Kisah tentang Sekolah…

Pocket


Kala itu di sebuah dok kampung. Di mulut muara ke laut. Di pesisir pantai barat Papua. Tempat yang asing bagiku pada mulanya. Yang tak pernah bisa kubayangkan sebelumnya. Tapi, entah kenapa, seolah rajin hadir dalam impian. Berada di tempat ini menjadi semacam God’s gift yang tak henti kusyukuri.
Dok lagi ramai. Banyak anak. Keluarga mengantar dan menemani mereka. Sebagian anak bermain dan berlari ke sana ke mari. Yang lain duduk-duduk sendiri. Seperti melamun. Ada pula yang lagi ngobrol dengan orang tuanya. Tas-tas besar dan kardus berbagai ukuran bertumpukan dan bergeletakan di sana sini.
Mereka lagi nunggu longboat. Sebuah perahu kayu agak panjang dengan motor tempel 15 PK atau 40 PK. Perjalanan panjang sedang menanti. Kurang lebih tiga sampai empat jam, cerita mereka. Kota kabupaten adalah tujuannya.

“Di sini tidak ada sekolah lebih tinggi, Pater. Lulus SMP ya harus ke kota kabupaten,” cerita seorang ibu.
“Yang kelas 3 ada ujian. Makanya dorang(mereka) bisa libur, pulang ke kampung,” timpal ibu yang lain sambil merangkul anaknya yang sejak tadi melekat erat.
Masih banyak lagi yang menimpali. Ikutan cerita. Ngomentari cerita yang lain. Ramai jadinya. Tapi, ketemu sudah alasan mengapa mereka ada di sini. Liburan sudah usai. Sudah waktunya kembali ke bangku sekolah.
Lelah berdiri, aku cari tempat untuk duduk. Di pondok reyot nyaris ambruk di pinggir dok. Kotor. Berbagai bentuk sampah berserakan. Senada dengan reyotnya. Tapi, ada bangku panjang di situ. Kelihatannya masih cukup kuat. Bapak tua yang menemaniku langsung aja memposisikan pantat di situ. Rupanya beliau udah duluan capek nungguin aku ngobrol tadi.
Kupandangi anak-anak di dok itu. Kubayangkan bagaimana mereka di kota kabupaten. Melanjutkan sekolah bukan hal gampang bagi anak-anak ini. Bukan cuman urusan ada duwit atau tidak. Pergi jauh. Merantau sejak usia dini. Terpisah dari keluarga. Hidup sendiri jika asrama tidak cukup atau tidak ada rumah sanak. Belajar tanpa ada yang menemani. Dst.
Jelas, persoalannya lalu bukan hanya nilai raport yang harus memuaskan atau pulang membawa ijasah.
Di jaman modern ini, setelah sekian puluh tahun merdeka, kisah sekolah jaman ayahku masih terjadi di depan mata. Betapa merdeka negeri ini….
Rm. Rudy Hermawan CM
Dimuat dalam buletin Fides et Actio edisi No. 24 Juni 2012
Please follow and like us:
0

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: