Kasih Terkadang Tak Pernah Tepat Waktu

Spread the love

Kasih Terkadang Tak Pernah Tepat Waktu
Oleh: D. Wimpie Fernandez

Detik-Detik yang Tak Bersahabat

Waktu menunjukkan pukul 1 siang. Cuaca cukup panas di musim penghujan. Kujinjitkan kaki dari dalam pagar rumah. Kampung sepi, tidak ada aktivitas. Baru teringat, ini awal puasa. Hanya semilir angin menggoyangkan daun dan suara manusia timbul tenggelam di telingaku.

Kubakar rokok. Kuhisap perlahan lalu kuhembuskan. Nikmat sekali. Aku mengucapkan, “Terima kasih Tuhan bisa menikmati rokok,” ucapku dalam hati.

Rokok tandas. Aku beranjak, bersiap mandi. Pekerjaan sudah menunggu. Kulihat jam dinding. Waktu tak bersahabat. Kupercepat langkah menuntaskan tubuh yang sudah kotor sejak lahir. Keluar dari kamar mandi, mataku kembali tertuju pada jam dinding. Sial. Waktu semakin tidak bersahabat. Segera kupakai pakaian dan keluar dari kamar menuju ruang tamu. Kupakai sepatu dan segera beranjak mengambil tas, lalu mengunci pintu.

Interupsi di Balik Pagar

Siang itu, cuaca semakin terik. Keringat membasahi wajah dan punggungku. Emosi mulai mendidih. Kunyalakan sepeda motor, lalu kubuka pagar. Sial lagi, mataku menengadah ke atas. Lampu teras belum dinyalakan. Aku mengumpat dalam hati. Kubuka lagi pintu rumah, lalu kunyalakan lampu teras sambil tetap mengumpat dalam hati.

Secepat kilat, kututup pintu. Lalu kubuka pagar, dan benar, cuaca terik sekali. Sebelum kupacu laju sepeda motor, aku kaget melihat seorang bapak berusia kurang lebih 60 tahun duduk di seberang rumahku. Sekilas kuamati, bapak itu seorang pemulung.

“Belasan tahun aku tinggal di kampung ini, tapi wajah bapak ini sangat asing bagiku,” ucapku dalam hati.

Gelisah yang Berbeda

Memang ada beberapa pemulung, tetapi biasanya perempuan dan aktif bekerja pukul 4-5 pagi. Selebihnya, tidak ada pemulung. Sejenak kulihat wajahnya melas dan sangat lelah. Bolak-balik tangannya membasuh wajah yang penuh dengan keringat. Di sebelahnya, ada sekantong tas besar yang kupastikan dia memang pemulung. Kuperhatikan kembali sekelilingnya, tidak ada kantong kresek berisi nasi maupun air putih.

Hati dan pikiran yang mulanya mendidih ditambah cuaca yang terik, seketika pasrah. Tubuhku semakin bercucur keringat. Aku tidak peduli. Kubiarkan tubuh disengat matahari. Apa gunanya khawatir dengan keringat? Justru aku gelisah dengan kehadiran bapak itu.

Aku sengaja menunda keberangkatan. Kulihat wajahnya sangat lelah dan kusam. Dia memandang diriku lalu tersenyum. Aku menurunkan masker, membalas dengan senyum. Hati dan pikiranku terkoyak.

Panggilan Kasih di Tengah Ketergesaan

Kuhela napas panjang dan kulihat jam di tangan, waktu sudah mepet. Aku berdiam sejenak sambil berdoa, “Tuhan, aku serahkan aktivitasku hari ini ke dalam tangan-Mu,” ucapku dalam hati.

Kumatikan sepeda motor lalu membuka pagar dan pintu rumah. Aku berjalan cepat ke dalam rumah. Yang kutuju adalah kulkas. Aku ambil air mineral lalu kumasukkan ke dalam kantong kresek. Aku tutup pintu dan pagar rumah. Aku melangkahkan kaki menuju bapak itu. Kuserahkan air. Bapak berkata sambil tersenyum, “Alhamdulillah, terima kasih, Mas.” Aku menyahut, “Sama-sama, Pak.”

Perjumpaan yang Menggetarkan

Di perjalanan, aku menangis. Menangis bukan karena sedih, tetapi aku menangis karena Tuhan masih memakai hati dan pikiranku untuk digerakkan melayani sesama. Insting untuk masuk kembali ke dalam rumah sambil dag-dig-dug dikejar waktu bukan karena keberanianku. Tetapi, Tuhan yang menggerakkan hati dan pikiranku untuk sejenak rehat dari padatnya aktivitas; menengok, menyapa, dan memberi mereka yang membutuhkan. Aku bersyukur bisa melakukan itu.

Masih di perjalanan, aku teringat Yesus berfirman:

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”

Air mataku semakin tumpah. Aku tak bisa menahannya. Antara gembira dan sedih setelah mengingat firman Tuhan. Ya, selama ini aku melayani mereka yang mempunyai kedudukan, jabatan, dan segalanya (duniawi). Namun, siang itu, aku diingatkan Yesus untuk melayani sekaligus mengasihi mereka yang memang benar-benar membutuhkan.

Ilustrasi pria menangis menyadari kasih yang tepat waktu

Tanda Tanya yang Tertinggal

Keesokan hari dan di hari-hari selanjutnya, tepat di jam yang sama, aku luangkan waktu menunggu bapak itu. Namun, ia tak pernah nampak. Sampai suatu hari, aku duduk di teras rumah. Masih menggelayut di pikiranku wajah bapak itu, dan seketika terlintas pertanyaan: “Siapa bapak itu?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *