Setitik kemanusiaan di sudut Kota Pahlawan

Pocket

Surabaya, sebuah kota metropolitan yang di dalamnya berdiri kokoh gedung-gedung pencakar langit, kota yang juga menyimpan kenangan tentang perjuangan para pahlawan. Kunjungan kami ke kota ini bukan untuk menikmati kemegahan dan kenyamanan yang ada, bukan pula untuk mengenang kembali cerita dan kisah heroik para pahlawan. Kami, para postulan Kongregasi Misi pergi untuk melihat dan mengenal lebih dalam kisah dan perjuangan pahlawan masa kini. Pahlawan yang sungguh-sungguh ada walau tak dianggap keberadaannya. Bagi kami, merekalah sosok pahlawan milenial, pahlawan kemanusiaan.

Kami berkunjung ke salah satu karya Yayasan Kasih Bangsa Surabaya, yaitu Sanggar Merah Merdeka yang terletak di daerah Wonokromo tepatnya di Kampung Tales. Di sore hari yang mendung kami tiba di sanggar dan disambut oleh Rm. Ignas Suparno, Rm. Novan, dan beberapa relawan sanggar. Lokasi sanggar terletak di antara perumahan dan sebuah kampung yang terkesan kumuh dan kotor. Di sanggar ada beberapa mahasiswa Universitas Darma Cendika yang sedang menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN). Mereka bertugas untuk mengunjungi dan mengetahui kehidupan masyarakat di kampung itu. Kami menyempatkan waktu untuk saling berbagi cerita bersama mereka, banyak pengalaman menarik yang kami dapatkan. Mereka sangat bahagia dan bersyukur dapat menjalani tugas di sana. Mereka bercerita bahwa bukan hanya sekadar informasi yang mereka dapat, tetapi juga nilai dan arti dari sebuah kehidupan. Dimana semuanya itu mengajarkan mereka untuk bisa mengerti bagaimana keadaan orang miskin, bukan hanya mengetahui tetapi juga ikut merasakan apa yang mereka rasakan.

Tak cukup hanya mengetahui kisah Kampung Tales hanya melalui cerita. Kami pun bergegas bersama para mahasiswa untuk menyusuri kampung tersebut. Kami dibagi beberapa kelompok dan berpencar ke setiap sudut kampung. Kami  mengunjungi rumah warga dan berkeliling melihat situasi yang terjadi di sana. Saya bersama tiga orang teman dan dua orang mahasiswi memutuskan untuk pergi mengunjungi rumah warga. Saya mendengarkan cerita dari seorang ibu yang sangat humoris dan bersemangat. Sehari-harinya ia bekerja membuat dupa. Ia memiliki dua orang putri yang juga ikut belajar di sanggar. Beliau menceritakan kisahnya dengan sangat antusias dan membuat saya tertawa. Sekitar 45 menit saya menghabiskan waktu bersama ibu itu. Ketika perjalanan kembali ke sanggar saya melihat ke sisi barat kampung, nampak gedung Royal Plaza yang sangat mewah dengan cahaya kemilaunya. Sangat menunjukkan kemegahan suatu kota. Saya berjalan lagi, dan nampak kembali oleh saya pemandangan fly-over yang menakjubkan. Di kampung yang kumuh, kotor, bau, becek, dan ditinggali oleh orang-orang miskin nampaklan suatu kemegahan kota yang seakan-akan menutupi realita kehidupan yang miris di kampung itu. Saya hanya bisa menikmati pemandang itu dengan hati penuh tanya. Kok bisa ya mereka tinggal di tempat seperti itu, sedangkan di luar sana banyak tersedia fasilitas mewah yang mungkin akan membawa kehidupan yang lebih sejahtera bagi mereka. Apalah daya mereka, hanya rakyat miskin dan tak bisa apa-apa.

Bagi saya, kehadiran sanggar di tengah-tengah mereka adalah sebuah motivasi untuk terus bersemangat dan berjuang dalam menjalani hidup. Orang tua boleh miskin, hidup yang serba berkecukupan, tetapi anak-anak mereka harus lebih dari itu. Anak-anak kampung itu harus bisa keluar dari keadaan kampung yang kacau, penuh kehidupan yang tidak pantas. Mereka harus dibekali semangat dan motivasi untuk bisa mandiri dan terhindar dari kemiskinan yang terus menggerogoti kehidupan masa kecil mereka. Untuk itulah sanggar hadir, menjadi suluh yang akan membawa mereka pada jalan kehidupan yang lebih berarti. Sehingga bagi anak-anak kampung kehadiran para pahlawan sungguh-sungguh mereka rasakan. Bukan hanya sekadar mendengar kisah para pahlawan yang gigih memperjuangkan tanah air terlebih kota kelahiran mereka, tetapi mereka sungguh-sungguh bisa merasakan kehadiran para pahlawan itu. Pahlawan yang selalu memberikan mereka rasa dicintai, rasa dikasihi, dan diperhatikan.

Tak hanya bagi anak-anak kampung. Kehadiran sanggar dan orang-orang yang ada di dalamnya juga membawa pengaruh bagi masyarakat. Setidaknya bagi mereka masih ada orang-orang yang peduli, masih ada orang yang mau mendengarkan, masih ada yang mau menjadi tempat bagi mereka untuk berkeluh kesah, dan masih ada orang-orang yang rela menghabiskan waktu bersama mereka. Sehingga mereka masih menggangap diri mereka adalah orang yang layak untuk dicintai, walaupun miskin sekalipun.

Oleh : Richardo Rillyanugraha (Postulat CM)

Dimuat dalam Buletin Fides Et Actio edisi No. 106, April 2019

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: