Resolusi Itu Cita-cita

Spread the love

Semasa di bangku sekolah dasar, sering beberapa orang dewasa, termasuk guru-guru kita, mempertanyakan apa cita-cita kita. Kebanyakan, jawaban kita adalah menjadi dokter, guru, pelaut, tentara, atau polisi. Ini lumrah. Sebab pada masa itu atau semasa saya sekolah dasar, tidak ada profesi yang lebih mentereng selain yang saya jabarkan di atas. Jarang yang menjawab agak berbeda. Misalkan menjadi wirausaha, volunteer, pengabdi masyarakat, aktivis, penulis, wartawan, presiden dan seterusnya.

 

Satu kawan kecil saya beruntung menjadi tentara di Angkatan Laut. Beberapa hilang kabar. Beberapa hanya menjadi pegawai. Semua pekerjaan mereka sekarang tidak terkait sama sekali dengan cita-cita mereka di sekolah dasar. Dan akan selamanya begitu.

 

Betapa pentingnya suatu cita-cita bagi seorang manusia seperti sepenting manusia itu butuh makan dan berpakaian. Cita-cita tersebut besar nilainya bagi kehidupan manusia itu sendiri. Cita-cita membuat manusia lebih waras (hidup) jika beruntung. Atau membuat manusia jadi gila (mati) jika sial. Keduanya adalah proses untuk diterima.

 

Dalam sejarah dunia parah tokoh-tokoh besar membuat banyak perubahan revolusioner bagi kehidupan manusia. Salah satu sebab personal adalah adanya cita-cita besar untuk membuat perubahan. Sesuatu yang tak tampak tapi kita rasakan dan pikirkan setiap saat. Kisah menarik dari sejarah terciptanya alat pemecahan kode-kode algoritma oleh Alan Tuhring, misalnya, yang berdampak besar bagi dunia sampai sekarang.

 

Ia adalah seorang dosen di Cambridge dan ahli di bidang matematika. Pada masa perang dunia ke-2 ia mendapat misi militer super rahasia dari Kerajaan Inggris untuk memecahkan kode Enigma pasukan Jerman, dengan motif kemanusiaan dan kebenciaannya pada kekerasan perang. Kewajiban itu ia tanggung di usia 27 tahun. Berwatak sombong dan percaya diri, lebih tepatnya idealis, ia berhasil membuat sebuah alat yang dapat mengenskripsi kode enigma Jerman.

 

Alat yang diciptakan bersama tim kecilnya secara tak disadari berhasil mempersingkat perang hanya dua tahun. Di sisi lain dengan adanya mesin itu, ia telah menyelamatkan 14 juta jiwa manusia dengan mengantisipasi rencana-rencana penyerangan pasukan Jerman.

 

Meski hasil kerja keras Tuhring membuahkan hasil, proses yang ia jalani tidaklah mudah. Dengan wataknya yang idealis dan introvert, teman-teman team membencinya. Tak luput tekanan komandan, di fitnah sebagai mata-mata sebab sifatnya yang berbeda dengan temannya yang lain. Lebih parah adalah mendapat stigma homoseksual. Tembok-tembok penghalang demikian bukan tidak mungkin juga akan kita alami saat menggapai cita-cita.

 

Uniknya, alat yang diciptakan Tuhring dan team kecilnya sekarang ternyata tersimpan di komputer-komputer kita dirumah. Tentu dengan bentuk yang lebih efisien. Kisah selebihnya bisa disaksikan dalam film The Imitation Game.

 

Sebelum beranjak jauh, saya ucapkan selamat natal 2019 dan selamat tahun baru 2020. Setahun terlewati sedangkan setahun di depan menunggu untuk kita hadapi.

 

Bertebaran resolusi-resolusi yang positif di sekitar dan media sosial saya. Cukup bermacam resolusi. Sebagian adalah resolusi usang. Yang saya maksudkan adalah resolusi yang terus diulang-ulang setiap pergantian tahun. Biasanya resolusi ini milik seorang jomblo akut dan seorang yang hidup hanya dari mimpi. Mimpi jadi sukses dan hebat. Normatif. Tapi tak mengapa. Resolusi adalah kata lain dari cita-cita, maka itu usahakanlah dengan maksimal.

 

Seorang kawan semasa remaja dulu pernah menanyakan pada saya, apa cita-cita saya. Saya jawab kalau saya tidak memilikinya. Saya tambahkan dengan “cukup jalani saja seadanya hidup ini.” Kawan saya tercengang mendengarnya. Dia menimpalinya dengan wejangan. Intinya, jika saya sama sekali tidak mempunyai cita-cita maka hidup saya tidak akan bergerak kemana-mana. Alias tidak bergairah untuk hidup.

 

Saya tidak mempedulikan wejangannya. Sampai beberapa tahun setelah itu, ketika saya merasa hidup terlalu stagnan untuk dijalani, yakni bekerja dan dapat gaji, saya mengingatnya lagi.

 

Kawan saya itu benar. Lalu, saya coba bertanya pada diri sendiri, “benar, apa cita-citaku?”. Saya tetap tidak menemukannya. Saya sempat linglung beberapa lama sebelum bertemu anak-anak dan relawan di Sanggar Merah Merdeka.

 

Dari sana, saya mendapat banyak semangat hidup dalam bentuk tanggung jawab yang saya jadikan cita-cita untuk saya gapai. Bahkan, terlalu banyak cita-cita untuk saya sebagai pribadi dan untuk mereka yang harus saya pilah satu demi satu. Hal itu membuat saya merasa lebih bersemangat melakukan sesuatu. Saya jadi bisa bergerak kemana-mana. Wejanganmu ganas, kawan. Terimakasih.

 

Pada prosesnya, tembok penghalang untuk menggapai itu ada. Dan ingat, bukan hanya kerikil tapi bisa juga paku yang menusuk kaki memuncratkan darah segar. Cita-cita dan rasa sakit berjalan bersamaan, seperti yang dialami oleh Alan Tuhring. Tidak bisa tidak. Namun, hasil yang di dapat akan memuaskan jika perjuangan-perjuangan itu bermotifkan kebaikan diri dan orang lain.

 

Itu semua karena cita-cita. Harapan Ada dikarenakan adanya cita-cita. Cita-cita Ada dikarenakan adanya manusia yang tidak pernah berhenti berefleksi.

 

Maka dari itu, kawan-kawan sekalian berbahagialah kalian yang mempunyai resolusi di setiap tahun yang baru. Sebab tanpa resolusi atau cita-cita, kalian tidak akan bergerak kemana-mana. Selain diri kita butuh berubah terus menerus, alam di sekelilingi kita juga butuh sentuhan tangan kita. Singkat cerita, temukan cita-cita Anda dan tabrak semua penghalangnya.

 

Oleh : Darius Tri Sutrisno

Dimuat dalam buletin Fides Et Actio edisi No.117, Maret 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *