PERJALANANKU……

Pocket


Jalanan, memang sudah tidak asing lagi bagiku. Ya, dulu aku pernah dibesarkan oleh jalanan. Jalanan yang telah mengajari aku tentang bertahan hidup dan arti hidup. Tidak pernah sekalipun aku menyesali pernah hidup dijalanan. Aku pikir itulah jalan hidupku yang harus aku lalui. Pertengkaran, pencurian, Narkoba, Miras, dan wanita adalah sesuatu hal yang biasa aku jalani. Dari kerasnya jalanan itulah pergulatan hidupku mulai diasah dan diajak untuk berpikir. Apakah aku harus seperti ini terus? Atau aku harus berubah? Perubahan memang perlu sebuah proses dan penghayatan yang terus menerus.

Awal perubahan itu terjadi ketika aku menjadi salah satu anggota redaksi dari Majalah Duta GKJW di Malang. Disitulah aku mulai digodok oleh teman-teman Duta, diajak berpikir dan merenung pada sebuah permasalahan yang tidak pernah terpikirkan olehku. Berat sekali rasanya, apalagi ada saat-saat aku harus reportase dan menuliskan hasil reportaseku. Namun dari kegiatan reportase itulah aku dipertemukan dengan berbagai permasalahan, kegelisahan dan ketidakadilan baik itu dari pemerintahan maupun dari gereja. Suatu ketika majalah yang sedikit sudah bisa mengubah pola pikir dan jalan hidupku harus ditutup. Pergulatan batinku mulai berkecamuk lagi. Apakah aku harus kembali ke jalanan lagi? Ya, memang aku tidak lagi turun ke jalanan, tapi aku kembali masuk pada jaringan penjualan wanita. Aku mendapatkan banyak uang dari bisnis itu. Tetapi aku tidak nyaman dengan semua itu, aku merasakan pertentangan batinku kian tak terkendali. Aku putuskan, aku harus mencari kerja yang halal.
Akupun mendapatkan tawaran kerja ke Jakarta, dan aku akhirnya bekerja disana. Dengan gaji yang lumayan banyak, akupun betah bekerja. Sudah barang tentu, yang namanya Jakarta menyediakan bermacam-macam kebutuhan yang kita inginkan. Akupun mulai terbuai oleh rayuan Kota Metropolitan itu, aku mulai lagi dengan kesenangan-kesenangan sesaat itu. Sampai suatu ketika, aku mendapat SMS dari Mas Anom,yang dahulu Pimpinan Redaksi Majalah DUTA. “Awakmu gelem kerja ning sanggare Rm.Wawan?Iki lagi butuh uwong, sanggar iki ngopeni anak-anak pinggiran karo anak-anak jalanan. ”. Aku bingung harus menjawab apa? Lama aku berpikir dan merenung, harus jawab apa tawaran itu? Aku bisa apa di sanggar itu? Kemampuan akademis jelas tidak ada yang bisa aku andalkan, apalagi aku harus menghadapi anak-anak. Apa tidak takut mereka nanti dengan wajah sangarku?
Tawaran itu akhirnya aku terima. Akupun ke Surabaya untuk melihat keberadaan Sanggar itu. Setelah bertemu dengan Romo Wawan, aktivitasku di sanggar mulai berjalan. Disinilah awal dari perjalanan baru hidupku. Aku harus berhadapan dengan anak-anak yang sangat nakal dan susah diatur. Awalnya aku sangat keras kepada mereka, kadang aku menjewernya dan memukulnya. Itulah yang aku lakukan ketika ada anak yang bersalah, sama juga ketika aku dipukul waktu kecil oleh orang tuaku. Akupun mengembalikan tindakanku pada diriku sendiri. Aku ingat ketika aku dipukul pada waktu kecil, aku tidak jera, malah cenderung lebih nakal. Sedikit demi sedikit aku belajar untuk menjadi seorang pendamping yang dapat mengerti anak-anak. Waktu kunjungan ke rumah anak-anak, aku semakin disadarkan oleh kondisi anak-anak yang membuat mereka nakal dan susah diatur. Aku melihat anak-anak kurang diperhatikan orang tuanya, memang karena kebutuhan ekonomi yang membuat situasi seperti ini. Dari berkunjung ke rumah anak-anak dan terus berinteraksi dengan mereka, akupun tahu kalau mereka hanya butuh diperhatikan dan didengarkan. Memang butuh sabar dan terus belajar memahami dunia anak-anak. Roda kehidupan terus berputar, ketajaman hati, pikiran , dan laku hidupku terus diasah di Sanggar Merah Merdeka.
Selain mendampingi anak-anak di sanggar, aku mendapatkan tugas juga untuk mendampingi anak-anak jalanan. Aku sebenarnya merasa lucu juga, dulu aku jadi anak jalanan, sekarang aku harus mendampingi anak jalanan juga. Sebenarnya kalau dibilang mendampingi aku belum sampai disitu, aku masih berusaha mengenal mereka. Sekarang aku sudah banyak mengenal anak-anak jalanan dan anak-anak PUNK yang ada di daerah Panjang Jiwo dan Wonokromo. Aku juga menjalin perkenalan dengan Ibu dan anak-anaknya yang berjualan Koran di daerah Plasa Marina. Kembali aku dihadapkan pada cermin diriku, aku tahu kalau aku dulu juga sama seperti mereka. Harus aku apakan mereka? Akupun masih hanya bisa sekedar menemani mereka ngobrol, dan bersenda gurau. Aku senang mereka merasa nyaman dengan kehadiranku.
Sudah barang tentu kehidupan jalanan tak lepas dari masalah, salah satu yang sekarang menjadi perhatianku adalah adanya Undang-undang no.6 tahun 2011 tentang penyelenggaraan perlindungan anak.Yang terjadi kemudian adalah pemerintah daerah melarang anak-anak mengamen ataupun berjualan Koran di jalan. Kalau melihat tujuannya jelas sangat baik, menghindarkan anak-anak dari kerasnya kehidupan jalanan. Namun yang terjadi sekarang, anak-anak yang ngamen, jualan Koran, harus ditangkap dan dibawa ke Lingkungan Pondok Sosial (LIPONSOS). Katanya mereka dibina, tapi sepengetahuanku mereka dibiarkan saja. Kalau toh ada, itu tidak sesuai dengan bakat dan minat anak-anak tersebut. Dan yang mengherankan, penangkapan anak-anak itu tidak hanya oleh Satpol PP, tetapi juga para Polisi berpakaian preman. Lucunya lagi, dari hasil penangkapan itu mereka mendapat poin untuk proses kenaikan pangkat. Aku belum bisa apa-apa dengan Perda itu, yang aku lakukan sementara ini adalah ketika anak-anak ada yang tertangkap, biasanya aku membantu proses pengeluaran mereka dari LIPONSOS. Aku merasa kasihan kalau mereka berlama-lama disana, karena tempat penampungannya dijadikan satu dengan para gelandangan dan pengemis. Dari tertangkapnya anak-anak ini pula aku belajar bagaimana menangani birokrasi dan bertemu dengan orang-orang pemerintahan. Memang masih perlu belajar lagi, aku merasa banyak hal yang harus aku ketahui untuk mendampingi anak-anak di sanggar dan jalanan. Memang tidak bisa dipungkiri, perjumpaanku dengan anak-anak banyak mengubah cara pikir dan tindakanku. Terimakasih untuk Romo-romo di Yayasan Kasih Bangsa Surabaya yang telah banyak membimbing, teman-teman yang selalu mendukung dan anak-anak di sanggar yang selalu menjadi inspirasiku. “Mari jadikan hidup lebih berarti.”

Wahyu Djolodong

Koordinator Jalanan
Sanggar Merah Merdeka
(dimuat dalam buletin Fides Et Actio edisi No.22 April 2012) 
Please follow and like us:
0

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: