Ujianmu nak…

Pocket


Sore itu cerah, kuparkir motorku disamping sanggar dan kulihat banyak anak sudah berkumpul. Di teras sanggar beberapa anak usia TK-SD kelas 3 bergerombol dengan salah satu pendamping. Aku masuk dan ikut nimbrung dengan anak yang lebih dewasa sekitar SD kelas 4 keatas. Ada yang asik makan rambutan dan sepasang sedang bermain catur. Aku mengikuti jalannya permainan catur itu sampai seorang bocah curhat kepadaku masalah sekolahnya tetapi aku tak menyadarinya. Si bocah itu menepuk pahaku, “ mbak rungokno aku ta”.  Aku pun terkejut. Dalam hati aku tadi melamun atau asik mengikuti permainan catur ya. Hari-hari ini otakku serasa ruwet fullsampai-sampai bocah itu curhat soal sekolahnya tetapi aku hampir tak bisa memberinya solusi, motivasi ataupun nasehat. Yang bisa kulakukan hanya mendengarkan dengan seksama. Walaupun hanya didengar, dari raut wajahnya nampak sumringah lega bisa mengeluarkan uneg-unegnya.

Kegiatan pun beralih ke latihan persiapan pentas. Sebagian anak yang telah dipilih untuk tampil di pentas langsung mengambil posisi masing-masing. Sedangkan aku beranjak ke teras untuk mendampingi anak-anak yang sedang menggambar. Sesekali aku memperhatikan anak-anak yang sedang latihan. Celometandan tingkah mereka bebas banget dan kocak, membuat orang yang nonton senyum-senyum kadang tertawa geli. Sampai-sampai pendamping yang sedang melatih kewalahan untuk mengajak konsentrasi. Yah… tapi itulah anak-anak.
Entah awalnya bagaimana tiba-tiba kami pendamping sedang membahas salah satu anak. Anak itu lincah dan menyenangkan. Tapi ternyata dibalik semua itu ada kisah yang memilukan. Ia habis dihajar oleh ayahnya lalu ketempat ibunya berharap mendapat perlindungan ternyata malah dihajar pula. Akhirnya ia kabur dari rumah dan diberi tumpangan oleh pemilik warnet. Seusai anak-anak pulang dan sanggar mulai sepi tiba-tiba mendengar kabar bahwa ibu anak tersebut meninggal. Hmm.. barusan saja dibahas kasusnya eh sekarang nambah lagi ujian anak itu.
Kami para pendamping menyusul ke rumah duka. Anak itu menangis sejadi-jadinya. Air mataku pun hampir tumpah. Beberapa menit yang lalu anak itu tertawa terbahak-bahak dengan teman di sanggar, pulang-pulang mendengar kabar ibunya telah tiada. Tak sempat ia berdamai dengan ibunya, sekarang melihat tubuh ibunya terbujur kaku tepat 8 hari lagi dia genap berusia 11 tahun.
Jika aku melihat dengan kacamataku, begitu banyak ujian yang ia hadapi di usianya yang sangat dini. Hidup pisah dari orang tua, sekarang malah kehilangan salah satu orang tuanya. Dulu ketika usiaku sebelas tahun adalah masa-masa yang menyenangkan. Masa dimana aku dapat bermanja dan bersenda gurau dengan orang tuaku. Dengan menoleh ke kehidupan anak itu, membuatku bersyukur atas ujianku sekarang. Berhari-hari merenungi ujian tidak ada gunanya. Memang sudah saatnya beranjak dan menjalaninya. Semoga anak itu selalu dapat bertahan di setiap lika-liku kehidupan dan dapat mengejar mimpi-mimpinya.
Dimuat dalam buletin Fides et Actio edisi No.58, April 2015
Please follow and like us:
0

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: