Manusia-Manusia Kuat

Spread the love

Awalnya saya ragu saat hendak merangkum hasil eksposure dari kelompok berjuluk songomania ini ke dalam bentuk tulisan. Akan tetapi setelah saya renungkan, tidak ada salahnya menuliskan kembali buah pikiran sederhana dari ketujuh pemuda-pemudi saat berjumpa manusia-manusia yang hidup di kantong-kantong kemiskinan. Setidaknya bisa menjadi bahan refleksi bagi sesama.

24 Agustus 2019 pagi, saya bersama ketujuh pemuda pemudi dari berbagai macam daerah bersiap untuk mengikuti kegiatan eksposure dalam acara Temu Kamu Muda Vinsensian (TKMV) di Blitar. Kelompok kami mendapat bagian di Pasar Templek. Mengingat jumlah kelompok ganjil, saya harus menemani satu anak yang berasal dari Surabaya. Sebelum melakukan aksinya, saya mengingatkan kepada peserta tentang durasi dan titik kumpul setelah melakukan eksposure.

Lebih lanjut, agar kami tidak terlihat berkelompok dan saling mengenal, skema pembagian tugas dibuat sama seperti perintah Yesus kala mengutus muridnya yakni, berjalan berdua-dua. Satu per satu anggota melangkahkan kedua kaki dengan mantap menuju lokasi eksposure.

Selama kurang lebih tiga jam melakukan eksposure, beberapa peserta mulai kembali ke titik kumpul sesuai perjanjian di awal. Setelah personil komplit, kami beranjak ke Gereja untuk beristirahat sejenak kemudian mencatat, menceritakan kembali hasil eksposure ke dalam kelompok kemudian mengambil benang merah atau kesimpulan dari hasil eksposure tersebut.

Dari sharing sederhana yang disampaikan ketujuh pemuda-pemudi, kesimpulan yang didapatkan untuk kemudian ditampilkan ke dalam bentuk diorama adalah Manusia-Manusia Kuat.

Alasan mereka memberi judul manusia-manusia kuat karena selama melakukan eksposure, mereka cenderung menjumpai orang-orang lanjut usia (Kisaran usia 60 tahun ke atas). Mereka menilai, cerita yang disampaikan kaum miskin sangat menginspiratif dan penuh perjuangan. Setidaknya perjumpaan ini menjadi pelecut semangat bagi kehidupan mereka melalui orang-orang miskin karena mampu bertahan hidup meskipun dalam kondisi terhimpit. Selain itu, perjumpaan dengan kaum miskin memberikan pelajaran bagi peserta yang masih belia agar ke depan lebih peka, bersyukur, peduli, sabar serta sedikit demi sedikit memahami kebutuhan-kebutuhan konkret yang dibutuhkan oleh kaum miskin. 

Kini, pemuda-pemudi beranggotakan Dion, Kristin, Adit, Bella, Andrew, Ella dan Adsa telah kembali ke rutinitasnya masing-masing. Semoga perjumpaan dengan Manusia-Manusia Kuat, bisa menjadi cermin dalam benak kalian untuk kemudian diterapkan di tempat tinggal masing-masing sesuai dengan komitmen yang sudah kalian tuliskan setelah eksposure. Salam!

Oleh : Dominikus Wempie

Dimuat dalam buletin Fides Et Actio edisi no. 111, September 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.