KAMI TAK PERNAH DISAPA

Pocket

Raut wajahnya tampak memucat. Tidak kelihatan kegembiraan terpancar, sepertinya dia sedang menahan rasa sakit di tubuhnya. Beberapa kali dia berusaha untuk mengubah posisi duduknya. Kadang kedua lututnya diangkat agar dapat meletakkan dagu di atasnya. Sesekali dia memandang ruangan rumahnya. Tampak tumpukan beberapa potong pakaian yang sobek dan mulai kumal di dua sudut rumah. Di tengahnya dipasang tiga kelambu yang digantungkan saja dengan tali. Tidak ada kasur di dalamnya, hanya potongan kardus, kain untuk membungkus badan pada saat tidur, dan sebuah bantal yang warnanya mulai tidak jelas. Agak ke tengah ada tungku api, dengan tumpukan sagu yang diletakkan di atas pelepah pohon sagu, sebuah tandan pisang dan beberapa tempat masak, piring, sendok dan gelas. Istrinya sedang duduk di antara tiga kelambu. Wajahnya terus membungkuk, sorot matanya memandang bayi kecil yang sedang dipangkunya. Wajahnya terus memandang bayi yang ada di gendongannya. Beberapa kali ia mengangkat wajahnya, namun sorot matanya selalu memandang keluar. Tampak kosong. Mungkin ia sedang memikirkan sesuatu? Sedangkan tiga orang anaknya yang lain duduk berdekatan denganku. Itulah keluarga Yakob, salah satu umat yang tinggal di paroki, tempat saya bertugas.
“Kami tidak pernah disapa”, kata Yakob membuka pembicaraan seolah-olah memecah keheningan di rumahnya. “Kami tinggal di tengah komunitas ini, tetapi kami merasa seperti terisolasi. Tidak ada orang yang mengunjungi kami lagi, duduk bersama kami dan mendengarkan senandung kisah tentang kehidupan kami. Kami hanya mendengar senandung kegembiraan di samping tetangga kami yang asyik menikmati minuman kalau menerima gaji atau uang hasil kompensasi tanah atau kompensasi dari perusahaan. Ketika kami merasa jenuh dan bosan, kami memilih pergi ke pasar atau duduk di pinggiran jalan bersama dengan orang-orang disana. Tetapi kehadiran kami tidak memberi arti bagi mereka”. Kata Yakob lebih lanjut kepadaku. Saya hanya diam saja dan mencoba mendengarkan dengan penuh perhatian. Dalam hatiku, saya mencoba berpikir mungkin ada sesuatu yang terjadi pada keluarga ini. Namun, saya tidak berani bertanya apa yang menjadi penyebab orang-orang di sekitar komunitasnya tidak pernah menyapa mereka.

 

Lemahnya kepedulian
“Ayah dan ibu kami sakit sudah sekian lama. Sejak itu keluarga kami tidak pernah disapa dan membuat kami tidak pernah datang lagi ke gereja”. Kata anaknya yang tertua mencoba menjelaskan kepadaku. “Orang-orang disekitar ini memandang kami dengan rendah, karena kondisi kehidupan kami. Namun bagaimanapun juga mereka adalah orang tua kami”. “Apa karena alasan itu membuat mereka menjauh dari keluarga kalian”. Tanya saya kepada anak itu. Wajah anak itu menunduk tatkala kutanya kepadanya. Mungkin dia sedang menyusun jawaban yang lebih bijaksana kepadaku. “Pengaruh modernisasi membuat orang-orang hidup dalam budaya individualisme. Uang adalah segala-galanya bagi mereka. Budaya kami mulai tersingkirkan, karena uang memberi warna baru bagi pola hidup orang-orang di kampung ini. Sebelumnya kami hidup dalam suasana berbagi bersama, duduk bersama. Di mana-mana orang berkumpul dalam jumlah yang kecil, disitu dapat ditemukan ibu-ibu, bapak-bapak juga termasuk anak-anak sedang bermain judi. Di sudut-sudut rumah kecil untuk kantin, ada beberapa anak muda dan bapak-bapak sedang duduk bersama, namun di situ bukan lagi perayaan berbagi kegembiraan, tetapi di situ karena ada minuman bir. Sebenarnya uang sangat diperlukan bagi kehidupan orang-orang ini, seandainya mereka menggunakannya secara bijaksana. Namun kenyataan sungguh sangat jauh. Imbasnya adalah orang tidak lagi peduli dengan kehidupan orang lain yang menderita”. Kata anaknya mencoba menjelaskan kepada saya. Saya hanya menganggukkan kepala saja.
Secangkir air dingin
Paus Benediktus XVI dalam ensikliknya “Caritas in Veritate” menulis, “salah satu bentuk kemiskinan seseorang yang paling mendalam adalah pengalaman merasa terisolasi”. Kemiskinan bukan lagi karena ketiadaan pakaian, atau ketiadaan makanan atau pun karena ketiadaan rumah, tetapi kemiskinan karena merasa tidak perhatikan, tidak disapa, tidak dicintai dan merasa diasingkan dari komunitas. Dengan kata lain, pengalaman di mana orang merasa tidak dihargai, dan tidak diinginkan kehadirannya di tengah masyarakat. Orang tidak lagi peduli dengan keberadaan mereka. Dalam nada yang sama, Ibu Teresa pernah berkata, “kemiskinan yang paling mengerikan adalah kesepian, dan merasa tidak dicintai. Penyakit terbesar dewasa ini bukanlah penyakit kusta atau TBC, tetapi lebih dari itu perasaan tidak dihargai, dan tidak dicintai”.
Kemiskinan jenis seperti ini tidak dapat ditanggapi dengan sesuatu yang bersifat teknis, melainkan harus ditanggapi dengan meminta sebuah hati yang mampu menyapa kebutuhan mereka baik secara jasmani maupun rohani. Kesediaan hati yang demikian menggemakan kegembiraan, harapan, duka dan kecemasan orang-orang jaman sekarang, adalah harapan, kegembiraan, duka dan kecemasan kita juga.
Seminggu kemudian saya mulai melihat wajah Yakob dan anak-anaknya datang ke gereja, sedangkan istrinya tidak pernah datang bersama mereka. Bahkan setiap hari minggu saya selalu melihat wajah Yakob dan anak-anaknya di dalam gereja. Yakob berkali-kali memberi senyum ketika saya menyapanya di halaman gereja. Seorang umat berkata kepadaku bahwa keluarga Yakob adalah keluarga yang menderita penyakit. Saya mengerti, karena tubuh mereka penuh dengan penyakit kulit (sapoma) yang membuat tubuh mereka bersisik. Namun umat tersebut menjelaskan lebih lanjut bahwa bukan karena penyakit kulit itu, tetapi karena mereka mengidap penyakit tertentu yang sangat berbahaya. Kini saya mengerti mungkin penyakit inilah yang membuat orang-orang tidak menyapa mereka lagi. Mungkin penyakit jenis inilah yang membuat orang-orang tidak lagi bersahabat dengan mereka, dan mengisolasikan mereka.
Ketika malam mulai mendekap dalam kesunyiaan yang membisu, saya ingat seorang sahabat membagikan pengalamannya melayani orang miskin. Ia berkata motivasi kita melayani orang lain adalah sangat sederhana yakni “memberi secangkir air dingin dalam nama Yesus”. Gema ini mirip seperti yang ditulis Jean Vanier dalam bukunya (“Our Life Together, A Memoir in Letters, Darton, Longman & Todd, 2008)., “aku menemukan lebih dan lebih bahwa orang-orang miskin dan yang tersingkirkan merupakan tanda kehadiran Allah. Maka turunlah dari tangga dan bersahabat dengan orang yang menderita dan yang tersingkirkan”. Ini menuntut karya cinta kasih harus dilakukan, karena menurut ensiklik Caritas in Veritate, “cinta kasih adalah hati dari ajaran sosial Gereja”.
Oleh: Rm. Mans Werang, CM

Imam CM Indonesia yang berkarya di Keuskupan Kiunga, Papua Nugini. Kumpulan renungannya bersama Rm Edi Prasetyo CM telah dibukukan (I Like It – Kisah-Kisah Bermakna Cita Rasa Papua New Guinea) dan mengalami cetak ulang.

Please follow and like us:
0

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: