Kasih yang Menyempurnakan

Pocket

Terik matahari tak menyurutkan niatku tuk melangkahkan kaki di kota Gudeg. Sudah sekitar 1,5 jam’an aku duduk didalam bus dari Magelang menuju Jogja. Pengap. Panas. Maklum itu bus ekonomi tanpa AC.
“Jombor…Jombor…Terminal..” teriak kernet bus mengagetkanku.
Sontak aku langsung berkata pada pak kernetnya,
“Pelemgurih ya pak jangan lupa”
Menurut arahan dari temanku Suster Veronika, PMY, jika sudah melewati Terminal Jombor berarti sudah mendekati tempat dimana aku harus turun yaitu Pelemgurih.
Beberapa menit kemudian bus berhenti di Pelemgurih. Mataku mulai berkeliaran mencari becak. Baru 2-3 langkah tiba-tiba ada seorang bapak meneriakiku dari dalam warung.
“Mbak..ojek?”
Aku mendekatinya dan menanyakan tarif ojek sesuai tujuanku. Setelah sepakat kami langsung meluncur mencari alamat yang aku tuju. Eh ternyata bapak ojeknya ga hafal jalan jadi kami putar-putar dan tanya ke tukang parkir. Dalam hatiku kalau tidak tau jalan kenapa ngojek pak. Berulang kali bapak tersebut meminta maaf karena tidak hafal jalan. Awalnya aku dongkol tapi itu tak lama karena teringat kalau aku pun juga susah untuk menghafal jalan.

Sesampai ditempat tujuan aku menunggu Sr.Veronika PMY di teras Sekolah Luar Biasa (SLB). Aku baru sadar kalau yang kutuju adalah SLB beserta asramanya. Kukira Sr.Vero itu tinggalnya di sebuah susteran biasa tanpa jadi satu dengan SLB.

Suster Veronika PMY adalah buah perkenalanku di acara Temu Kaum Muda Vinsensian (TKMV) 2 tahun yang lalu. Kebetulan aku menjadi sie keskretariatan dan menangani registrasi. Sehingga tugasku mengontak dan meminta konfirmasi dari masing-masing peserta untuk bisa atau tidaknya hadir dalam acara tersebut. Komunikasi kami tidak berhenti di acara itu. Beberapa kali kami masih komunikasi menanyakan kabar. Hingga hari itu kebetulan posisiku di Jawa Tengah sehingga mengajaknya untuk ketemuan.

Ia mengajakku masuk, memperkenalkan beberapa suster yang lain dan mempersilahkan aku untuk makan. Setelah itu kami ngobrol panjang lebar. Obrolan kami terhenti karena ada anak usia 9 tahun teriak-teriak tidak jelas ngomongnya sambil menangis.  Ternyata anak itu rewel karena sedang menstruasi. Itu adalah pengalaman pertamanya merasakan menstruasi sehingga merasa tidak nyaman tapi tidak bisa menyampaikannya dengan jelas. Ia tak bisa bicara dan mendengar dengan baik. Kata Suster ibunya berulang kali sudah di telpon untuk menengok anaknya tapi belum bisa karena sibuk.

Melihat gadis itu membuat aku penasaran dengan anak asrama yang lain. Aku pun meminta ijin untuk mengunjungi asrama SLB. Berhubung masih jam tidur maka baru bisa mengunjungi mereka pukul 16.00.  Sr. Vero mengajak aku untuk merebahkan diri sesaat. Lumayan bisa meluruskan punggung sambil menunggu anak-anak bangun.

Pukul 15.45 aku sudah bergegas untuk mandi dan siap bertemu dengan anak-anak. Kuturuni tangga dari lantai 3 kamar yang kuhuni sesaat. Sampai dilantai dasar ada beberapa ruang yang kulewati sampai ke asrama SLB. Dari ruang makan asrama sudah terdengar suara gaduh anak-anak. Begitu memasuki ruang sumber suara itu aku hanya berdiri diam terpaku.
“ Mbak Sari takut ya?” celetuk Sr. Vero
Iya ada rasa takut dan tidak tahu mau ngapain melihat pemandangan yang berbeda dari biasanya ini. Ada rasa waspada jika tiba-tiba anak-anak itu menyerangku. Ada 10 anak dan 2 ibu-ibu pendamping yang ada di ruangan sebesar kira-kira 6m x 6m.  Aku duduk di tikar mendekati anak perempuan yang tertunduk diam sesekali ia teriak. Kulitnya putih keturunan Tionghoa. Ia memegang tanganku dan memberi isyarat yang kata Suster itu artinya kue. Mungkin dia meminta kue dariku. Lalu ibu pendamping memanggilnya menawari permen.
“ Mau permen ga?ayo berdiri diambil” Aku mengulang beberapa kali tawaran ibu itu supaya ia mau berdiri mengambil permen diruang makan.
Dia mengajakku untuk mengambil permen dengan menyeret tanganku. Tapi kata ibu itu biarkan sendirian supaya dia menghafal ruangan. Dia low vision, tidak bisa berbicara dengan jelas tapi untuk mendengar dia masih bisa walaupun harus diulang-ulang. Orang tuanya sudah membawanya berobat ke Jakarta bahkan sampai Singapore. Oh dia anak orang berada pikirku.

Di ujung ruangan itu ada anak laki-laki berdiri sambil tanganya merogoh rak buku. Ditanya pendampingnya apa mau baca, ia pun mengangguk. Si ibu itu mengambilkan beberapa lembar bagian dari majalah untuknya. Tampak wajahnya sumringah. Buku itu diremas-remas dan dipukulkan kemukanya. Sepertinya dia juga low vision jadi baca pun juga kesulitan. Memberikan beberapa lembar majalah adalah cara menghiburnya.

Ada lagi bocah laki-laki yang kesulitan berbicara mendorong-dorong rak kayu / bufet. Lalu naik-naik ke jendela mainan kipas angin. Dia gelisah karena papanya yang janji jemput jam 16.00 tak kunjung datang. Padahal dia sudah siap jauh sebelum pukul 16.00 dengan sepatu ket dan jaket merah beserta tudung kepalanya. Keren bocah itu.

Tiba-tiba ada anak laki-laki usia sekitar 5 tahunan mencium pipiku. Aku kaget dan ibu-ibu itu tertawa sambil memperingatkan anak itu kalau ga boleh cium-cium kayak gitu. Lalu ibu itu menjelaskan kalau dia suka dengan gambar. Dan bajuku ada gambar bunganya maka dari itu dia menyerangku dengan ciuman.

Tidak berhenti diserang ciuman saja. Anak gadis berusia 5 tahunan menyerangku dengan pelukan. Dia mendatangiku lalu duduk dipangkuanku dan mendekapku. Mungkin dia mencari kenyamanan. Untung aku sudah mandi sehingga tak membuat anak itu pingsan.

Berhubung keberangkatan bus yang sudah aku pesan tiketnya beberapa hari yang lalu berangkat pukul 19.00, aku keluar asrama makan dulu  bersama Sr.Vero.  Ketika hendak keluar melewati meja makan asrama ada gadis cilik yang ketika kudatang tadi hampir rewel usai bangun tidur. Ternyata dia anteng duduk di meja makan sambil makan kacang kulit. Lucunya dia mengupas kacang tak langsung dimakan. Biji kacang yang telah dia kupas dikumpulkan dalam lepek. Menggemaskan melihatnya.

Setelah makan aku kembali ke asrama sambil berpamitan. Tapi sayang para suster sedang ada doa. Sehingga aku hanya menuliskan pesan terimakasihku di papan tulis. Tak lupa aku berpamitan dengan ibu-ibu pendamping asrama yang sedang repot menemani anak-anak makan malam. Sambil menunggu ojek menjemputku, aku dan Sr.Vero duduk di ayunan. Ada keluarga datang menjemput. Yup mereka keluarga yang dinanti bocah laki-laki keren yang gelisah menanti  jemputan tadi. Kakak perempuannya berambut panjang dan cantik. Adik perempuannya juga cantik. Dia pun juga keren walaupun berkebutuhan khusus.

Di SLB ini para suster PMY, ibu-ibu pendamping dan para guru mendidik mereka agar mereka bisa mandiri sesuai dengan kebutuhan mereka. Karena kebutuhan tiap-tiap anak penyandang ketunaan itu berbeda-beda. Mereka mendidik dengan kasih sehingga anak-anak merasa nyaman dan tidak terasing dengan kekurangan mereka.

Berbeda dengan sanggar anak jalanan / pinggiran yang biasa aku dampingi di Surabaya. Di sanggar, anak-anak kekurangan materi. Kebutuhan sandang, pangan, papan mereka tidak terpenuhi dengan baik. Di SLB ini keluarga mereka banyak dari keluarga yang berada walaupun ada juga yang kurang mampu. Orang tua mereka sanggup dan mengusahakan apa yang mereka minta dan butuhkan. Tapi ketunaan dan berkebutuhan khusus itu yang membuat mereka terbatas untuk bertindak dan mengeksplore kemampuan mereka.

Perhentianku di Jogja yang hanya beberapa jam ini membuat aku makin bersyukur dengan keadaanku yang tak kurang satu apapun bisa pergi kesana kemari. Berteriak-teriak ataupun berbisik-bisik orang akan paham dengan maksudku. Sedangkan mereka untuk mengungkapkan rasa saja susah. Orang tua mereka bisa dikatakan berduit bisa mengobatkan ke Singapore dll tapi apa daya uang tak bisa menyempurnakan kondisi mereka. Hanya kasih dan ketelatenan yang membuat mereka sempurna. Itulah visi misi dari para suster PMY ini melayani yang lemah, kecil dan tersingkir.
Oleh : Veronika Sari Fuji
Dimuat dalam buletin Fides Et Actio edisi No.69, Maret 2016
Please follow and like us:
0

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: