CERITA SERU DI KINIBALU EMPAT SATU

Pocket

Kinibalu 41 adalah markas Yayasan Kasih Bangsa Surabaya, tempat bedah buku “Mengeja Cahaya,” pada Sabtu (18/5). Kinibalu 41 identik dengan tarekat CM (Congregatio Missionis), sama seperti halnya SMA Sinlui dan 6 paroki lainnya di Surabaya. CM berbeda dengan Pr, atau projo. Biasanya, Pr datang belakangan ke suatu wilayah setelah tarekat CM atau tarekat SJ (Jesuit) masuk terlebih dahulu.

 

Oleh panitia bedah buku, aku didudukkan di kursi sebelah Rm. Robertus Wijanarko, akrab dipanggil Romo Jack. Dia adalah orang penting dalam tarekat CM seluruh Indonesia. Dua romo lain yang hadir, Rm. Parno dan Rm. Novan, keduanya sama-sama dari tarekat CM, tampak hormat sekali pada Romo Jack.

Rm. Jack adalah pengajar senior di STFT Widya Sasana Malang. Aku pernah tidur selama seminggu di sekolah ini saat mengikuti kuliah singkat filsafat tahun 2001 ketika masih di PMII Jombang. Itu merupakan pengalaman pertama dalam hidupku tidur di luar rumah selain masjid, surau dan pesantren. Ibuku sangat terkejut mendengar ceritaku tidur di tempat itu, apalagi aku mengabarkannya dengan senang hati.

“Ten nggene tilem wonten salibe guedeeee, buk. Kulo tilem pas ten ngandape soale konco-konco wedi tilem mriku. Lha mboten wonten nggon maleh’e,” ceritaku

 

“Lhooohh…” Ibuku tampak cemas, dan memintaku mengucapan syahadat lagi. Tidak tanggung-tanggung; tiga kali!

 

Aku keberatan karena aku tidak merasa telah mengkhianati agamaku. Namun aku tak ingin membuat ibuku, Hj. Alfiyah, terus dipelintir kekuatiran. Maka aku pun membaca syahadat lagi di depan orang yang sangat aku hormati ini.

Perkembangan dalam hidupku selanjut berlaku sebaliknya. Jika aku baru berani masuk gereja saat kuliah dan Amiroh malah baru tahun 2012 lalu, maka Galang dan Cecil lebih awal. Keduanya sudah aku kenalkan masuk gereja sejak mereka SD. Pernah aku ajak natalan di GKI Jombang.

 

Perjumpaan yang tulus adalah kunci melepaskan belenggu dogma yang sudah pasti berwatak bias dan mengandung anasir negative-stereotype terhadap identitas lain, terutama Kristen dan Tionghoa. Seringkali kita berada dalam garis dilema; apakah tetap berada di belakang garis demarkasi ataukah berani melampaui dan menghirup nikmatnya merdeka dari prasangka.

 

Aku belajar dari para kontributor buku “Mengeja Cahaya,” yang menulis kisah-kisahnya. Mereka terlibat dan berhasil menuliskan pergulatan itu untuk publik. Narasi memori mereka adalah senjata paling dahsyat untuk melakukan perubahan, sepanjang dituliskan dan dimemorialisasikan.

 

“Mbak, aku penasaran dengan cerita anak Madura-Muslim yang kamu bantu. Sejauhmana relasi kalian? Apakah ia datang saat natal dan paskah? Tulislah juga pengalaman-pengalaman getir yang kamu alami bersama mendiang suami dari kakak-kakak iparmu. Almarhum suami mbak dicoret ya daftar penerima waris keluarga? Tulislah mbak,” demikianlah banyak pintaku pada mbak Wike, salah satu kontributor buku.

 

Di forum bedah buku kemarin, aku membuat presentasi pendek berjudul “Mengubah dengan Narasi Memori,” Dalam presentasi tersebut,baku sedikit menceritakan pengalamanku bergelut dengan dunia penulisan dan narasi memori; mengajak orang mengalami sesuatu dan memintanya menuliskan apapun tentang hal itu.

 

“Bacalah cerita yang ditulis Fina ketika untuk pertama kalinya ia masuk ke gereja dan makan di bangunan tersebut. Lucu dan sangat orisinil. Ia melakukan pengakuan dosa dalam tulisan tersebut,” kataku sembari memunculkan slide tulisan Fina yang berjudul “Termenung di hadapan salib GKJW Banyuwangi,”

Aku benar-benar suka dengan forum kemarin yang berjalan gayeng dari jam 16.00-19.30. Selain itu, aku menjadi lebih ngerti tentang tarekat lain di Katolik Surabaya. Sebab selama ini aku biasanya nongkrong dengan para romo dari tarekat projo saja.

 

“Mo, tak ambilken bubur sruntul ya?” tawarku pada romo Jack. Ia menolaknya dengan halus sembari mengucapkan terima kasih. Aku kemudian mengambil bubur manis dan menyantapnya dekat Romo Jack.

 

“Mo, ini lho enak banget. Sumpah Mo. Ayolah..” aku menawarinya lagi.
Dia tetap menolak sembari mengatakan ada problem gula darah dalam tubuhnya.

 

“Justru karena saya tahu ada itu (gula darah) makanya saya terus menggoda romo untuk makan bubur manis ini. Biar gulanya kambuh,” tawa kami pun pecah.

 

— 5 menit kemudian —

 

“Eh tapi yakin Mo nggak mau bubur ini?” tanyaku sembari berjanji akan mengunjungi Romo ini dan kembali numpang tidur di Widya Sasana.(*)

 

**** Foto kredit Romo Parno dan Olivia Muharlim

 

Oleh : Aan Anshori

Please follow and like us:
error0

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: