Puasa Empati! Puasa Solider!

Pocket

Makan satu kali dalam satu hari hanya pada siang hari. No ngemil. Hanya minum air putih, tidak yang berasa dan berwarna. Itu tekad yang aku ambil selama hari-hari pantang dan puasa dalam masa Retret Agung Prapaskah ini. Bukan pantang daging, karena aku sudah sering nggak makan daging. Itu terlalu mudah buatku. Maklum, nasib anak kos hehehehe… Wah kok jadi curcol. Setiap hari aku nggak bisa kalau nggak ngemil, maka aku ambil tantangan itu.

Hari pertama pantang dan puasa adalah pada hari ini, kami umat Katolik menyebutnya Hari Rabu Abu. Kemarin malam sebelum tidur aku mengingatkan diriku sendiri, besok pagi puasa, nggak usah masak. Bangun tidur pagi hari ini juga kembali kuingatkan diriku sendiri, pagi ini nggak usah sarapan. Takut aja kalau tiba-tiba tangan ini otomatis meraih camilan yang sudah ready nangkring di atas meja hehehehe…

Sampai siang hari situasi masih terkendali hingga waktunya buka puasa tepat pada jam makan siang. Menjelang sore pertahanan mulai goyah. Melihat postingan foto makanan yang berseliweran di grup WhatsApp dan beranda Facebook rasanya begitu menderita. Nggak berani menatap lama-lama. Menjelang malam, fisik mulai berontak. Perut keroncongan dan kembung. Kepala senut-senut. Aku kelaparan, bro and sis…huhuhuhu. Entah mengapa puasa kali ini terasa berat tidak seperti biasanya.

Aku hibur saja lambungku dengan minum air putih. Aku alihkan perhatianku dengan menyibukkan diri dengan ponsel pintarku. Rasa kantuk tak juga datang. Ahhh…

Berbaring saja aku di pembaringan. Menikmati rasa lapar dan efek sampingnya sambil merenung. Inikah yang dinamakan menahan diri? Mengalahkan diri sendiri?

Tiba-tiba aku terhenyak. Begini rupanya rasanya orang kelaparan. Belum 24 jam saja rasanya seperti ini. Bagaimana kalau sampai berhari-hari?

Ya!!!

Dengan pantang dan puasa kita tidak hanya diajak untuk menaklukkan diri sendiri, mengalahkan hawa nafsu. Tapi juga mengasah kepekaan dan kepedulian kita terhadap sesama yang kurang beruntung. Yang untuk makan saja sulit. Dengan pantang dan puasa kita diajak untuk bisa lebih empati dan solider terhadap penderitaan sesama.

Kalau biasanya kita begitu mudah membuang-buang makanan dan rela merogoh kocek dalam-dalam untuk membeli makanan dan barang mewah yang super mahal, bagaimana dengan mereka yang sampai mati kelaparan? Ironis bukan? Ini tragedi kemanusiaan menurutku!!!

Memang itu uang kita sendiri dan kita berhak membelanjakannya sesuka kita. Namun bagaimana tanggung jawab moral kita terhadap sesama makhluk ciptaan Allah?

Terima kasih perut keroncongan!!! Terima kasih kepala senut-senut!!! Terima kasih rasa lapar!!!

Terima kasih puasa empati. Terima kasih puasa solider.

Oleh : Luciele

Dimuat dalam buletin Fides Et Actio edisi 106, April 2019

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: