Pohon Jeruk Mbah Min.

Pocket


Hari ini hari Minggu, ibu membangunkanku lebih pagi, yang sebenarnya aku masih ngantuk ingin terus tidur toh sabtu aku sudah ikut misa kudus. Ibu terus memanggilku lebih keras membuatku terpaksa bangun. Kata ibu aku sudah ditunggu langgananku. Aku keluar ingin melihat siapa yang dimaksud ibu dengan langgananku. Oh… ternyata di depan rumah ada Mbah Min yang sudah duduk dengan santai di lantai sambil menikmati klobotnya. Kusapa mbah Min dan dia tersenyum. Aku bergegas ke dapur mengambil makan pagi untuk mbah Min karena ibu dan bapak sudah berangkat ke gereja. Seperti biasa mbah Min tidak langsung makan bahkan lebih suka dibungkus untuk makan di perjalanan. Pagi ini aku banyak berbincang dengan mbah Min. Ya, aku memang sangat sayang padanya. Dia berjanji minggu depan akan membawakanku pohon jeruk nipis. Katanya di halaman rumahnya banyak pohon jeruk. Dia berjanji akan mencangkokkan untukku, karena dia tau aku sangat suka tanaman.

Mbah Min lelaki berusia 70 tahun, rumahnya di Jombang. Dia seorang pengemis, tapi sangat rapi bersih meskipun bajunya penuh tambalan dan selalu berwarna putih. Dia punya istri yang juga sudah tua menjaga rumah di Jombang. Dia tidak punya anak. Katanya rumahnya cukup luas untuk hidup berdua. Bila ke Surabaya dia naik kereta api. Mbah Min seminggu sekali pasti mampir ke rumah. Dia tidak pernah mengemis dirumahku, tapi hanya duduk melepaskan lelah. Tapi itu yang membuat kami sekeluarga senang dengan mbah Min. Kalau tidak datang justru seisi rumah rasan-rasan apa mbah Min sakit. Bila mbah Min datang ibuku pasti sudah menyiapkan apa saja yang bisa diberikan mbah Min misalnya, uang saku, baju bekas, makanan. Ibuku sangat senang saat mbah Min menepati janjinya memberi kami pohon jeruk dan ibu merawatnya dengan baik.
Suatu hari mbah Min datang , kali ini dengan wajah sedih membuat kami semua penasaran ingin bertanya. Oh ternyata istri mbah Min baru meninggal dunia. Itu sebabnya lama kami tidak melihat mbah Min. Tapi dia sangat tabah minggu berikutnya dia melakukan pekerjaannya lagi dengan gembira. Mbah Min senang pohon jeruknya tumbuh subur.
Dua tahun kemudian, aku tidak pernah melihat mbah Min lagi. Rasanya sepi tidak ada yang bisa kugoda lagi. Aku tidak melihat lagi pak tua dengan tongkat ditangannya dengan bangkelan dibahunya memakai baju tambalan putih bersih. Ya aku tidak pernah melihatnya sampai saat ini. Kurasa Mbah Min telah meninggal dunia, dia sudah sangat tua. Aku hanya bisa memandang pohon jeruk di depan rumahku yang sampai saat ini masih tumbuh subur dan buahnya yang lebat sering dipetik oleh warga di kampungku karena memang ditanam di depan rumah. Kata orang orang jerukku itu beda dengan yang di pasar, bentuknya jeruk nipis tapi airnya banyak seperti jeruk zitrun dan segar sekali kalau dibuat wedang jeruk. Kadang tukang baksopun kalau kehabisan jeruk pasti memetik jerukku saat lewat didepan rumahku.
Mbah Min pengemis yang sederhana itu ternyata bisa memberi berkat bagi banyak orang melalui pohon jeruk pecelnya. Meskipun miskin mbah Min bisa berbagi dan membuat orang lain bahagia. Aku banyak belajar dari mbah Min. Pohon di depan rumahku yang usianya lebih dari 20 tahun adalah kenangan yang tak terlupakan. Terimakasih mbah Min.
(Wike)
Dimuat dalam buletin Fides et Actio edisi Agustus, No.50 thn 2014
Please follow and like us:
0

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: