Terlalu Cepat, Sampai Kita Lupa Melihat

Ilustrasi motion blur jalanan Surabaya dengan siluet tajam pesepeda sebagai simbol kesadaran di tengah keramaian. Menolak untuk lupa melihat
Spread the love

Terlalu Cepat, Sampai Kita Lupa Melihat
Oleh: Agus Eko Kristanto

Di Balik Deru Angka yang Riuh

Jumlah kendaraan bermotor di Kota Surabaya, Jawa Timur, per Mei 2025 sudah menembus angka 3,81 juta unit. Data dari Electronic Registration and Identification (ERI) Korlantas Polri mencatat bahwa sepeda motor masih mendominasi dengan jumlah sekitar 3,05 juta unit. Sisanya terdiri atas mobil penumpang (573,88 ribu unit), mobil barang (176,97 ribu unit), bus (4.152 unit), dan kendaraan khusus (462 unit).

Di tengah padatnya angka-angka tersebut, muncul satu pertanyaan sederhana: di mana posisi sepeda?

Hingga saat ini, tidak ada data pasti mengenai berapa banyak orang yang setiap hari bersepeda di Surabaya. Namun, dari situ terlihat jelas bahwa sepeda memang belum menjadi pilihan utama. Kendaraan roda dua ini lebih sering digunakan untuk olahraga, rekreasi, atau sekadar perjalanan jarak dekat. Dari situ pula muncul rasa ingin tahu: bagaimana rasanya jika sepeda benar-benar digunakan untuk menunjang aktivitas sehari-hari?

Persiapan di Ambang Pintu

Pagi itu, persiapannya biasa saja. Saya mengenakan baju kerja seperti hari-hari biasanya, sarapan seadanya, lalu bersiap berangkat. Saya sempat mengecek kondisi sepeda, dan ternyata bannya agak kempis. Mau tidak mau, saya harus mengisi angin terlebih dahulu sebelum memulai perjalanan. Setelah urusan ban beres, saatnya melaju.

Foto close-up tangan memeriksa ban sepeda yang kempes dengan nuansa keseharian yang jujur.

Minoritas yang Berbagi Ruang

Perjalanan yang ditempuh sekitar 8,6 kilometer. Jika dikayuh dengan santai, waktu tempuhnya kurang lebih 45 menit. Rutenya melewati jalanan kota yang padat, apalagi pada jam keberangkatan kerja. Di sinilah tantangan mulai terasa.

Bersepeda di jalan raya berarti harus berbagi ruang dengan kendaraan yang lebih besar dan jauh lebih cepat. Kadang muncul rasa was-was. Pada momen itu pula terasa jelas bahwa pesepeda masih menjadi “minoritas” di aspal jalanan. Saya sendiri baru sekali mencoba berangkat ke kantor menggunakan sepeda. Ini bukan sebuah kebiasaan, melainkan sekadar keinginan untuk merasakan sesuatu yang berbeda.

Sudut pandang pesepeda di tengah kemacetan Surabaya dengan efek warna kontras antara sepeda dan kendaraan bermotor.

Menangkap yang Terlewat

Dan ternyata, rasanya memang berbeda. Ini bukan soal seberapa cepat kita sampai di tujuan, melainkan soal cara kita melihat kota. Perjalanan terasa lebih pelan, namun justru lebih meresap. Di atas sepeda, hal-hal kecil menjadi lebih terlihat.

Di antara hiruk-pikuk jalanan pagi itu, ada satu pemandangan yang mencuri perhatian. Seorang tukang becak duduk santai di atas becaknya sambil menikmati gorengan. Wajahnya tampak tenang, meskipun mungkin hari itu belum jelas apakah ia akan mendapatkan penumpang atau tidak. Momen-momen seperti itu biasanya terlewat begitu saja jika kita melaju kencang dengan kendaraan bermotor.

Ilustrasi cat air tukang becak sedang beristirahat menikmati gorengan dalam palet warna hangat terracotta.

Seni Memperlambat Langkah

Tulisan ini bukan tentang gaya hidup. Ini hanyalah cerita dari satu kali percobaan, dan dari situ muncul sudut pandang yang berbeda.

Kadang, kita tidak perlu menjadi yang paling cepat. Cukup menjadi pribadi yang mau sedikit memperlambat langkah agar bisa melihat lebih banyak hal.

Mungkin tidak semua orang harus langsung bersepeda ke kantor. Namun, jika ada kesempatan, cobalah sesekali. Atau jangan-jangan, selama ini kita terlalu sibuk berlari sampai lupa menikmati perjalanan itu sendiri?

Lupa melihat: Foto reflektif jalanan saat golden hour dengan ruang kosong yang luas untuk kesan damai dan tenang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *