Si Abang Sopir Mikrolet

Pocket

Malam itu aku sendirian di dalam mikrolet. Sudah sangat malam. Jalan masih lumayan ramai. Kendaraan seperti tiada henti lalu lalang. Mikrolet-mikrolet juga seakan berkejaran tanpa jeda. Tapi pejalan kaki dan para kandidat penumpang mikrolet udah banyak berkurang.

Aku meringkuk di sudut belakang. Terasa dingin. Badanku lelah dan pegal-pegal. Mungkin karena umur. Tapi, sejak pagi terus menerus dalam perjalanan kayaknya memegang peranan paling penting. Kuberharap segera berhenti. Segera sampai di tujuan. Menemukan air segar untuk wajah yang pasti dah kacau balau. Lalu secepatnya mencari posisi horisontal yang nyaman untuk badan penat ini.


Mikrolet satu ini ngebut sejak tadi. Rasanya dah tak terhitung berapa kendaraan telah disalip. Juga tak terhitung berapa kali mendadak berhenti. Seakan di belakang tak ada kendaraan lain. Bunyi klakson ramai mengiringinya. Memprotes bang sopir yang pasang muka tak peduli. Dia sendiri pun berkali-kali memencet klakson. Minta jalan pada kendaraan lain.

Badanku yang udah renta plus capek hampir selalu terdorong keras ke depan tiap kali rem ditekan kuat. Hukum relativitas bermain di sini. Kayaknya lebih nyaman pindah ke depan. Toh tetap kosong.

Kuperhatikan wajah bang sopir sejak duduk di belakang tadi. Wajah keruh. Tiap kali menawari penumpang, tak ada yang masuk ke mikroletnya. Dan, wajahnya menjadi makin keruh. Seperti wajah orang yang tak bisa menemukan solusi untuk satu hal penting.

“Setoran belum dapet, Bang” ujarnya ketika kutanya.

Aku menghela nafas. Makanya, abang ini nyetir kayak orang kesurupan, pikirku.

Mestinya orang-orang seperti dia ini menjadi solusi bagi masyarakat. Solusi bagi transportasi masal. Tetapi, ketika mereka harus mencari penumpang sendiri, persaingan yang terjadi. Dan, dengan persaingan seperti ini, mereka dibiarkan berebut. Berebut penumpang. Berebut rejeki. Berebut kehidupan.

Ketika dibiarkan bersaing dan berebut, masih pantaskah menuntut mereka menaati peraturan? Bukankah  dengan sendirinya hukum rimba yang berlaku? Bukan hanya di antara mereka sendiri. Tetapi, juga antara mereka dan kendaraan pribadi. Padahal kendaraan pribadi telah banyak difasilitasi jalan tol, fly-over, marka khusus tanpa batasan, dsb. Jadinya hukum rimba lebih kerap berlaku antara mereka dengan pengendara motor, warga masyarakat yang tak mampu beli mobil. Hukum rimba di antara orang-orang kecil.

Si abang melanjutkan obrolan. Membuyarkan lamunanku. Anak sulung si abang ditabrak lari. Hari ini harusnya keluar dari rumah sakit. Tapi, uang tidak ada.

Dia terus bercerita. Sementara matanya bergerak liar melirik pinggiran jalan. Di wajahnya membayang rasa geram. Sekaligus perasaan tak berdaya. Mungkin tanpa sadar, dia makin kuat menginjak gas. Makin kuat pula menekan pedal rem. Perutku jadi mual, walau sudah duduk di depan.

“Dia di rumah sakit mana, Bang?” tanyaku.

Si abang menyebut satu rumah sakit. Rumah sakit Katolik. Rumah sakit Katolik???!!! Aku langsung tertunduk. Merasa bersalah. Juga menyesal karena bertanya. Rasa mual makin menjadi-jadi….

November 2010…ketika lagi berkeliling dari kota ke kota…

(Rm. Rudy Hermawan CM)
dimuat dalam buletin Fides et Actio edisi Oktober 2013
Please follow and like us:
0

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: