Suatu Malam Di Restoran

Pocket

Di suatu siang, kakak iparku menghubungiku dan mengajakku untuk menemaninya mencari kado untuk kakakku yang sedang berulang tahun pada hari itu. Maka sorenya, segera setelah aku sampai di rumah sepulang kerja, aku segera mandi dan bersiap lalu menunggu kakak iparku datang menjemput.

Sekitar pukul 17.30 kami meluncur menuju ke gereja St. Maria Tak Bercela untuk terlebih dahulu mengikuti misa harian sesuai permintaan kakak iparku. Mungkin di hari yang juga bertepatan dengan hari ulang tahun pernikahan mereka yang kedua belas itu, kakak iparku mempunyai ujub doa khusus yang ingin didoakan dalam perayaan ekaristi. Lalu, setelahnya kami segera meluncur menuju Plaza Tunjungan untuk mencari barang yang akan dijadikan kado. Setelah berputar-putar sekitar 1 jam, kami tidak menemukan barang yang cocok. Lalu kakak iparku mengajak untuk berpindah tempat ke Galaxy Mall padahal waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 dan mataku sudah terasa berat dan perutku sudah meraung-raung minta diisi. Apa boleh buat, aku hanya bisa menuruti saja.

Setibanya di Galaxy Mall, kakak iparku menawari untuk makan malam terlebih dahulu. Pucuk dicita ulam pun tiba. Karena badanku sudah lemas akibat kelaparan akut, akupun segera mengiyakan. Lalu kami pun segera menuju ke sebuah restoran pilihan kakak iparku yang ada disana yang konon kabarnya masakannya lezat. Aku sih oke oke saja yang penting bisa segera makan hehehe…

Saat membuka-buka daftar menu, aku melihat harga-harganya yang cukup fantastis menurutku. Harga seporsi tumis sayur yang termurah saja Rp. 45.000,-  Hmmm… Kalau saja aku tidak ditraktir, aku tidak bakalan mau makan di tempat itu. Tidak rela rasanya mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk makanan hehehe… 

Setelah 4 menu masakan, nasi, dan minuman yang kami pesan sudah keluar, kami pun segera menyantapnya. Rasa lapar seharusnya membuatku bisa menikmati semua hidangan yang tersaji di hadapanku, namun ternyata saat itu aku tidak bisa benar-benar menikmatinya. Ada sesuatu yang mengganjal dalam hatiku. Ada perasaan menyesal menyergapku.

Aku makan dengan perasaan tidak nyaman. Pikiranku melayang-layang. Entah mengapa aku jadi memikirkan kira-kira apa ya yang ada di pikiran pramusaji yang sedang berdiri di dekat meja kami dan melihat kami yang sedang makan saat itu? Bagaimana perasaannya saat itu ya? Apakah mungkin mereka merasa iri  melihat orang-orang di restoran tempat mereka bekerja itu bisa dengan mudah mengeluarkan uang untuk menyantap makanan mahal sedangkan mereka untuk biaya hidup sehari-hari saja harus susah payah mengusahakannya? Bukan bermaksud menghina mereka, namun aku bercermin dari realita yang selama ini terjadi di sekelilingku.

Aku kembali teringat apa yang diceritakan oleh Mbak Min – seorang petugas kebersihan di kantorku – 2 hari sebelumnya. Ia bercerita kepadaku kalau dia sedang pontang-panting mencari pinjaman uang untuk membayar biaya kos, SPP anaknya yang nunggak 3 bulan, biaya daftar ulang, biaya buku, dan biaya rekreasi sekolah anaknya yang duduk di kelas 5 SD. Semua biaya itu harus dilunasi pada saat yang bersamaan. Sedangkan upah hariannya sebagai karyawan part time di kantorku hanya Rp. 25.000,- dan suaminya bekerja sebagai tukang bangunan yang hanya bisa bekerja saat ada proyek. Saat tidak ada proyek, dia bekerja serabutan yang penting dapur mereka bisa tetap mengepul. Kadang menjadi tukang parkir, kadang menjaga gudang, kadang juga menganggur selama beberapa waktu jika tidak ada kesempatan bekerja. Saat si suami menganggur, kebutuhan hidup mereka hanya mengandalkan penghasilan si istri sebesar Rp. 25.000,- per hari.

Beberapa waktu sebelumnya Mbak Min juga pernah bercerita kalau dulu suaminya bekerja sebagai sopir angkutan umum jurusan Surabaya – Malang, namun karena SIMnya hilang dan tidak ada biaya untuk membuat SIM baru maka dia beralih profesi menjadi tukang bangunan. Ia dan suaminya juga agak kesulitan mencari kerja di tempat yang agak jauh karena mereka tidak mempunyai kendaraan. Sepeda motor yang pernah mereka miliki harus dijual beberapa tahun yang lalu untuk membayar biaya rumah sakit saat Mbak Min mengalami keguguran. Ditambah lagi Mbak Min yang kesulitan membaca karena sekolahnya tidak lulus SD menyebabkan ia selama ini hanya bisa bekerja kasar dengan gaji rendah. Ia juga tidak bisa memanfaatkan keahlian memasaknya untuk berwirausaha berjualan makanan karena keterbatasan modal dan tempat.

Sungguh berat perjuangan mereka dalam mendapatkan rupiah untuk menyambung hidup. Tapi malam itu bagaimana dengan kami? Paling tidak sedikitnya uang sebanyak Rp. 300.000,- habis kami belanjakan hanya untuk makanan yang habis hanya dalam waktu setengah jam. Harga makanan kami untuk sekali makan setara dengan upah 12 hari kerja seorang petugas kebersihan part time yang saat ini sedang pontang panting menutupi biaya hidup keluarga dan biaya pendidikan anaknya.

Aku jadi merasa kikuk dan tidak berani menatap para pramusaji itu. Para pramusaji yang harus selalu tersenyum dan melayani dengan ramah orang-orang yang rela merogoh kocek dalam-dalam demi memanjakan lidah dan perutnya, meskipun mungkin saja hati mereka sedang merintih dan menangis karena mengalami pergulatan hidup seperti keluarga Mbak Min.   

Hmmm… Ingin rasanya aku cepat-cepat pergi meninggalkan restoran itu sambil membawa kabur beban moral yang kurasakan menjadi semakin berat malam itu…

Oleh : Lea Benedikta Luciele

Dimuat dalam buletin Fides edisi No. 105, bulan Maret 2019

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: