Hahhh??!.. masih ada sekolahan seperti ini di Surabaya???

Pocket

Inilah ceritaku, tentang betapa memilukannya ketimpangan kondisi pendidikan masa kini. Suatu kali ada begitu banyak sumbangan yang diberikan para donatur kepada Yayasan. Berupa perlengkapan sekolah seperti alat tulis, pensil warna, buku-buku dan alat peraga pendidikan. Bantuan itu dikemas dan dipack sesuai jenisnya untuk didistribusikan ke sekolah-sekolah atau pihak-pihak yang membutuhkan. Tempo hari barang-barang serupa dikirimkan ke sebuah sekolah di Manggarai dan mereka menerima barang-barang itu dengan penuh suka cita. Senang sekali rasanya saat melihat senyum anak-anak di sekolah itu dengan seragam baru, tas baru yang di dalamnya penuh dengan buku dan alat tulis.

 

Kali ini, perlengkapan sekolah yang sudah siap kirim ini akan disumbangkan ke SD Margorukun. Sebuah Sekolah dasar yang berjarak hanya sekitar 2 km dari Tugu Pahlawan. Dengan sebuah mobil kami mengirimkan barang-barang itu. Selama perjalanan kami mengalami beberapa kendala, selain karena kemacetan, ternyata letak sekolah itu masuk ke dalam gang sehingga mobil tidak bisa masuk. Akhirnya dengan bantuan abang becak, bantuan nyampai juga di tujuan meskipun harus melalui gang sempit diapit tembok pemukiman warga.

 

“Sekolahnya yang mana?” Tanyaku pada temanku. Aku melihat bangunan seperti gudang dengan beberapa sekat. Bangunan itulah sekolahnya. Masuk ke dalam ruang guru dengan sedikit bimbang karena masih bertanya-tanya apa benar ini ruang kantor sekolahnya. Kamar dengan ukuran 3 X 3, ada dua almari kaca dengan beberapa buku di dalamnya. Di sudut ruangan ada kipas angin yang tidak terpakai, mungkin rusak. Tak terlihat adanya perangkat komputer. Di bawah kipas angin ada kotak minuman air mineral. Di ruangan ini hanya ada satu meja dan beberapa kursi. Beberapa guru yang menyambut kedatangan kami berdiri di depan pintu karena tak mungkin masuk semua. Suhu ruangan jadi tambah panas. Sambil menunggu proses serah terima barang kami gunakan waktu untuk ngobrol meski dalam suasana agak gelisah karena panasnya ruangan dan kebisingan suara anak-anak dari dalam kelas.

 

Badanku ada di ruangan dan ngobrol dengan beberapa guru, tapi sebenarnya otakku terasa kosong. Tak terbayangkan bahwa di jaman ini, di kota besar, masih ada sekolah dengan kondisi seperti ini. Prasarana sekolah sangat minim dan konon para guru yang penuh dedikasi dalam menjalankan tugasnya itu hanya mendapat honor Rp. 250.000 per bulan. Hahhh… yang benar saja!!

 

Teringat masa kecil ketika aku menginjakkan kakiku di sekolah dasar. Saat itu tahun 1981, masih jelas terlihat di ingatanku bangunan sekolah yang besar, halaman luar yang luas dengan tepi tanaman perdu berbunga warna-warni. Di perkampungan yang berjarak sekitar 15 km dari gunung Kelud ini aku menjalani masa kecilku dengan bersekolah di sekolah dasar yang kondisinya cukup baik. Itu jaman dulu dan di desa terpencil pula.

 

Tapi yang kulihat saat ini benar-benar tidak masuk akal. Sebuah sekolah yang berdiri tak jauh dari ikon kota Surabaya kok kondisinya seperti ini. Ini Surabaya broo… tahun 2017 brooo…. dan masih ada sekolah dengan kondisi seperti itu. Ya ampunnn…!!!!

 

Johanes Lasmidi

Dimuat dalam buletin Fides Et Actio edisi No.85, Juli 2017

Please follow and like us:
0

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: