapak, bagaimana cara jatuh yang aman?” Bukan hanya untukku, tapi untuk teman-teman yang berjaga di bawah.

Mencari di Luar Lema Doa
Di luar latihan fisik, aku mulai tenggelam dalam riset. Menonton, membaca, dan mencoba memahami. Aku ingin melihat gambaran besar, bukan sekadar potongan kisah yang sering kudengar di bangku gereja. Aku ingin mengenal Yesus sebagai manusia yang hidup dalam tekanan zaman-Nya. Bagaimana budaya-Nya, situasi politik Romawi, hingga teknis penyaliban awal abad.
Ada satu momen diskusi personal dengan Bella yang sangat membekas saat briefing. Kami bicara panjang soal emosi, hingga sampai pada satu kesimpulan: apa pun yang terjadi—sesakit apa pun jatuhnya, seberat apa pun kayunya—aku harus tetap menunjukkan tatapan kasih.
Instruksi yang sederhana, tapi beratnya bukan main. Bagaimana tetap menatap dengan kasih di tengah dorongan, cambukan, dan teriakkan?
Perlahan, gambaran itu menjadi utuh. Ia bukan lagi sekadar kisah yang terpisah-pisah dalam lema doa, tapi sebuah laku hidup yang harus kupraktikkan lewat sepasang mata.
Pasrah yang Aktif
Hari-H datang membawa kejutan yang tak ada di naskah. Banyak sekali orang berkumpul di area Gereja Katolik Santo Vincentius a Paulo Surabaya membuat udara terasa kian berat.
Masih pada perhentian jatuh pertama, aku benar-benar tergelincir. Seharusnya aku hanya jatuh setengah—masih berlutut sambil menahan salib. Namun yang terjadi tidak seperti latihan. Kakiku tergelincir. Aku jatuh sepenuhnya dan salib seberat sekitar 50 kg itu menghantam kepalaku. Lebih buruk lagi, saat aku mengangkat kepalaku, seorang pemeran prajurit menginjak salib itu tepat di dekat kepalaku—bukan di titik tumpu yang aman. Sakitnya nyata.
Di tengah upaya spiritual untuk pasrah, tubuhku secara instingtif tetap berjuang untuk bertahan. Otot lengan mulai aktif untuk mengurangi beban otot leher yang terhimpit di antara kerasnya kayu dan lantai. Seolah menjadi pengingat bahwa penderitaan yang nyata selalu menuntut perlawanan fisik yang jujur—bukan pasrah yang diam, tapi pasrah yang tetap berjuang.

Di Balik Tatapan Penonton
Di sisi lain, aku melihat wajah-wajah penonton. Banyak ekspresi kaget, tidak nyaman, bahkan ada yang menjerit. Meskipun cambuk yang kami gunakan hanyalah alat yang aman, intensitas dan ritme yang kami bangun cukup untuk menciptakan ilusi penderitaan yang mencekam.
Respon ketakutan mereka itu nyata.

Aku teringat candaan kami sebelum hari-H: tentang mengganti cambuk dengan rotan, tentang pukulan yang lebih keras dan disambung dengan jegalan, atau tentang menabur batu tajam di lintasan jalan salib agar suasana lebih “realistis” demi “penghayatan” umat.
Di situ aku mulai bertanya: apakah kita benar-benar ingin menghayati… atau diam-diam sedang menikmati?
Nafas yang Terjepit

Satu hal yang paling sulit ternyata adalah mengatur napas. Saat tubuh tergantung dan tegang, napas jadi pendek dan cepat. Tenggorokan kering kerontang. Mengucapkan dialog dalam kondisi seperti itu adalah perjuangan fisik.
Sebagian memang kudesain sendiri—aku sengaja menekan otot leher dan mempersempit ruang napas agar terdengar parau. Sakitnya ada, tapi tetap saja, itu tidak seberapa dibandingkan kenyataan yang dialami-Nya dengan tubuh yang sudah hancur total.
Kelelahan itu mencapai puncaknya setelah semuanya selesai. Make-up yang dipasang selama lima jam tanpa tidur mulai dibersihkan.
Justru di saat adrenalin turun itulah, aku baru sadar kalau lutut dan sikuku benar-benar sakit.
Aku yang hanya memerankan saja sudah merasa remuk, bagaimana dengan Dia yang benar-benar berjalan di medan sulit itu tanpa mengeluh sampai wafat?
Sebuah Kepulangan yang Berbeda
Puncak refleksiku justru terjadi saat aku sampai di rumah. Tidak seperti biasa, Ibuku berdiri di depan pintu sambil menatapku dari atas hingga bawah dengan ekspresi khawatir dan tanpa jeda menghujaniku dengan banyak pertanyaan.
Di situ pikiranku melompat jauh ke ribuan tahun lalu: Bagaimana dengan Bunda Maria? Melihat Putranya sendiri mengalami semua itu secara nyata? Seberapa hancur hati Sang Bunda?

Saat merebahkan tubuh di ranjang, aku teringat sebuah khotbah sehari sebelumnya. Seorang Pastor bercerita tentang tragedi 11 September 2001.
Di detik-detik terakhir hidup mereka, para korban hanya ingin melakukan satu hal: menghubungi orang tercinta, dan menyampaikan pesan cinta mereka.
Tidak ada yang mengatakan tentang pencapaian, tidak tentang harta, tidak juga tentang hal-hal besar.
Hanya tentang cinta.
Lalu Pastor itu mengaitkannya dengan masa hidup Yesus.
Dari rentang waktu yang begitu panjang—dari awal manusia sampai sekarang—Yesus hadir di dunia hanya sekitar 33 tahun. Masa pelayanan-Nya bahkan hanya sekitar 3 tahun.
Jika waktu-Nya sesingkat itu, maka yang Dia ajarkan pasti adalah hal yang paling krusial.
Dia tidak akan membuang waktu untuk sesuatu yang rumit atau bertele-tele.
Dan setelah yang kualami—jatuh, sakit, kelelahan, melihat Ibuku, mengingat kisah-kisah itu—aku sampai pada satu kesimpulan yang sederhana, tapi tidak ringan:
Ternyata tidak perlu rumit untuk mencari makna.
Lagi lagi,
semua kembali
tentang cinta.

Sidoarjo, 5 April 2026, 01:01,
Tian
