Nama saya Maria

Pocket

Pertama kali kulihat wanita itu melewati pintu yang dibukakan oleh pelayan restoran, berjalan bersamaan dengan seorang wanita lain. Aku hanya melihatnya sekilas lalu karena kupikir ia akan berjalan terus melewati mejaku. Kembali kuarahkan pandanganku kepada tumpukan buku yang ada dihadapanku.
Beberapa detik berlalu, kembali kuarahkan pandanganku kearah pintu yang ada sisi kiriku. Kulihat wanita itu berdiri didepan pintu, tepat di tepian koridor. Ah, mungkin dia sedang menunggu seorang teman, demikian pikirku.

Beberapa menit terus berlalu. Wanita itu tak beranjak dari tempatnya berdiri. Pula tak ada seorang pun yang datang menghampirinya. Rupanya dia memang datang sendirian dan tak sedang menunggu siapapun, demikian pikirku saat itu.
“Ya bu….” Baru saja kubuka mulutku hendak bertanya padanya apakah ada yang bisa kubantu karena kupikir mungkin saja dia sedang bingung mencari lokasi ruangan tempat acara kami berlangsung, wanita setengah baya itu langsung melihat kearahku dan datang menghampiriku.
Dengan logatnya yang khas dia menyampaikan maksud kedatangannya ke tempat itu, namun aku tak dapat menangkap maksud pembicaraannya dengan jelas. Yang sangat jelas kutangkap hanyalah kata-katanya yang mengatakan bahwa ia tidak punya uang. Kebetulan ada dua orang teman panitia yang berdiri didekat mejaku dan akhirnya mereka menanyainya dengan lebih jelas.
Ternyata wanita itu datang hendak berjualan CD lagu penyanyi gereja yang saat itu menjadi pengisi acara di acara kami. Dia bercerita kalau penyanyi itu sendiri – yang ternyata sama-sama berasal dari NTT kalau tidak salah – yang menyuruhnya datang dan berjualan beberapa keping CD yang dibawanya. Padahal penyanyi itu sendiri sudah membawa ratusan keping CD untuk dijual di acara kami. Aku sempat berpikir, apakah telah terjadi miskomunikasi diantara mereka berdua?
Seorang teman panitia nampak cuek-cuek saja menanggapi wanita itu. Akhirnya seorang teman panitia yang lain berinisiatif untuk memanggilkan penyanyi yang diakui oleh wanita itu mengenal dan menyuruhnya datang.
Beberapa menit berlalu. Teman panitia yang hendak memanggilkan penyanyi itu tak kunjung kembali. Penyanyi itu pun tak kunjung datang. Akhirnya kusuruh seorang teman panitia lain yang sedang duduk disebelahku untuk meminta wanita itu duduk saja sembari menunggu.
Beberapa menit terus berlalu. Wanita itu tak juga mau duduk. Tak lama kemudian teman yang duduk disampingku beranjak pergi. Aku pun bergeser duduk mendekati wanita itu. Sekali lagi kuminta wanita itu untuk duduk tapi ia tak bergeming.
Tak lama kemudian wanita itu mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri. “Nama saya Maria”, ujarnya. Kusambut tangannya dan kuperkenalkan diriku. Kami pun akhirnya berbincang-bincang. Dia mengatakan kalau tahu begini jadinya maka ia tidak akan datang ke restoran itu. Akhirnya kukatakan padanya lebih baik masuk ke ruangan tempat acara saja, tohsudah terlanjur datang. Tapi wanita itu menolak dengan alasan, “Saya kan orang nggak punya, yang datang di acara ini kan orang kaya semua.”
Aku katakan tidak masalah dan mencoba meyakinkannya untuk masuk, tapi wanita itu tetap merasa minder. Bujukanku tidak mempan.
Saat itu dia memang memakai pakaian yang sederhana dan ditutup jaket kain. Alas kakinya pun berupa sandal yang sederhana. Sebuah tas berukuran sedang yang pastinya berisi beberapa keping CD lagu tergantung di pundak kanannya. Wajar saja kalau dia merasa minder karena penampilan sebagian besar para tamu undangan nampak sangat bertolak belakang. Dari ujung kepala sampai ke ujung kaki menempel barang-barang yang mewah. Cara berjalan mereka pun sangat percaya diri. Mungkin saking percaya dirinya sampai-sampai saat aku menyambut mereka dengan senyuman mereka sama sekali tidak membalas dengan senyuman. Ekspresi wajah yang datar. Ahh….
Beberapa menit tetap berlalu. Penyanyi itu tak juga datang. Ibu Maria pun tetap berdiri disamping mejaku. Akhirnya kuputuskan untuk meninggalkan meja tempat tugasku dan menemaninya masuk ke ruangan tempat acara berlangsung.
“Mari bu, masuk sama saya saja”, ujarku padanya. Wanita itu pun akhirnya mengikutiku memasuki ruangan. Saat aku menunjukkan kursi dimana ia bisa duduk, wanita itu mengucapkan terima kasih. Dia nampak sangat bersyukur karena diperkenankan masuk.
Saat acara makan malam tiba, ruangan menjadi semakin sepi karena para tamu undangan beranjak keluar ruangan untuk mengambil makanan yang disediakan secara prasmanan diluar ruangan. Kulihat wanita itu, Ibu Maria, masih saja tak beranjak dari kursinya. Kudekati dia dan kukatakan padanya untuk ikut mengambil makanan di luar. Sekali lagi dia mengucapkan terima kasih.
Tak lama setelah acara makan selesai, kulihat Ibu Maria masuk kembali ke ruangan dan berkata, “Saya sudah kenyang. Terima kasih ya. Semoga Tuhan memberkati.”
Setelah acara selesai dan semua tamu sudah pulang, kulihat Ibu Maria masih belum pulang. Dia nampak sedang berusaha menawarkan CD lagu yang dibawanya. Namun nampaknya orang-orang tidak tertarik untuk membelinya. Tak lama kemudian kulihat dia menawarkannya kepada seorang teman panitia, tapi teman itu tidak berniat membeli karena mengaku sedang bokek. Aku merasa kasihan melihat Ibu Maria.
Melihat pemandangan didepan mataku itu, hatiku mulai bergumul. Akankah aku membeli CD lagu dagangan Ibu Maria? Ingin rasanya aku membantunya. Tapi aku tidak tahu apakah lagu-lagunya sesuai dengan seleraku atau tidak. Selama ini aku hanya membeli atau merekam lagu yang aku sukai. Selain itu, sebenarnya aku sedang bermaksud berhemat agar uang sisa gajiku cukup sampai dengan waktu gajian dan aku merasa sayang membuang uang Rp. 50.000,- untuk barang yang kurang penting. Bagiku uang Rp. 50.000,- sangat berarti untuk menyambung hidupku. Namun kemudian aku berpikir, pasti Ibu Maria lebih membutuhkan uang itu. Kalau aku kekurangan uang, aku masih bisa meminjam kepada kakakku dengan mudah, tapi kalau Ibu Maria belum tentu ada orang yang mau meminjamkan uang kepadanya dengan mudah. Akhirnya aku pun membeli sebuah keping CD lagu dagangan ibu itu.
Untuk kesekian kalinya Ibu Maria mengucapkan terima kasih, semoga Tuhan memberkati, semoga Rp. 50.000,- dilipatgandakan oleh Tuhan, dan lain sebagainya. Aku merasa senang dan lega sudah mengambil keputusan yang tepat. Melihat sukacita dan rasa syukur Ibu Maria yang meluap-luap membuat kekuatiranku akan kehabisan uang sebelum hari gajian menjadi luntur.
Sebelum pulang, kami para panitia membereskan barang-barang keperluan acara. Karena masih sisa banyak, akhirnya roti yang tersisa dibagi-bagikan diantara para panitia. Kuambil 3 bungkus roti dan kuberikan kepada Ibu Maria. Aku rasa dia akan membutuhkannya. Terpancar rasa bahagia dan untuk kesekian kalinya dia mengucapkan terima kasih dan mengatakan semoga Tuhan memberkati berlimpah-limpah. Aku hanya bisa menjawab, “Amin.”   
***
Perkumpulan kami – yang sedang punya gawe di restoran itu –  sebenarnya adalah sebuah perkumpulan yang mengaku bertujuan untuk membantu sesama yang miskin dan tertinggal di daerah pedalaman. Perkumpulan kami berusaha memberikan perhatian dan donasi materi untuk mereka. Aku rasa masih banyak perkumpulan lain yang bertujuan mirip, yaitu membantu mereka yang miskin dan menderita.
Sering kita mengaku peduli akan kesulitan dan penderitaan mereka yang miskin dan menderita. Namun seringkali kita melihat mereka hanya di tempat-tempat kumuh, di daerah pedalaman, di panti asuhan, di panti jompo, di YPAC, di penjara, dan lain sebagainya. Kita tidak melihat bahwa orang-orang yang ada dekat disekitar kita pun masih banyak yang bisa dikatakan terbuang, terpinggirkan, miskin dan menderita. Ibu Maria contohnya.
Ibu Maria merasa minder karena ia miskin. Ia tidak berani bergabung dengan orang-orang yang ada didalam acara kami. Bukankah itu bisa dikatakan kalau ia merasa terpinggirkan? Terbuang dari antara kelompok orang-orang berduit dan berkelas. Ia tidak masuk hitungan. Tidak ada pengakuan bagi dirinya dan karenanya ia merasa minder.
Sejujurnya didalam hati aku merasa kuatir akan ditegur oleh teman-teman panitia yang lain apabila aku mengajak Ibu Maria masuk mengikuti acara kami, karena diawal seseorang pernah mengatakan agar selektif dalam mengundang tamu, yaitu mereka yang sekiranya berprospek untuk mau menjadi donatur di perkumpulan kami.
Selain rasa kasihan, hal yang menggerakkan aku untuk nekad mengajak Ibu Maria masuk ke ruangan adalah pemikiran bahwa jika aku tidak mempedulikannya dan tidak mengajaknya masuk, maka itu berarti bahwa aku adalah anggota perkumpulan yang mengaku peduli terhadap orang miskin di daerah pedalaman tapi tidak peduli dengan orang miskin yang ada didepan mata. Bisa dikatakan aku mengasihi orang yang tak kelihatan (di seberang lautan), tapi tidak mengasihi orang yang kelihatan.     
***
Aku juga bertanya-tanya mengapa Ibu Maria begitu takutnya untuk masuk kedalam ruangan acara. Apakah dia merasa ditolak? Seingatku kami para panitia tidak pernah menolaknya dengan kata-kata. Lalu apa yang menyiratkan penolakan itu? Apakah sikap kami para panitia dan tamu undangan? Apakah suasana disana saat itu? Apakah keglamoran penampilan para panitia dan tamu undangan?
Aku merasa trenyuh karena kelompok kami yang didalam namanya tercantum kata KASIH belum bisa membuat semua orang merasakan kasih itu. Jika sikap, suasana, dan keglamoran penampilan membuat orang merasa tertolak dan tidak bisa merasakan kasih, haruskah hal-hal itu tetap dipertahankan???
Ya Tuhan, mampukanlah aku untuk senantiasa membuat orang-orang disekelilingku merasakan bahwa mereka dikasihi, terutama mereka yang terbuang, miskin, dan menderita. Mampukanlah aku memberi kesaksian nyata bahwa kasihMu rata untuk siapa saja, tak memandang rupa dan harta. Amin.
Oleh : Lea Benedikta Luciele
Dimuat dalam buletin Fides Et Actio edisi no.73, Juli 2016

Please follow and like us:
0

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: