Persembahanku…

Pocket

Pada hari minggu seperti biasa aku selalu menyempatkan diri untuk pergi ke gereja. Sebelum aku masuk ke gereja biasanya terlebih dahulu aku memarkirkan motor ke tempat parkir yang sudah disediakan oleh pihak gereja. Setelah selesai memarkirkan kendaraan, aku bergegas berjalan menuju ke gereja yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat parkir. Dalam perjalananku menuju gereja tersebut aku selalu mendapati Bapak dan Ibu tua yang biasa mencari rejeki di sepanjang jalan menuju gereja dengan cara menadahkan mangkok kecil sembari menunggu belas kasih dari umat yang melintasi di depan mereka.

Pada suatu ketika dalam keadaan isi dompetku yang bisa dibilang hanya cukup untuk membayar parkir dan persembahan, aku dihadapkan pada Bapak dan Ibu tua tersebut. Nah, disinilah terjadi sebuah kegalauan iman yang membuat aku jadi serba salah. Biasanya jika aku mempunyai uang lebih aku akan menyisihkan uangku untuk mereka, tetapi dengan keadaan isi dompet yang hanya cukup untuk membayar parkir dan persembahan. Seketika itu juga  imanku menjadi galau.

Kejadian tersebut seakan-akan menjadi arwah penasaran yang selalu menghantui hidupku sepanjang hari. Sehingga berdampak dengan munculnya sepasang pertanyaan di pikiranku.

Apa aku harus memberikan uangku yang untuk persembahan kepada Bapak dan Ibu tua tersebut? Tetapi pada saat persembahan nanti tidak ada yang bisa aku persembahkan. Sedangkan jika aku melewati mereka begitu saja, apakah aku berdosa karena aku tidak bisa berbagi kepada mereka?

Suatu ketika entah secara kebetulan atau tidak, Yayasan tempatku mencari rejeki mengadakan sebuah rekoleksi untuk karyawan dan relawan-relawanya. Disela-sela istirahat makan siang dalam acara rekoleksi tersebut aku menyempatkan diri untuk curhat tentang kegalauan yang aku alami. Aku menceritakan masalahku kepada salah seorang Romo yang bertugas mendampingi salah satu divisi di Yayasan tersebut. Setelah aku menceritakan panjang lebar tentang apa yang sedang aku alami, beliau memberikan aku masukan. Beliau bilang “justru tidak masalah jika kamu memberikan uangmu itu  kepada  Bapak dan Ibu tua tersebut, nah uang yang kamu berikan itu nantinya yang akan kamu jadikan sebagai persembahanmu waktu di dalam gereja.” Setelah mendengar nasihat dari beliau pikiranku mendapatkan sebuah pencerahan atas kegalauan yang sedang aku alami.

 

Dari curhatku kepada beliau aku mengambil sebuah kesimpulan bahwa “ jika memiliki rejeki kita memang diwajibkan untuk memberi persembahan pada saat kita mengikuti perayaan ekaristi di gereja. Tetapi dalam keadaan isi dompet yang seperti aku ceritakan diatas.

Alangkah lebih baiknya jika rejeki yang seharusnya hanya cukup untuk persembahan di gereja, kita berikan kepada Bapak dan Ibu tua yang mencari rejeki dengan menadahkan mangkok sembari menunggu belas kasihan dari umat yang mau berbagi.

Setelah itu uang yang kita berikan kepada mereka, itu akan menjadi salah satu dari doa kita dan yang juga akan kita pakai sebagai persembahan pada saat mengikuti perayaan ekaristi di dalam gereja.”

Pada intinya yang namanya persembahan itu tidak harus berupa uang.

 

Oleh : Agus Eko Kristanto

Dimuat dalam buletin Fides Et Actio edisi No. 84, Juni 2017

Please follow and like us:
0

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: