Seni Bukan Barang Mewah: Panggung Perjuangan di Warung Kopi

Oleh: V. Frisco Bella
Perspektif yang Bergeser
Dulu, saya mengira teater hanyalah sekadar hiburan di atas panggung yang megah. Namun, pandangan itu berubah total saat saya bergabung dengan kelompok teater rakyat. Kelompok ini unik karena melibatkan teman-teman dari serikat buruh. Panggung kami pun jauh dari kesan mewah; kami mementaskannya di tempat parkir hingga jalanan di depan warung kopi yang menjadi basecamp para buruh di daerah Wonoayu, Sidoarjo. Bersama seorang rekan dari yayasan, kami mengangkat kisah nyata tentang perjuangan kesepakatan UMSK (Upah Minimum Sektoral Kabupaten) demi keberlangsungan hidup keluarga para buruh.
Mengolah Rasa di Bawah Pohon Rindang

Proses latihan kami tidak dilakukan di studio yang nyaman dan terfasilitasi. Kami menginap di gubuk Griya Samadhi Vinsensius dan berlatih di halaman terbuka. Jika hujan tidak turun deras, kami berlatih di bawah pohon rindang di samping lapangan bola. Di sana, kami tidak hanya melatih vokal atau artikulasi, tetapi juga mengolah rasa dalam waktu yang singkat—hanya tiga hari efektif dan satu hari evaluasi. Kami dipacu untuk berpikir keras menyusun alur cerita, premis, sinopsis, hingga dialog pementasan. Meski tenaga dan pikiran terkuras, kolaborasi dengan teman-teman buruh yang sangat suportif membuat tantangan ini terasa bermakna bagi saya yang masih awam.
Dilema di Balik Karakter
Dalam pementasan bertema persetujuan UMSK ini, saya mendapatkan peran yang cukup berat: sebagai Ketua Serikat C. Karakter ini digambarkan “bermuka dua” karena ia dirundung ketakutan akan PHK dan memilih cari aman demi kelangsungan hidup. Proses pendalaman karakter ini sangat sulit bagi saya. Ada pergulatan batin antara menuntut upah yang layak (UMSK) atau tetap pada upah minimum (UMK) karena situasi perusahaan yang sedang mengalami deflasi. Di sini saya sadar, teater rakyat bukan sekadar akting, melainkan sarana aspirasi dan pemberdayaan bagi masyarakat buruh.
Panggung sebagai Ruang Negosiasi

Momen pementasan di depan warung kopi itu terasa sangat nyata. Penontonnya adalah rekan-rekan buruh sendiri, keluarga mereka, dan warga sekitar. Ada satu adegan puncak yang sangat membekas: ketika ketiga ketua serikat berdiri mewakili amanah anggotanya. Serikat A teguh dengan UMSK, Serikat B memilih UMK, dan saya—sebagai Serikat C—sempat mengalami blank dan membeku (freeze) di panggung. Saat itulah saya merasakan dilema moral yang sesungguhnya. Kejadian itu menyadarkan saya bahwa apa yang kami tampilkan adalah cerminan kesadaran bersama tentang kebenaran dan nilai-nilai yang diperjuangkan kelompok agar masyarakat tetap berfungsi secara adil.
Senjata yang Menyambung Lidah
Melalui proses ini, saya mengerti bahwa seni bukanlah barang mewah. Seni adalah alat, senjata, sekaligus penyambung lidah. Buruh bukanlah sekadar angka dalam laporan produksi; kami adalah manusia yang suaranya layak didengar dan perjuangannya layak dipentaskan. Menjadi “Ketua Serikat” di panggung saja sudah terasa berat, apalagi di dunia nyata, di mana ancaman efisiensi perusahaan selalu membayangi. Terima kasih untuk kawan-kawan serikat, tim Institut Teater Rakyat Yogyakarta atas ilmunya, serta tim WADAS atas fasilitasnya. Seni adalah senjata kami!
