ANAK KECIL DAN HUJAN

Pocket

Sore ini kembali aku merasakan kalau ruang kerjaku mulai gelap dan hawa dingin mulai datang. Yap, dugaanku benar, tak lama kemudian hujan deras turun di luar sana, sambaran kilat dan gemuruh guntur pun ikut meriah mengiringi kedatangannya. Aku pun menghela nafas dalam-dalam sambil membayangkan perjalanan pulang dari kantor menuju ke kampus, haaah,, hujan-hujan lagi, ditambah hujan sore ini lebih deras daripada sore-sore sebelumnya. “Selalu saja hujan datang saat sore ketika aku harus berangkat ke lokasi kuliah” gerutuku dalam hati.
Akhirnya aku beranjak dari kantor yang berlokasi di Jl. Banyu Urip menuju kampusku yang jaraknya cukup jauh di Jl. Dr. Ir. H Soekarno mengendarai motor dengan memakai mantel hujan. Dari perjalananku kulihat pemandangan kemacetan dan tak jarang luapan air yang nampak. Raut wajah pengendara-pengendara lain pun kurang lebih sama semua, tampak kusut, mungkin juga jengkel karena hujan deras ini. Ternyata bukan hanya aku saja yang mengeluhkan hujan ini.
Di tengah perjalanan nampak juga suatu pemandangan yang membuatku harus berpikir ulang karena mengeluhkan keadaan ini. Terlihat sekelompok anak kecil nampak begitu menikmati hujan deras ini sambil bermain dengan genangan air yang saat ini tingginya mencapai setengah betis kaki orang dewasa. Berbeda sekali dengan raut wajah yang kulihat kebanyakan, mereka sangat ceria dengan datangnya hujan. Sejenak aku pun menjadi malu pada diri sendiri karena melihat hal itu, bercampur dengan rasa bersalah karena telah menyalahkan hujan deras ini. Pikiranku mulai lari kemana-mana. Mengapa mereka seceria itu? Apa yang telah mereka lakukan, padahal sedang hujan deras seperti ini? Bagaimana bisa mereka tampak bahagia saat kebanyakan orang disekitarku memasang raut wajah kusut karena hujan dan banjir? Semua pertanyaan itu mulai berputar di kepala.
Hujan deras, bagi kita orang dewasa sangat merepotkan, membuat sebal, dan apapun itu pokoknya tidak mengenakkan. Tapi bagi anak kecil, hujan deras bisa menjadi sumber keceriaan mereka. Sempat juga terpikir, saat panas kita mengeluh, diberi hujan pun kita juga mengeluh. Sering kita melakukan pembelaan, karena hujan datangnya tidak tepat, kenapa bukan datang saat kita sudah tidur saja, saat kita sudah tidak melakukan aktivitas.
Kita sebagai orang dewasa yang sudah mulai sibuk dengan segala aktivitas yang ada menjadi tidak tahu lagi bagaimana cara menikmati hidup, bagaimana lagi cara kita bersyukur. Ternyata anak kecil itu lebih hebat dari kita. Mereka tidak kehilangan cara untuk menikmati hidup. Hujan deras pun mereka syukuri karena bisa menjadi sumber keceriaan mereka. Oh, Tuhan, maafkanlah aku yang kurang bisa mensyukuri apa yang telah Kau beri. Saat ini aku sungguh bersyukur karena anak-anak kecil itu memberikan sebuah pelajaran bagiku. Pelajaran berharga tentang bersyukur, tentang cara menikmati hidup yang dianugrahkan padaku ini. Terimakasih adik-adik yang bermain hujan, terimakasih pula untuk hujan.
Oleh : Christianus H. Winjaya
Dimuat dalam buletin Fides Et Actio edisi no.69, Maret 2016
Please follow and like us:
0

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: