Perjamuan di Atas Trotoar: Belajar Ilmu Syukur

Perjamuan di Atas Trotoar oleh para pedagang
Spread the love

Lapar yang Membuka Ruang Perjumpaan

Jarum jam menunjukkan pukul setengah sembilan malam ketika perut saya mulai berdemo. Mengendarai motor membelah angin malam, tujuan saya hanya satu: gerobak siomay langganan untuk sekadar mengganjal lapar dengan modal lima ribu rupiah. Namun, malam itu saya pulang membawa sesuatu yang jauh lebih mengenyangkan daripada sepiring makanan—sebuah pelajaran hidup tentang ketulusan yang mengetuk pintu hati.

Senyum pedagang tua

“Monggo Mas, makan di sini mboten nopo-nopo,” sapa bapak penjual siomay dengan senyum khasnya yang selalu hangat, sembari menawarkan selembar banner bekas di atas trotoar sebagai tempat duduk.

Saya menerima tawaran itu, berniat menikmati siomay sambil memandangi lampu-lampu kota. Namun, malam yang biasa itu mendadak berubah menjadi panggung kebaikan yang bergulir tanpa henti.

Rantai Solidaritas yang Tak Putus

Di sela kunyahan siomay, bapak penjual itu tiba-tiba menyodorkan sebatang rokok dan beberapa tusuk telur gulung. “Ini Mas, buat camilan,” seolah-olah ia sedang merayakan sebuah rezeki dan saya adalah tamunya.

Sembari mengobrol, beliau bercerita. Selama empat tahun, beliau sempat merasakan getirnya memikul atau mendorong gerobak keliling kota. Penghasilannya tak menentu. Jika habis bersih, ia bisa membawa pulang 200 ribu rupiah. Tapi jika hujan turun membasahi bumi, angka itu fana. Kini, ia bisa sedikit bernapas lega semenjak menetap di satu titik trotoar bersama pedagang lainnya.

Saat kami asyik bertukar cerita, sebuah keajaiban kecil kembali terjadi. Penjual sate di sebelahnya tiba-tiba datang membawa dua cangkir kopi hitam hangat. Cuma-cuma. Tanpa diminta.

Tak lama berselang, seorang ibu penjual roti lewat menjajakan dagangannya yang belum habis. Alih-alih menolak karena kenyang, bapak penjual siomay ini justru membeli dua roti dan sengaja melebihkan uang pembayarannya tanpa mau menerima kembalian. Sang ibu pun ikut duduk, melepas penat sembari berkeluh kesah bersama kami.

Ibu Penjual kue

Hati yang Melampaui Impitan Ekonomi

Malam itu, di atas trotoar yang keras, saya tertegun. Saya menyadari satu hal: Saya sedang dikelilingi oleh orang-orang yang paling kaya di kota ini. Mereka bukan konglomerat dengan setelan jas rapi. Mereka adalah para pedagang kaki lima yang bajunya mungkin berbau asap, yang dompetnya tipis, dan yang hari esoknya masih menjadi teka-teki penuh perjuangan. Namun, entah terbuat dari apa hati mereka. Di tengah beban ekonomi yang menghimpit, tidak ada gurat keserakahan. Yang ada hanyalah ruang untuk saling memberi, saling menopang, dan saling murah senyum seolah hidup mereka tanpa beban.

Para pedagang duduk bersama dan berinteraksi dengan perjamuan di atas trotoar

Mereka mempraktikkan ilmu syukur dengan cara yang paling murni: tidak menunggu kaya untuk berbagi.

Tempat Ibadah yang Sesungguhnya

Spion menampilkan perjamuan di atas trotoar

Saya pulang malam itu dengan dada yang sesak oleh rasa haru. Trotoar malam itu telah menjelma menjadi tempat ibadah yang sesungguhnya—tempat di mana kemanusiaan dirayakan tanpa pamrih, dan di mana lima ribu rupiah saya ditukar dengan sejuta rasa syukur yang tak ternilai harganya.

Oleh: V. Frisco Bella


Fides et Actio (Iman dan Perbuatan) adalah ruang literasi reflektif Yayasan Kasih Bangsa Surabaya (YKBS). Rubrik ini hadir untuk membaca realitas sosial, menggugat hal-hal yang mengikis martabat manusia, dan menyuarakan keberpihakan pada yang rapuh lewat semangat Vinsensian. Mewartakan Kasih Melalui Literasi, Menggerakkan Perubahan Melalui Sapaan Nyata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *