DI ANTARA HUJAN DAN DOA (Bagian I)
Suster Mary, PK
Penulis

Hujan turun seperti tirai panjang sejak fajar. Di balik kaca mobil yang berkabut, Suster Melania melihat bukit-bukit yang tidak lagi hijau. Tanahnya terkelupas, beberapa bagian seperti dirobek oleh tangan yang tak terlihat. Jalanan yang mereka lalui penuh lumpur, retak, dan sisa-sisa longsor yang belum selesai dibersihkan.
“Kita masih dua jam lagi,” kata Dokter Victor dari depan, tanpa mengalihkan pandangan dari jalan yang sempit.
Suster Melania menatap rosario kecil di tangannya. “Tidak apa-apa,” gumamnya. “Roh Tuhan selalu tiba lebih dulu daripada kami. Kita hanya mengikuti jejak-Nya.”
Namun, hatinya mengakui: perjalanan ini bukan sekadar jalan menuju lokasi pelayanan. Ia seperti memasuki sebuah ruang batin yang siap menguji ketahanan hati manusia
Sesampainya di Hutagodang, hujan belum berhenti. Warga berkerumun di posko, sebagian hanya membawa pakaian yang menempel di tubuh. Ada bau lumpur yang menua, bercampur dengan bau kayu basah dan kecemasan yang tak tersamar.
Seorang anak kecil, perempuan berusia sekitar lima tahun, berdiri menatap genangan air di tanah. Bajunya lusuh, rambutnya lepek karena hujan. Ketika Suster Melania mendekat, anak itu tidak bergerak. Ia hanya berkata dengan suara seperti bisikan, “Rumah saya pergi, Suster.”
Suster Melania berjongkok. “Pergi ke mana?”
Anak itu menunjuk sungai yang airnya masih berwarna cokelat pekat. “Ke sana. Semua pergi. Bapak belum ditemukan.”
Kata-kata itu tidak keluar seperti keluhan, tidak juga seperti lirih kesedihan. Ia menyampaikannya seperti fakta yang telah ia terima terlalu cepat, terlalu dini.
Suster Melania merasakan tenggorokannya mengencang. Ia ingin memeluk anak itu, tetapi tangannya justru menyentuh kepala kecil itu dengan lembut. “Tuhan tahu namamu, Nak. Ia tidak akan membiarkanmu sendirian.”
Anak itu mengangguk pelan, meski matanya tidak sepenuhnya mengerti.

Pelayanan berjalan di bawah suara hujan yang terus mengguyur. Obat terbatas, pasien banyak, keluhan mereka seperti seruan alam yang terluka: batuk, sesak, gatal, lemas, hingga pusing karena tekanan darah tinggi. Namun, yang lebih menyakitkan adalah wajah-wajah yang datang dengan mata kosong—mereka yang kehilangan keluarga, kehilangan rumah, dan kehilangan arah.
Seorang bapak mendekat dengan tangan gemetar. “Suster, saya ikut mencari jenazah kemarin. Lumpur begitu pekat… saya pikir saya juga akan hilang.”
Suster Melania menatapnya dalam. “Apa yang membuat Bapak tetap bertahan?”
Ia diam lama. Sangat lama. Kemudian berkata pelan, “Saya tidak tahu. Mungkin… karena ada orang yang masih berharap saya kembali.”
Suster Melania mengangguk. “Itulah yang Tuhan pakai untuk menyelamatkan kita: harapan yang dititipkan pada orang lain.”
Siang itu mereka merayakan Misa di posko. Hujan menjadi latar, angin membawa bau lumpur dari sungai. Pastor Aditya berdiri di depan altar sederhana, hanya meja kayu dengan kain putih yang masih basah.
“Saudara-saudari,” katanya sambil memandang sekitar, “kita mungkin merasa kehilangan banyak hal. Tetapi di titik paling gelap inilah, Tuhan justru paling dekat.”
Sebuah keheningan menyelimuti umat yang hadir—keheningan yang bukan sekadar diam, tetapi seperti ruang suci tempat air mata bisa jatuh tanpa malu. Saat Komuni dibagikan, Suster Melania melihat seorang ibu yang beberapa jam lalu menangis karena anaknya belum ditemukan. Ibu itu menerima hosti dengan tangan gemetar.
Dan Suster Melania menyadari: kadang iman bukan soal mengerti, tetapi soal bertahan di tengah ketidakmengertian.
Ketika pelayanan selesai, perjalanan pulang bukan hal mudah. Jembatan rusak, hujan semakin deras, dan sungai naik perlahan. Mereka harus menyeberang dengan titian kayu yang licin. Setiap langkah terasa seperti berdialog dengan maut yang mengintai dari bawah.
“Suster, hati-hati!” seru Bruder Stev ketika Suster Melania hampir terpeleset.
Suster Melania mengangguk, namun langkahnya tetap mantap. Ia merasa seolah Tuhan sedang berjalan di sampingnya, di antara hujan yang menggila dan sungai yang mengaum. Di tengah titian, ia berhenti sejenak. Bukan karena takut, tetapi karena kesadaran membanjiri benaknya: betapa kecil manusia, namun betapa besar kasih yang membuat manusia bertahan.
Ia mengangkat wajah, membiarkan hujan membasahi seluruh jubah dan wajahnya. Dalam lelahnya, ia berdoa tanpa kata—doa yang lahir dari luka dunia dan harapan yang masih hidup.
Malam itu, di Pinangsori, Suster Melania menulis dalam buku hariannya:
“Tuhan, hari ini aku belajar bahwa cinta-Mu hadir dalam bentuk yang paling sederhana: tangan warga yang menolong kami menyeberang, anak kecil yang tetap tersenyum meski kehilangan rumah, ibu-ibu yang memasak sambil menangis, dokter yang tetap melayani meski kelelahan, dan hujan yang tak berhenti namun tetap menjadi berkat. Biarlah aku boleh menjadi jawaban kecil bagi doa mereka. Biarlah setiap langkah pelayananku menjadi tetes cahaya di tengah awan yang belum terbelah.”
Ia menutup buku itu. Di luar, hujan akhirnya berhenti. Tetapi pelayanan belum selesai. Dan ia tahu: besok Tuhan akan kembali menuntunnya ke mana pun air mata dunia memanggil.

Pingback: DI ANTARA HUJAN DAN DOA (Bagian II – Akhir) | Yayasan Kasih Bangsa Surabaya