KASIH JANGAN MEMANDANG MUKA.

Spread the love

Di sebelahku ada sepasang suami istri muda. Istrinya rambutnya dicat pirang. Memakai topi dan berkacamata modis. Suaminya rambutnya pun dibuat merah. Mereka berdandan cukup modis. Kami mengobrol sebentar. Dia dari daerah sekitar Ponorogo dan mau ke sebuah daerah dekat Banjarmasin. Aku lupa daerah yang disebutnya. Saat ada orang berteriak-teriak pemeriksaan tiket, sang suami tergesa keluar ruangan. Istrinya lalu merebahkan diri pura-pura tidur. Saat petugas sampai di tempat kami, dia lalu menggoncangkan tubuh perempuan itu dan meminta tiket. Perempuan itu bilang tiketnya dibawa oleh suaminya dan sekarang suaminya entah dimana. Mereka berdebat sejenak. Akhirnya petugas meninggalkannya. Mungkin kejadian macam ini sudah kerap dihadapi oleh petugas.

Besok paginya ada pembagian makan pagi. Makan pagi bagi penumpang kelas ekonomi akan diantar oleh petugas berupa nasi bungkus. Sedangkan untuk kelas lain makan pagi di café. Untuk mendapat makan pagi harus menukar tiket. Saat sampai pada pasangan suami istri yang modis, petugas mengatakan bahwa mereka tidak mendapat makan pagi, sebab tidak mempunyai tiket. Seorang suami istri yang sudah berumur dan berada di sebelahnya mengatakan biar jatah makan paginya diberikan pada mereka saja, sebab dia membawa bekal makanan sendiri. Pasangan suami istri yang modis ini akhirnya mendapat makan pagi.

Sampai makan pagi selesai aku melihat sepasang suami istri tua itu tidak makan. Mereka masih asyik mengobrol. Sedangkan pasangan modis ini keluar dari ruangan entah kamana. Aku jadi penasaran apakah dia memang mempunyai bekal makan pagi atau hanya ingin memberikan makan paginya. Aku iseng-iseng tanya apakah mereka tidak makan pagi? Bapak tua itu mengatakan bahwa nanti saja mereka beli di café ada ayam goreng dan nasi seharga Rp 25.000. Jadi mereka tidak membawa bekal.

Makan pagiku pun tidak kumakan. Aku hanya melihat isinya berupa nasi yang cukup banyak dan sambal menutup sebagian nasi. Sepotong ikan dengan kuah coklat. Ada cabenya. Sedikit sayur sawi. Kututup kembali kotak makanan itu. Aku tidak terbiasa makan pagi, sebab sehari biasanya hanya makan sekali pada sore hari saja. Tetapi mengapa aku tidak berpikir untuk memberikan makan pagiku pada pasangan suami istri itu? Mungkin aku sudah tidak begitu suka dengan dandanan dan pembicaraannya yang kelihatan wah, sehingga aku biarkan saja mereka tidak mendapat makanan.

Aku menjadi malu dengan pasangan suami istri tua yang begitu cepat bereaksi saat ada orang yang tidak mendapat makanan. Padahal dudukku lebih dekat dengan pasangan suami istri yang modis itu. Penulis surat Yakobus mengatakan kalau mengasihi orang jangan memandang muka. Ternyata aku sudah memandang muka. Aku tidak terpusat pada orang yang membutuhkan melainkan pada penampilan yang membuatku tidak nyaman. Menurutku terlalu bergaya.

Aku jadi ingat nasehat seorang romo senior saat masih mendampingi buruh di Tangerang. Suatu saat aku menyampaikan uneg-uneg, mengenai kawan-kawan buruh yang menurutku dandanannya terlalu berlebihan. Romo senior menjawab bahwa mereka setiap hari memakai seragam yang sama dengan kawan satu pabriknya. Orang tidak melihat dirinya hanya melihat seragamnya. Dapat dipahami bila ada kesempatan untuk memakai baju yang berbeda maka mereka akan memakai baju yang mewah. Mereka ingin menunjukkan siapa dirinya. Ingin dilihat dan diperhitungkan orang.

Baju dan penampilan bukan sekedar penutup tubuh melainkan untuk menunjukkan siapa dirinya. Orang dapat diperhitungkan jika memakai baju tertentu. Pernah suatu hari aku diminta untuk memberi misa di sebuah daerah kaya. Oleh karena aku belum hafal daerah itu maka aku minta tolong sopir untuk mengantar. Dia memakai baju batik lengan panjang dan celana hitam. Bajunya dimasukkan celana. Oleh karena aku berpikir nanti harus pakai jubah dan kasula, maka aku memakai kaos dan celana jeans saja. Ketika sopirku membawakan tas peralatan misa, langsung pemilik rumah bergegas menghampiri dan mengatakan, “Mari saya bawakan romo.” Sambil tersenyum sopirku mengatakan “Ini romonya, saya sopirnya.” Hanya karena pakaian maka orang menilai berbeda.

Pasangan suami istri itu mungkin juga seperti para buruh yang ingin diperhitungkan dengan penampilannya. Seharusnya aku peka dan sadar akan hal itu. Mereka tidak beli tiket mungkin tidak mempunyai uang yang cukup. Tetapi mereka nekad naik kapal agar dapat sampai ke Kalimantan. Harusnya aku sadar akan hal itu tetapi ternyata aku masih mengadili orang dengan memandang muka. Pengalaman yang perlu aku refleksikan untuk mengubah hidupku agar tidak mudah menilai orang dan hanya mengasihi orang seperti yang aku inginkan. Aku telah mengabaikan Tuhan yang datang padaku.

Oleh : Rm. Yohanes Gani, CM

Dimuat dalam buletin Fides et Actio edisi No.127, Januari Thn.2021.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *