YANG TERTINGGAL SETELAH MEMBERI
Oleh: Agus Eko Kristanto
Dalam sebuah laporan global tentang kedermawanan dunia, posisi kita perlahan bergeser—turun beberapa anak tangga dari tempat yang dulu sempat dibanggakan. Kabar itu mungkin tidak mengejutkan, tetapi tetap menyisakan sesuatu yang pelan terasa dan menetap di dalam dada. Padahal, ukuran yang dipakai sesungguhnya sederhana: kesediaan menolong orang asing, kebiasaan memberi atau berbagi, dan kerelaan meluangkan waktu untuk menjadi sukarelawan. Hal-hal kecil yang, jika dirawat bersama, seharusnya cukup untuk menjaga nyala kepedulian. Namun, ada hal lain yang terasa jauh lebih mendesak daripada sekadar angka dan peringkat.
Ketika Kebaikan Membutuhkan Saksi
Ada sesuatu yang pelan-pelan berubah arah. Niat untuk menolong itu masih ada, bahkan mungkin tumbuh semakin subur. Tetapi, cara kita memperlakukan kebaikan rasanya tidak lagi sama. Seolah memberi saja belum cukup jika tidak terlihat. Seolah ketulusan membutuhkan saksi, jejak digital, dan ruang publik untuk ditampilkan.
Beberapa tahun lalu, di sebuah siang yang biasa di sudut kota Surabaya, saya menyaksikan satu peristiwa kecil yang entah mengapa enggan lenyap dari ingatan. Sebuah mobil di depan saya melambat, lalu berhenti di tepi jalan. Perhentiannya yang mendadak membuat laju kendaraan di belakangnya sempat tersendat. Di bawah rindang sebuah pohon, tiga orang tampak sedang beristirahat. Dua orang bapak duduk di atas becak, sementara seorang penyapu jalan bersandar di dekatnya.
Kaca mobil itu terbuka. Sebuah tangan menjulur, mengangsurkan paket sembako. Ketiganya bangkit, mendekat, lalu menerima pemberian itu. Wajah mereka seperti menyimpan banyak hal sekaligus: keterkejutan, rasa syukur, dan mungkin juga sedikit rasa canggung. Sebuah pertemuan singkat antara memberi dan menerima. Saya kira, kisah itu cukup sampai di situ.

Membidik Kamera, Merenggut Sunyi
Namun sesaat kemudian, sebuah suara terdengar dari dalam mobil—lembut tetapi tegas—meminta agar momen itu diabadikan. Ketiga orang itu saling berpandangan sejenak, lalu berdiri menghadap kamera. Paket sembako tetap mereka genggam erat, seperti sebuah penanda bahwa kebaikan sedang berlangsung dan sah secara visual.

Dalam sekejap, bunyi rana memecah hening, merekam momen tersebut. Lalu, semuanya kembali seperti semula. Ucapan terima kasih terdengar pelan. Kaca mobil menutup rapat. Kendaraan itu melaju pergi, meninggalkan jalanan kota yang kembali sibuk dan bising seperti biasa. Namun, tidak semua benar-benar berlalu. Ada sesuatu yang tertinggal. Sesuatu yang tidak tampak oleh mata, tetapi terasa mengganjal di hati.
Menjaga Ruang Sunyi di Balik Derma
Barangkali kita pernah melihat peristiwa serupa. Barangkali juga, tanpa disadari, kita pernah menjadi pelaku di dalamnya. Tak lama kemudian, gambar atau video dari momen seperti itu biasanya beredar di media sosial—entah di Instagram, Facebook, TikTok, atau grup-grup percakapan—disertai takarir yang menyentuh dan niat baik yang ingin dibagikan. Dan hampir selalu, unggahan itu disambut dengan badai pujian.

Tentu tidak ada yang keliru dalam mengajak orang lain untuk berbuat baik. Namun di balik itu, ada ruang sunyi yang perlu kita jaga dengan ketat. Sebab kebaikan, ketika terlalu sibuk ditampilkan, bisa kehilangan arah kompasnya. Ia tidak lagi menjadi sebuah perjumpaan yang setara antar-manusia, melainkan berubah menjadi komoditas yang ingin dilihat, dinilai, dan diakui. Di titik ini, kita mungkin perlu bertanya pada diri sendiri secara perlahan, tanpa tergesa. Ketika kita memberi, apakah kita sungguh sedang memuliakan sesama, atau tanpa sadar sedang menjadikannya bagian dari dekorasi kisah yang ingin kita pamerkan?
Kembali pada Martabat yang Utuh
Pertanyaan itu tidak harus segera dijawab. Cukup disimpan rapat-rapat, seperti benih yang suatu hari dapat bertumbuh menjadi kesadaran murni. Sebab mereka yang kita jumpai di jalanan—para tukang becak, penyapu jalan, pengemudi ojek, pedagang kaki lima, buruh, dan mereka yang bertahan hidup di pinggiran kota—bukanlah bayangan atau figuran yang lewat begitu saja. Mereka bukan latar belakang dari cerita kepahlawanan kita.
Mereka adalah manusia. Dengan martabat yang utuh. Dengan jalinan hidup yang tidak kalah berharga. Dan mungkin, dari sanalah kita perlu memulai kembali. Belajar memberi dalam diam. Menolong tanpa merasa perlu disaksikan dunia. Berbagi tanpa tergesa-gesa untuk menceritakannya.
Sebab kebaikan yang sejati tidak pernah membutuhkan panggung. Ia tumbuh diam-diam, dan menemukan maknanya di dalam hati yang sungguh melihat sesama sebagai manusia.

