Berhenti Meromantisasi Luka

Gambar HP dengan konten Meromantisasi Luka yang dipublis ke media sosial
Spread the love

Berhenti Meromantisasi Luka
Oleh: Christianus Winjaya

Kegelisahan di Balik Meja Kopi

Aku kembali duduk bersama Arga. Ya, ia adalah sosok yang sama dengan lelaki yang pernah kutulis di catatanku Februari lalu. Sosok yang pernah duduk di trotoar depan rumah sakit dengan pikiran yang hampir runtuh, namun berhasil memilih untuk bertahan. Kondisinya sudah jauh lebih baik sekarang, ia mulai menata hidupnya kembali. Namun di pertemuan kali ini, ketenangan yang susah payah ia bangun itu kembali terusik.

Cangkir kopi yang dipegang oleh Arga

Penyebabnya adalah rentetan berita dan konten yang memenuhi linimasa. Ia baru saja melihat informasi yang beredar mengenai peristiwa di Jembatan Cangar pada 31 Maret lalu. Seorang lelaki yang masih 24 tahun, memilih mengakhiri perjalanannya di sana. Kami bertukar pikiran cukup lama tentang hal ini. Arga tampak lebih gelisah dari biasanya. Bukan karena ia goyah, tapi karena ia takut melihat bagaimana narasi publik saat ini seolah sedang menyiapkan “karpet merah” bagi mereka yang sedang rapuh.

Narasi yang Memandu Luka ke Langkah Tepi

“Aku pernah tahu rasanya di posisi itu, Mas Tole.”

Panggilan “Mas Tole” selalu menjadi tanda bahwa ia sedang bicara dari dasar hatinya yang terdalam.

Arga khawatir, romantisasi yang terjadi di media sosial akan membuat seseorang yang sedang berada di titik terendah merasa tervalidasi—bahkan merasa “diizinkan” untuk mengambil langkah yang sama. Baginya, melihat orang-orang membuat tragedi tampak indah dengan taburan bunga, musik sedih, dan narasi ‘pahlawan yang lelah’, itu seperti memberi pembenaran pada kegelapan di kepala kita. Itu seolah mengatakan bahwa menyerah adalah sebuah jalan yang puitis.

Arga memotret bunga layu simbol meromantisasi luka

Dalam ilmu komunikasi dan kesehatan mental, fenomena ini dikenal sebagai Werther Effect. Ketika media atau konten sosial mengemas peristiwa tragis menjadi sesuatu yang puitis atau menggambarkan pelakunya sebagai sosok yang akhirnya menemukan kedamaian lewat cara yang salah, mereka secara tidak langsung sedang mengirimkan sinyal bahaya. Narasi semacam ini memiliki daya tular yang mematikan bagi jiwa-jiwa yang sedang mencari pegangan.

Narasi itu menciptakan ilusi bahwa keputusan untuk berhenti adalah sebuah “estetika”. Mereka yang selama ini merasa tidak didengar, tiba-tiba melihat peluang yang menyesatkan: “Oh, kalau aku melakukannya di sana, aku akan dapat bunga. Aku akan dapat simpati. Akhirnya, duniaku yang sepi akan menjadi ramai diperbincangkan.” Kepedulian yang datang terlambat itu, jika dipoles dengan bumbu estetika, justru bisa berubah menjadi undangan bagi mereka yang masih ragu di tepi jurang.

Kalah Telak oleh Bisingnya Linimasa

Ini mengerikan. Karena simpati yang diberikan lewat konten estetik tidak pernah benar-benar sampai kepada mereka yang telah pergi—ia justru berubah menjadi “umpan” bagi mereka yang sedang mencari alasan untuk berhenti berjuang.

Dan benar saja, hanya dalam hitungan minggu, kekhawatiran Arga mewujud menjadi sebuah pembuktian yang pahit.

Firasatnya tentang bahaya romantisasi itu menjelma nyata pada 23 April kemarin. Lagi-lagi seorang lelaki muda, di tempat yang sama, dengan pola yang mulai terasa serupa. Seolah-olah “karpet merah” narasi yang kita bentangkan di linimasa benar-benar telah memandu satu jiwa lagi menuju tepi jembatan itu.

Ada sebuah kesamaan yang membuat dadaku sesak saat melihat rekaman peristiwa yang beredar. Sama seperti Arga yang dulu pernah disapa oleh orang asing saat duduk di trotoar, korban kedua ini pun sempat disapa oleh orang asing di atas jembatan itu. Namun, ada perbedaan besar di sana.

Sapaan yang diterima Arga dulu adalah sebuah “gangguan kecil” yang berhasil menariknya pulang. Namun kali ini, sapaan itu gagal. Seolah-olah, suara orang asing yang mencoba peduli itu kalah telak oleh suara bising di media sosial yang selama berminggu-minggu meromantisasi jembatan tersebut sebagai tempat “istirahat” yang syahdu. Ketika sebuah tragedi sudah telanjur dikemas sebagai estetika, upaya penyelamatan manusiawi terkadang kehilangan kekuatannya.

Arga melihat kembali pesan dari Pak Wili

Sejujurnya, kami sempat ragu untuk menuliskan ini sekarang. Ada ketakutan jika tulisan ini hanya akan menjadi bagian dari kebisingan yang sedang ramai mencari panggung. Namun, melihat bunga-bunga yang diletakkan di sana bukan sekadar tanda duka, melainkan properti konten yang dipoles agar terlihat haru, kami merasa diam adalah sebuah pengkhianatan terhadap kemanusiaan.

Gangguan Kecil yang Menyelamatkan

Kita perlu berhenti meromantisasi keputusasaan. Kita perlu berhenti membuat keputusan untuk menyerah terlihat seperti solusi yang syahdu bagi beban-beban yang tak terucap. Laki-laki tidak butuh narasi yang memaklumi mereka untuk menyerah; mereka butuh dunia yang menghargai mereka saat mereka masih berjuang untuk tetap tegak.

Menaruh bunga di jembatan mungkin terlihat peduli, tapi menyapa kawan yang sedang merokok sendirian dengan wajah kusam di trotoar—jauh sebelum mereka sampai di tepi jembatan—adalah tindakan yang jauh lebih menyelamatkan. Menghargai mereka yang bertahan dalam kemacetan, utang, dan kegagalan—tanpa perlu mereka menjadi martir terlebih dahulu—adalah bentuk dukungan yang sesungguhnya.

Keselamatan sering kali tidak datang dalam bentuk besar. Ia datang sebagai gangguan kecil yang membuat kita tidak jadi melangkah. Jangan biarkan gangguan-gangguan kecil itu hilang tertutup oleh indahnya narasi tentang menyerah. Sapaan itu harus terus ada, jauh lebih kencang dari narasi apa pun di layar ponsel.

Karena pada akhirnya, kemenangan yang paling nyata bukanlah saat kita dikenang dengan bunga di jembatan, melainkan saat kita masih memilih untuk menghirup napas, meski sesak, untuk satu menit lagi.

Arga diselamatkan lewat sapaan orang asing

Upper Room, 25 April 2026, 00:54 WIB
— Tian & Arga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *