KITA BERJALAN MENUJU KEMATIAN

Pocket

Jika kelahiran adalah awal dari kehidupan kita maka kematian adalah akhir kehidupan kita. Seperti matahari yang terbit dari timur dan tenggelam di barat maka kita pun sedang mengarungi angkasa untuk tenggelam di barat. Kematian adalah sesuatu yang pasti dalam kehidupan kita, tetapi sering berusaha menolak atau enggan memikirkannya. Kita takut untuk memikirkan kematian sehingga kita melupakan. Kita terkejut saat kematian itu sudah diambang mata.

 

Kita enggan memikirkan kematian sebab kata seorang filsuf kematian itu seperti kita meloncat dari sebuah jendela pada malam hari. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Padahal kita membutuhkan kepastian, kejelasan sehingga dapat membuat rencana. Sebagai orang beriman, agama mengajarkan adanya surga dan neraka. Itulah tujuan kita selanjutnya. Tetapi mungkin karena masih kaburnya pemahaman surga dan neraka, maka kita masih enggan mempersiapkan. Hal ini berbeda jika misalnya kita tahu akan pergi ke kutub. Kita sudah dapat membayangkan dari cerita orang yang pernah kesana dan dari berita yang kita terima apa yang akan kita alami di kutub, maka kita mempersiapkan diri. Membawa bekal baju hangat dan sebagainya. Persiapan kita pasti berbeda jika kita akan pergi ke Sahara.

 

Pada masa advent ini kita diingatkan akan akhir hidup kita. Kematian dapat datang kapan saja. Tanpa memberitahu kita apalagi bertanya apakah kita sudah siap atau tidak. Kita hanya terkejut saat kematian sudah dekat. Seperti saat orang tenggelam pada jaman Nuh. Maka seruan advent yang pertama adalah berjaga-jaga, sebab kematian semakin dekat. Kita bukan menjauh dari kematian melainkan mendekatinya.

 

Dalam berjaga bukan berarti kita duduk diam saja sambil menanti kematian, tetapi menurut saya ada dua hal. Pertama adalah bertobat. Dosa adalah perbuatan yang membawa kita menjauh dari Allah. Maka bertobat adalah melakukan perbuatan yang mendekat pada Allah. Perbuatan mendekat pada Allah adalah perbuatan kasih, sebab Allah adalah kasih. Seperti kita ketahui kasih itu pada Allah, diri sendiri dan sesama. Yakobus menulis bagaimana kamu dapat mengasihi Allah yang tidak tampak bila tidak mampu mengasihi sesamamu yang tampak. Ukuran kasih kita kepada Allah adalah kasih kepada sesama. Maka dalam pertobatan kita melakukan banyak perbuatan kasih.

 

Kedua, memohon ampun atas segala dosa yang telah kita lakukan. Memang kita tidak bisa mengulangi masa lalu kita. Apa yang sudah terjadi ya sudah terjadilah. TIdak bisa diralat atau dihapus atau diulangi lagi. Kita berjalan linear bukan sirkular, kecuali kita mempunyai lorong waktu atau kita adalah pejalan waktu yang bisa menembus waktu masa lalu. Dosa-dosa yang sudah kita lakukan kita akukan dalam sakramen tobat. Bukan meminta imam untuk mengadili seperti kita adalah pesakitan yang harus dihukum, sebab sakramen tobat adalah sakramen kasih dimana Allah menunggu anaknya untuk kembali, seperti kisah anak hilang. Dia menyesali telah berdosa terhadap surga dan bapa. Sayangnya masih banyak umat Katolik yang alergi terhadap sakramen pengakuan dosa atau memang tidak menyadari dosa-dosanya, sehingga sakramen pengakuan dosa sering dihindari. Maka dalam masa advent ini hampir semua gereja mengadakan sakramen pengkuan dosa agar umat dapat mengakukan dosanya. Hal ini bukan pada saat Natal nanti kita tidak menanggung dosa tetapi diharapkan pada saat mati nanti kita seperti penjahat yang berada disisi Yesus. Masuk dalam firdaus sebab mengakui dosa-dosanya dan memohon ampun padaNya.

 

Maka masa advent adalah masa kita diingatkan akan kematian kita yang dapat datang kapan saja. Nanti pada masa Paskah kita diingatkan janji kebangkitan badan kita pada akhir jaman. Jadi gunakan masa advent sungguh untuk merefleksi diri dan hanya fokus pada pesta Natal saja.

 

Oleh : Rm. Gani Sukarsono CM

Dimuat dalam buletin Fides et Actio edisi No.78, Desember 2016

Please follow and like us:
0

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: