TENTANG SEORANG LELAKI YANG BERTAHAN
Tentang Seorang Lelaki yang Bertahan
Oleh: Christianus Winjaya
Sebelum Membaca
Tulisan ini mengandung kisah tentang kelelahan batin dan pikiran gelap.
Jika Anda sedang berada dalam kondisi yang rapuh, silakan membaca dengan jeda.
Tulisan ini bukan untuk meromantisasi keputusasaan.Ini tentang bertahan.
Tentang tidak melangkah lebih jauh ketika gelap terasa begitu dekat.
Yang Terlihat Baik-Baik Saja
Ada seorang laki-laki, sebut saja Arga. Usianya awal tiga puluhan. Ia bekerja di sebuah panti asuhan. Pekerjaan yang sering dipuji orang sebagai “mulia”, tapi jarang ada yang benar-benar ingin tahu bagaimana rasanya berada di dalamnya.
Penghasilannya pas-pasan. Hidupnya sederhana. Ia terbiasa memberi sebelum diminta. Terbiasa menahan sebelum meledak. Terbiasa menguatkan orang lain, sambil diam-diam menambal dirinya sendiri.
Bagi banyak orang, Arga terlihat baik-baik saja. Tenang. Stabil. Bisa diandalkan. Padahal di dalam dirinya, ada kelelahan panjang yang tidak pernah benar-benar punya ruang untuk beristirahat. Dan kelelahan yang tak pernah diakui, biasanya tidak hilang. Ia hanya menumpuk.
Kalimat yang Menempel
Suatu hari, setelah sebuah teguran yang terasa tidak adil dari atasannya, Arga pulang dengan kepala yang penuh. Teguran itu tidak keras. Tidak memaki. Tidak mempermalukan. Hanya kalimat biasa. Disampaikan dengan nada biasa.
Namun entah kenapa, kalimat itu menempel.
Sepanjang perjalanan pulang, satu pertanyaan berputar-putar di kepalanya:
“Apa aku terlalu perhitungan?”
Ia mencoba membantahnya. Lalu mulai meragukannya. Lalu menyalahkan dirinya sendiri.
Malam itu, atasannya mungkin sudah tidur nyenyak.
Arga tidak.
Dan pikiran yang tidak selesai, sering kali mencari tempat untuk menetap.
Angka dan Harga Diri
Beberapa bulan kemudian, istrinya harus menjalani operasi besar. Biayanya jauh di luar kemampuan mereka.
Di ruang administrasi rumah sakit, Arga duduk di depan meja kasir.
Angka-angka di layar komputer terasa seperti vonis.
Ia menghitung. Mengulang. Menghitung lagi. Tetap tidak cukup.
Tangannya menandatangani formulir dengan stabil.
Tapi di dalam dirinya, sesuatu benar-benar patah.
Untuk pertama kalinya, ia merasa gagal menjadi laki-laki.
Ia teringat semua nasihat tentang tanggung jawab.
Tentang menjadi kepala keluarga.
Tentang menjadi pelindung.
Namun malam itu, ia merasa seperti dinding yang keropos.
Dari luar masih berdiri.
Di dalam sudah kosong.
Ia ingin menangis.
Tapi bahkan air mata pun terasa mewah.
Di hadapan istrinya, ia tersenyum tipis.
Mengatakan semuanya akan baik-baik saja.
Padahal di kepalanya hanya ada satu kalimat yang berulang tanpa ampun:
“Aku tidak cukup.”
Dan kalimat itu tidak berteriak.
Ia berbisik pelan.
Tapi menghancurkan.
Satu Langkah
Malam itu, setelah memastikan istrinya tertidur dan alat-alat medis berdetak normal,
Arga keluar dari rumah sakit.
Ia duduk di trotoar.
Lampu kendaraan menyambar-nyambar tanpa jeda.
Suara mesin meraung.
Klakson saling tindih.
Kota bergerak cepat. Terlalu cepat.
Dan di tengah derasnya arus itu, pikiran Arga mulai runtuh.
Ia membayangkan dirinya berdiri.
Melangkah.
Satu langkah saja ke arah laju kendaraan.
Bukan adegan dramatis.
Bukan teriakan.
Hanya satu keputusan kecil.
Satu gerakan tubuh.
“Kalau aku berlari ke sana… selesai.”
Bukan karena ia membenci hidupnya.
Bukan karena ia tidak mencintai istrinya.
Ia hanya sangat lelah. Sangat.
Pikirannya saat itu bukan lagi sekadar sedih.
Ia sudah gelap. Padat.
Hampir tanpa celah cahaya.
Tubuhnya masih duduk.
Tapi batinnya sudah berdiri di tepi jurang.
Dan yang paling menakutkan bukanlah suara kendaraan itu,
melainkan betapa masuk akalnya keputusan itu terdengar di kepalanya.
Gangguan Kecil
Ponselnya berdering.
Satu pesan masuk. Pak Wili, rekan kerja yang tidak terlalu dekat dengannya.
“Tadi ngapain merokok di trotoar depan rumah sakit?”
Arga tersadar sebentar. Membalas sekenanya.
Lalu kembali tenggelam.
Suara kendaraan yang tadinya bising perlahan terasa jauh.
Seolah dunia tetap bergerak, tapi ia sudah tidak benar-benar berada di dalamnya.
Namun malam itu belum selesai.

Sebuah Sapaan
Seorang pria asing mendekat.
Pakaiannya sederhana. Berbusana muslim.
Logatnya terdengar bukan dari kota itu.
Ia bertanya arah dengan sopan.
Arga menjawab. Menunjuk jalan. Singkat saja.
Pria itu tersenyum tulus. Mengucapkan terima kasih.
Lalu matanya tak sengaja tertuju pada kalung salib kecil di leher Arga.
Dengan nada hangat, ia berkata,
“Pamit dulu, Mas. Tuhan memberkati.”
Kalimatnya singkat. Tidak dramatis.
Tidak mencoba menyelamatkan siapa pun.
Lalu ia pergi, larut dalam arus manusia.
Arga tetap duduk di sana beberapa menit.
Masalahnya tidak hilang. Biaya tetap ada. Luka tetap terasa.
Tapi malam itu, ia tidak melangkah lebih jauh ke dalam pikirannya sendiri.
Dan kadang, bertahan satu langkah saja sudah merupakan kemenangan yang tidak terlihat.
Tentang Sebuah Cerita
Ketika Arga menceritakan semua itu, aku tidak langsung tahu harus berkata apa. Aku tidak menduga ia pernah sedekat itu dengan kehancuran. Ia selalu terlihat kuat. Stabil. Tidak pernah berlebihan. Dan mungkin itu masalahnya.
Mendengarnya membuatku sadar bahwa tidak semua yang tampak tenang benar-benar ringan. Ada orang yang tetap bekerja seperti biasa, tetap tersenyum seperti biasa, padahal di suatu malam ia pernah duduk sendirian, hampir menyerah.
Arga tidak menceritakannya dengan dramatis. Tidak mencari pembenaran. Tidak pula meminta dikasihani. Ia hanya bercerita. Tentang satu malam yang sangat gelap. Tentang dua kejadian kecil yang membuatnya bertahan.
Ia sendiri masih belum ingin memberi makna apa pun pada peristiwa itu. Dan mungkin memang tidak perlu terburu-buru. Yang jelas, malam itu ia bertahan. Ia tidak membuang salibnya. Dan hari ini, ia masih ada. Itu saja sudah cukup untuk dihargai.
Bagi siapa pun yang membaca ini
Jika suatu malam pikiran gelap terdengar logis,
tunggu satu pesan lagi.
Tunggu satu sapaan lagi.
Tunggu satu menit lagi.Kadang keselamatan tidak datang dalam bentuk besar.
Ia datang sebagai gangguan kecil yang membuat kita tidak jadi melangkah.
Dan itu cukup.
Sidoarjo, 22 Februari 2026, 02:17
– Tian
