Namanya Toni Andika

Pocket

Penampilan anak itu terlihat dekil. Kulitnya menghitam karena terus-terusan kena sinar matahari. Tapi aku heran mengapa baunya selalu wangi jika di sebelahku dan giginya selalu terlihat putih bersih, juga rapi. Tidak mungkin dia pelanggan tetap di klinik spesialis kecantikan gigi. Toh dia hanya rajin gosok gigi.

Panggilan sehari-harinya Toni. Ia putus sekolah. Tidak bisa baca dan sekaligus susah berhitung. Usia sekitaran 11 sampai 12 tahun. Putus sekolah ketika kelas tiga SD. Tidak tahu mengapa. Maksudku tidak tahu siapa orang dewasa yang lalai dari tanggung jawabnya mengurus dia. Aku masa bodoh soal ini hanya mencari tahu sepotong-sepotong.

Desas-desus memberitakan bahwa orang tuanya masih hidup tapi tidak tinggal bersamanya. Ibunya entah kemana. Dia tinggal tepat di belakang di salah satu stasiun tertua di kota Surabaya, yakni stasiun wonokromo. Dia tinggal di dalam ruangan dengan ukuran kurang lebih 2 kali 3 meter persegi. Perabotannya biasa saja. Satu lemari besar dan kasur dengan dipan model lama. Di bawah dipan terdapat kolong yang cukup luas. Ternyata di sana tempat Toni biasanya tidur, menyimpan barang kesukaan termasuk buku-buku pelajaran dan alat tulis.

Sekaraang dia hidup, makan, tidur, bersenandung kecil dan tertawa hanya bersama dengan Emak yang ialah ibu asuhnya. Ditambah dengan cacaknya (sebutan untuk kakak laki-laki dalam bahasa Madura). Cacak ini anak dari ibu asuhnya.

Kesehariannya hanya bermain dan bermain sepuas hati. Kadang emaknya putar-putar kampung mencarinya. Maklum, sudah akan maghrib karena biasanya dia harus mengaji lalu belajar di sanggar yang kebetulan juga denganku.

Aku dan Dia Berguna

Di tahun keduaku di sanggar, aku mendapat jatah khusus yaitu mengajari Toni membaca. Dengan pengecualian secara privat di rumahnya. Pengalaman ini berkisar dua tahunan yang lalu.

Sebetulnya lupa mengapa harus aku. Seingatku, selain tugas dari Romo Wawan, kordinator sanggar waktu itu, ada hal mendasar lain – sebuah misi, mungkin.

Bagaimana aku harus memulai Bahasa Indonesia untuknya? Apa yang harus kuberikan padanya? Tenang, justru aku tidak menyiapkan apa-apa. Aku tak menyiapkan materi apapun. Bahkan alat tulis untuknya. Ini kelinglungan yang jujur bukan?

Anehnya, dengan begitu semuanya jadi awal yang riang. Betapa tidak, coba Anda bayangkan. Aku justru mengawalinya dengan sesi curhat. Aku cerita dia tertawa dan ketika dia cerita aku tahu dia berbohong lantas kami sama-sama tertawa.

Akhirnya keputusanku bulat. Aku awali semua materi pelajaran dengan sesi curhat. Tentang apa saja yang mutlak untuk ditertawakan. Salah satu contohnya tentang topik ketika Toni sedang naksir anak gadis dari RT sebelah tapi kasian tak dianggap.

Kami sepakat bertemu dalam dua kali seminggu. Kali kedua, materi lumayan matang. Macam-macam metode belajar digunakan. Karena sejatinya anak seperti Toni memang spesial. Maka itu anak yang spesial butuh pembelajaran khusus. Coba Anda buktikan sendiri.

Kira-kira sebulan telah lewat. Hari ke hari tidak ada penurunan sama sekali dari proses belajarnya. Paling kendala teknis seperti dia bolos, secara umum baik-baik saja. Dia sudah bisa baca sekarang. Meskipun tidak secepat membaca selayaknya kutu buku atau selayaknya kecepatan daya pengindera seorang filsuf. Tapi seenggaknya dia tahu huruf, bahkan diacak sekalipun. Dia tahu dan dia siap lebih jauh lagi, yakinku.

Ini bukan tanpa konsekuensi. Setelah bisa baca dia agak “sombong”. Memberi tahu kebanyakan orang yang dia temui bahwa dia sudah bisa baca. Dan lebih mengagetkan lagi, dia lebih rajin menulis, yang sayangnya menulis (corat-coret diksi percintaan) di tembok-tembok tetangga. Ternyata dia anak yang suka pamer kelebihan. Lucu nan layak dimasukan dalam memori.

Kemauannya belajar besar tapi realitas memintaku dengan kasar dan berkata, “sementara cukup”. Aku meminta maaf atas hal ini. Aku masih berhutang membacakan pusisi, bermain pantun, berjalan-jalan sembari belajar, bersama mencari lokasi untuk mendongeng, dan mengajari Toni bermain gitar.

Hampir tidak bisa dipercaya, faktanya aku ada gunanya. Begitu juga Toni. Perawakanmu selalu berguna untuk menambah daya perang mesin yang suatu saat akan aus karena kehabisan tenaga ini. Aku usahakan membayar lunas hutang itu dengan berlipat ganda.

Oleh : Darius Tri Sutrisno

Dimuat dalam buletin Fides Et Actio edisi no.108, Juni 2019

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: