Salah Jurusan Belum Tentu Tersesat

Pocket

Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri di tahun 2017 pernah mengatakan, sekitar 37% angkatan kerja bekerja sesuai dengan jurusan pendidikan yang ditekuni. Artinya sebanyak 63% orang Indonesia bekerja tidak sesuai dengan jurusannya

Pada tahun yang sama, hasil penelitian Indonesia Career Center Network (ICCN), total 87% mahasiswa salah memilih jurusan. Kuliah dijurusan A, bekerja dibidang B. Fakultas yang mereka tekuni selama 4 tahun tak berbanding lurus dengan profesi.

Bagi yang memiliki banyak potensi, apa pun jurusan pendidikan yang dipilih tak memiliki pengaruh buruk  pada perkembangam karirnya. Namun sebaliknya, mereka yang merasa salah jurusan kurang optimal menjalankan pekerjaannya.

Tulisan ini tak akan membahas tentang sistem pendidikan maupun penyerapan tenaga kerja di Indonesia. Namun terkait ketidakcocokan antara pendidkan yang ditempuh dan pekerjaan yang dijalani benar ada di kehidupan kita sehari-hari.

Ada salah seorang kawan, mulanya ialah seorang guru disalah satu lembaga belajar di Surabaya, Jawa Timur. Namanya Jemmy Aquriesta (30), begitu kira-kira yang tertera di kolom nama KTPnya. Ia mengajar komputer dan robotik di sekolah-sekolah yang bekerja sama dengan tempatnya mencari rejeki.

Namun tahun lalu Ia memutuskan untuk ganti profesi. Entah apa penyebabnya. Kali ini profesi barunya itu berkaitan dengan dunia kesehatan. Ia bukan menjadi dokter atau perawat, melainkan sebagai seorang admin gudang alat-alat kesehatan. Itu profesi yang bertolak belakang dengan hobi bermusik dan studi permesinannya di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Surabaya, Jawa Timur.

Ternyata petualangan karirnya tak berhenti hanya sebagai admin gudang. Beberapa bulan yang lalu Ia digeser ke bagian pemasaran. Tentunya ini jadi tantangan baru lagi baginya.

Sama halnya dengan Jemmy, Karno (27) pria berkacamata yang akrab disapa Cakno ini juga berprofesi sebagai marketing. Hanya saja lajang kelahiran kota Lamongan ini tergabung pada perusahaan yang bergerak di bidang asuransi.

Tanpa mereka sadari, pengalaman keduannya ternyata ada kemiripan. Sebagai bagian dari proses pendidikan, mereka pernah praktek untuk mengikir palu di masa SMK. Sekarang disaat sudah bekerja, keduanya sama-sama berprofesi sebagai sales. Lucunya lagi, mereka juga masih memperjuangkan kelulusannya di tingkatan perguruan tinggi tepatnya jurusan teknik informatika.

Memang ada ketidaksesuaian antara pekerjaan dan pendidikan mereka, namun mereka mampu melewati ketidakcocokan tersebut. Bahkan malah bisa menikmati pekerjaanya saat ini. Mungkin saja dalam diri mereka terselip kegigihan dan niat kuat untuk tetap menjalani aneka dinamika kehidupan yang dihadapi.

Siapapun tak bisa menyalahkan mereka dalam kekeliruan pilih jurusan, baik di SMK maupun perguruan tinggi. Takdir dan nasib pun juga bukan dalam kendali mereka. Tetapi catatan pribadi milik Sang Penciptalah yang menggiring hidup mereka sampai pada titik tersebut.

Oleh : Agus Eko Kristanto

Dimuat dalam buletin Fides Et Actio edisi No.109, Juli 2019

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: