TERLAMBAT……

Pocket

Beberapa tahun lalu aku pernah diminta oleh sebuah komunitas untuk memberi rekoleksi. Oleh karena rekoleksi diadakan diluar kota, maka jam 3 aku siap-siap berangkat. Sebelum berangkat ke tempat rekoleksi aku harus menjemput beberapa orang yang akan ikut rekoleksi, sebab mereka tidak mempunyai kendaraan. Saat sedang menyetir mobil menjemput beberapa orang, teleponku berbunyi. Seorang teman memberi kabar kalau tetangga depan rumah singgah sakit keras. Dia seorang ibu yang sudah cukup tua dan sering sakit-sakitan. Aku jawab besok saja sepulang rekoleksi aku akan membawanya ke rumah sakit. Temanku mengatakan kali ini sudah parah. Aku jawab bahwa aku sedang dalam perjalanan ke luar kota. Akhirnya telepon ditutup. Sekitar pukul 17.00 aku sudah sampai di tempat rekoleksi. Teman tadi menelepon lagi dan memberi tahu bahwa ibu itu meninggal dunia. Timbul rasa sesal dalam hati. Kenapa aku tidak membawanya ke rumah sakit terlebih dahulu? Mengapa aku mengandaikan bahwa dia akan baikkan lagi seperti biasanya? Mengapa aku lebih mementingkan memberi rekoleksi daripada menolong orang? Aku terlambat. Terlambat menolong orang yang seharusnya kutolong.

Pengalaman itu mengajar aku agar tidak menunda lagi. Kematian tidak ada yang tahu kapan datangnya. Terkadang kita menunda untuk melakukan sesuatu bagi orang lain. Jika orang itu meninggal lalu apa yang dapat kita lakukan? Memberi sumbangan pada keluarga bagiku tidak menyelesaikan pokok masalah. Apalagi menyesali diri. Tidak ada gunanya. Tuhan sudah memberi waktu dan kesempatan, mengapa kita mengabaikannya? Terkadang kita mempunyai keinginan untuk berbuat baik, tetapi keinginan itu kita tunda. Kita ingin berdoa, tetapi kita berjanji pada Tuhan besok saja kita akan berdoa. Apakah kita yakin besok masih ada waktu dan kesempatan untuk berdoa? Kita ingin menolong orang atau bertobat, tetapi menunda untuk melakukan hal itu. Apakah kita yakin masih ada kesempatan untuk melakukannya? Kita tidak tahu pasti kapan kematian itu datang.

Saat ini aku sudah merencanakan jauh hari akan datang pada sebuah acara. Beberapa teman tahu itu. Ketika aku masih belum berangkat, seorang teman bertanya mengapa aku tidak berangkat? Aku jawab bahwa aku tidak ingin terlambat lagi. Kemarin ada seorang imam yang mengundangku untuk datang pada pesta perayaan imamatnya yang ke 50. Aku dapat saja berpikir bahwa masih ada perayaan yang ke 51 atau masih akan ada perayaan 50 tahun di hari yang lain. Tetapi apakah aku yakin bahwa itu dapat terjadi? Bagaimana bila sebelum semua itu terjadi kematian datang? Maka aku memutuskan untuk membatalkan rencanaku demi agar aku tidak terlambat lagi.

Sering aku mendengar kata sambutan yang penuh puji-pujian pada saat orang sudah meninggal. Beberapa orang pun bercerita tentang kebaikan atau kedekatan dirinya dengan orang yang sudah meninggal. Tetapi apakah orang yang sudah meninggal dunia merasakan kebaikan kita saat dia masih hidup? Apakah segala omong kosong itu bentuk pembelaan diri atau usaha untuk menutupi keterlambatan kita dalam menolong atau mengungkapkan kasih kita pada orang yang sudah meninggal? Maka sebelum semua berakhir, mari kita berbuat agar kita tidak terlambat seperti yang pernah aku alami.

Oleh : Rm. Yohanes Gani CMDimuat dalam buletin Fides Et Actio edisi no.99, September 2018

Please follow and like us:
error0

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: