DI ANTARA HUJAN DAN DOA (Bagian II – Akhir)
Suster Mary, PK
Penulis

Pagi itu, udara masih basah oleh sisa hujan semalam. Langit tidak sepenuhnya cerah, tetapi juga tidak lagi gelap. Suster Melania berdiri di halaman basecamp Pinangsori sambil merapikan tas kecil berisi obat dan buku catatan. Hatinya tenang, meski tubuhnya masih menyimpan lelah dari hari-hari sebelumnya.
Hari itu, mereka menuju Aek Hucim. Perjalanan ke sana memakan waktu satu jam lebih. Jalan sempit dan berliku membuat mereka harus berbagi dua sepeda motor. Di satu motor, mereka bertiga duduk berdesakan. Tidak nyaman, tetapi tidak ada keluhan. Angin pagi menerpa wajah, dan debu sesekali masuk ke mata. Suster Melania memejamkan mata sejenak, lalu berdoa dalam hati, “Tuhan, terimalah perjalanan sederhana ini.”
Saat tiba di Aek Hucim, umat menyambut dengan senyum yang hangat. Tidak banyak orang, hanya sekitar tiga puluh dua jiwa. Tetapi setiap wajah menyimpan cerita. Ada yang datang dengan batuk tak kunjung sembuh, ada yang mengeluh nyeri, ada pula yang hanya ingin duduk dan ditemani.
Suster Melania duduk di samping seorang ibu tua yang memegangi lengannya sendiri. “Suster, saya senang Suster datang,” katanya pelan. Suster Melania tersenyum. “Kami juga senang bisa bertemu Ibu.”
Hari itu, pelayanan terasa sangat sederhana. Tidak ramai. Tidak terburu-buru. Tetapi justru di situlah Suster Melania merasakan kedalaman. Ia sadar, Tuhan tidak selalu hadir dalam hal besar. Kadang Ia hadir dalam perjumpaan yang sunyi.
Saat pulang, mereka mendapat tumpangan mobil pick-up. Suster Melania duduk di belakang, memandang alam yang terbentang luas: sawah, bukit, dan langit yang perlahan terbuka. Hatinya dipenuhi rasa syukur.
Di balik kelelahan, Tuhan menyelipkan keindahan.
Keesokan harinya, mereka kembali berangkat. Kali ini menuju Sihabolasan. Pukul setengah sepuluh pagi, tim bergerak bersama. Sebagian naik motor, sebagian naik mobil. Jalanan berlumpur membuat perjalanan terasa lebih lama dari biasanya.
Di dekat Lubuk Jantan, mobil yang mereka tumpangi tiba-tiba terjebak lumpur. Roda berputar, tetapi tidak bergerak. Mereka turun satu per satu. Sepatu dan sandal segera tertutup lumpur.
“Mari kita dorong bersama,” kata salah satu dokter.
Mereka mendorong mobil itu dengan tenaga seadanya. Napas tersengal, tangan kotor, pakaian basah. Beberapa kali gagal. Namun, tidak ada yang menyerah. Akhirnya, dengan satu dorongan terakhir, mobil itu keluar dari lumpur.
Suster Melania tersenyum kecil. “Terima kasih, Tuhan,” bisiknya.

Di Sihabolasan, pelayanan berlangsung panjang. Sekitar sembilan puluh orang datang, ditambah dua kunjungan rumah. Setelah itu, Suster Melania dan tim dokter kembali melanjutkan perjalanan dengan motor trail menuju Sibolasei. Jalannya lebih sempit, lebih menantang. Namun, hatinya terasa ringan.
Ia sadar, pelayanan hari itu bukan hanya soal jumlah pasien atau jarak tempuh. Tetapi tentang kebersamaan, tentang tangan-tangan yang saling menguatkan, tentang langkah-langkah kecil yang ditempuh bersama Tuhan.
Malam terakhir di Sibolga terasa berbeda. Di pastoran, mereka berkumpul untuk evaluasi dan pamit. Ada keheningan yang penuh makna. Di susteran, para-Suster KSFL menyiapkan makan malam istimewa: arsik ikan mas, tersusun rapi di atas nasi. Hari itu mereka juga merayakan pesta pelindung Santa Lusia.
Suster Melania membagikan medali kecil kepada para suster dan tim. Tidak besar, tidak mahal, tetapi penuh arti. Sebuah tanda syukur dan kenangan. Dalam hati, ia berkata, “Tuhan, terima kasih atas kesempatan ini.”
Malam itu, sebelum tidur, Suster Melania menulis satu kalimat di buku kecilnya:
“Di antara hujan dan doa, aku belajar bahwa pelayanan bukan tentang kesempurnaan, tetapi tentang kesediaan. Di tengah lumpur dan jalan rusak, Tuhan tetap setia berjalan bersama kami.”
Ia menutup buku itu perlahan. Esoknya mereka akan pulang. Tetapi jejak pelayanan itu akan tinggal lama di hatinya.
— Catatan Penulis:
Sosok “Suster Melania” dalam kisah ini adalah personifikasi dari suara hati penulis sendiri. Nama tersebut dipinjam dari seorang gadis kecil yang penulis jumpai di lokasi bencana—seorang anak yang bermimpi ingin menjadi suster—sebagai pengingat akan kemurnian niat dalam setiap pelayanan.

Pingback: DI ANTARA HUJAN DAN DOA (Bagian I) | Yayasan Kasih Bangsa Surabaya