JABATAN YANG MENGUBAH

Pocket

Suatu hari aku bertemu dengan seorang adik kelas. Dulu kami cukup akrab sebab sering kerja sama dalam melakukan tugas dan pernah pada suatu kepengurusan organisasi aku menjadi ketua dan dia menjadi wakil. Karena kami sama-sama dari Jawa Timur maka kami punya kebiasaan untuk memanggil nama dan menggunakan kata ganti “kamu” atau “aku”. Beberapa tahun aku tidak pernah kontak dengannya. Aku dengar dia sudah menduduki sebuah jabatan. Maka ketika bertemu dengannya aku memanggil namanya tanpa embel-embel jabatan yang disandangnya. Aku juga tetap menggunakan kata ganti “kamu” dan “aku”. Betapa terkejutnya aku ketika dia menjadi tersinggung dengan caraku memanggil. Dia memberikan teguran keras.
Sesaat aku tertegun mendengar teguran itu. Padahal aku bertemu pribadi. Tidak ada orang diantara kami, sehingga aku berpikir tidak perlu berbasa basi. Tapi ternyata pertemuan pribadipun aku harus tetap menyebutnya dengan jabatan dan statusnya. Seandainya aku menyebut namanya dan memakai kata ganti “kamu” dan “aku” di depan publik, mungkin teguran itu bisa dipahami olehku. Bagaimanapun juga aku harus menghormatinya di depan umum. Tapi dalam pertemuan pribadi pun hal itu tidak bisa. Betapa hebatnya pengaruh sebuah jabatan pada dirinya. 
Memang tidak semua orang mengagungkan sebuah jabatan. Ada orang yang tetap sederhana setelah menjadi pejabat. Dia masih dapat akrab dengan teman-temannya tanpa harus menunjukkan jabatannya. Seorang teman yang sudah menduduki jabatan pernah sharing padaku. Setelah dilantik menjadi pejabat dia pulang ke rumah. Ternyata di rumah dia disuruh mencarikan makanan ternak oleh orang tuanya. Dia pun tertawa mendengar permintaan itu. Tapi orang semacam temanku juga sangat banyak. Mereka menjadi berubah setelah menduduki sebuah jabatan. Semua orang harus hormat padanya. Jabatan membuat dirinya menjadi manusia baru yang berbeda dari dirinya yang dulu. Manusia yang harus diletakkan pada posisinya.
Jabatan adalah sebuah tempelan yang sementara. Saat ini menjadi presiden beberapa tahun kemudian sudah bukan presiden lagi. Tidak ada jabatan kekal. Lalu buat apa mengagungkan sesuatu yang tidak kekal? Ketika menjadi pejabat mungkin dia akan dihormati, setelah jabatan itu hilang maka dia akan menjadi biasa lagi yang mungkin tidak akan dihormati bahkan dilupakan orang. Dia hanya akan disebut “mantan”. Jabatan bukanlah untuk kebanggaan diri melainkan sebuah tanggungjawab. Semakin tinggi dia memegang jabatan semakin besar tanggungjawab yang harus ditanggung. Penghormatan akan diberikan oleh orang bila dia dapat melakukan tanggungjawabnya dengan benar. Penghormatan itu akan datang sendiri tanpa harus ada pemaksaan. Seorang pahlawan dihormati oleh banyak orang bukan karena dia seorang kopral atau jendral tapi karena dia berani mempertaruhkan hidupnya untuk sebuah kebenaran.
Yesus mengkritik para Farisi sebab mereka suka mencari penghormatan. “..mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi.” (Mat 23:7) Kita diingatkan agar tidak berusaha mencari penghormatan, sebab penghormatan dapat menjadi penghalang persahabatan. Tanpa sadar temanku sudah membangun benteng diantara kami. Formalitas yang dituntut membuat hubungan kami kehilangan sentuhan pribadi. Yesus menyebut Allah sebagai Bapa untuk menghilangkan jurang yang dalam antara manusia dengan penciptanya. Umat Israel menyebu Allah dengan sebutan YHWH. Bagi mereka Allah adalah yang Maha sehingga tidak ada nama yang mampu mewadahiNya. Allah sangat jauh dan tidak tersentuh. Melihatpun akan mati. Hubungan manusia dengan Allah berdasarkan ketaatan dan formalitas. Yesus mengubah semua itu. Dia mengajarkan Allah sebagai Bapa. Figur yang dekat dan memiliki relasi personal dengan manusia. Bila hubungan manusia dengan Allah yang Maha saja diusahakan menjadi dekat mengapa hubungan manusia dijauhkan karena jabatan? Sebetulnya dengan menghilangan relasi personal orang akan menjadi kering. Dia tidak lagi merasakan kedekatan dan kehangatan pribadi sebab semua menjadi resmi dan kaku.
Oleh : Rm. Yohanes Gani Sukarsono CM
Dimuat dalam buletin Fides Et Actio edisi No.66, Desember 2015
Please follow and like us:
0

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: