Menyiram Kembali “Gelas” yang Kering: Ruang Teduh bagi para Pelayan Kasih YKBS

Retret Pelayan Kasih YKBS menghayati Keutamaan Vinsensius
Spread the love
Retret Pelayan Kasih YKBS menghayati Keutamaan Vinsensius

Menjadi seorang pelayan kasih di tengah persoalan sosial bukanlah tugas yang ringan. Seringkali, dalam ketulusan membantu sesama, muncul kondisi compassion fatigue—sebuah titik kelelahan batin di mana energi untuk berbelas kasih terasa terkuras habis. Kita begitu sibuk menuangkan air ke gelas orang lain, hingga tanpa sadar gelas kita sendiri menjadi kering.

Menyadari pentingnya mengisi kembali tangki jiwa yang kosong, Yayasan Kasih Bangsa Surabaya (YKBS) mengadakan retret bersama untuk pengurus, karyawan, dan relawan.

Mencari Keheningan di Blitar

Pada tanggal 5 hingga 7 Februari 2026, sebanyak 17 orang kawan seperjalanan YKBS berkumpul di Griya Hening Santo Christophorus, Stasi Santo Tomas Ngadirejo, Blitar. Jauh dari kesibukan rutin, mereka hadir untuk merenungkan kembali dasar pelayanan mereka melalui tema: “Menghayati 5 Keutamaan Vinsensius sebagai Landasan dalam Pelayanan dan Karya Sosial.”

Belajar dari Pengalaman Misi Romo Mistri, CM

Retret ini didampingi oleh Romo Mistri, CM, seorang pastor rekan dari Paroki Santa Maria Blitar. Beliau tidak hanya memaparkan teori, tetapi juga membagikan kisah nyata saat beliau menjalani misi di Suriname.

Selama tiga hari, para peserta diajak mendalami empat sesi utama:

  1. Simplisitas (Kesederhanaan): Belajar jujur dan apa adanya tanpa lapisan kepalsuan.
  2. Humilitas (Rendah Hati) & Mansuetudo (Lemah Lembut): Menyadari kecilnya diri di hadapan Tuhan yang Maha Besar.
  3. Mortifikasi (Mati Raga): Memaknai setiap lelah dan pengorbanan sebagai bagian dari doa.
  4. Zelus Animarum (Semangat Berkobar): Menjaga nyala api cinta dalam melayani sesama.

Romo Mistri berusaha menjahit setiap materi dengan gerak langkah YKBS, sehingga setiap poin terasa sangat dekat dengan keseharian para pelayan di lapangan.

Berbagi Hati: Jujur, Apa Adanya

Salah satu momen paling mengharukan adalah sesi berbagi (sharing) antar-rekan kerja. Dengan mengedepankan nilai Simplisitas, setiap orang diajak untuk berbicara jujur, apa adanya, dan tanpa lapisan pelindung.

Di sinilah “kekeringan batin” itu diakui dan dipulihkan. Para peserta diajak untuk tidak melihat lelah dan pengorbanan mereka sebagai “luka”, melainkan sebagai bukti nyata bahwa Tuhan sedang meminjam tangan dan hati mereka untuk bekerja. Melalui cerita sesama rekan, muncul kekuatan baru untuk saling menguatkan dan tetap solider.

Pulang dengan Hati yang Terisi

Retret ini menjadi pengingat bahwa sebelum kita mampu membagikan kasih kepada orang lain, kita harus terlebih dahulu membiarkan diri kita dicintai oleh Tuhan.

Dengan hati yang telah disegarkan, para pelayan kasih YKBS kini siap kembali berjalan bersama mereka yang kecil, lemah, miskin, dan tersingkir—bukan dengan kekuatan sendiri, melainkan dengan semangat Vinsensian yang rendah hati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *