Hikayat Seorang Mantan Anak Band

Pocket

Usiaku ketika itu kira-kira 15 tahun. Panggil saja aku Jemmy. Aku anak pertama dari 2 bersaudara. Adikku adalah seorang gadis belia yang sedang sibuk meniti karier. 

Orang tua perempuanku tak hanya berstatus sebagai ibu rumah tangga. Beliau juga menjadi pekerja di Asrama Putri dan Panti Asuhan milik komunitas biarawati yang berada di Jawa Timur. Kalau orang tua priaku adalah seorang karyawan di sebuah percetakan sablon.

Kala itu, aku bersama keluarga tinggal di rumah nenek. Tetapi penghuni di rumah tersebut bukan hanya keluargaku saja. Ada 3 kepala keluarga (KK) lain. Semuanya adalah saudara kandung dari orang tua perempuanku.

Sayangnya aku sekeluarga tak bertahan lama tinggal di kediaman nenek. Kami memutuskan untuk mencari hunian sendiri. Letak rumah baru kami berjarak tak lebih dari 1 Km dari griya sang nenek.

Bisa dikata penyebab kami sekeluarga pindah ialah faktor lingkungan yang kurang memiliki dampak positif untuk tumbuh kembang diriku sebagai remaja. Bukan karena daerahnya terlalu padat penduduk atau kumuh, melainkan maraknya pergaulan negatif para pemuda di daerah tersebut.

Saat itu aku masih berjuang untuk menuntaskan studi sebagai siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) tingkat akhir. Karena latar belakang keluargaku beragama Katolik, selepas melewati usia pra sekolah orang tuaku selalu memasukkan aku di lembaga pendidikan Katolik. “Mungkin supaya aku bisa menjadi orang yang beriman dan berpendidikan serta menjadi orang yang baik,” kira-kira begitu asumsi di otakku.

Seperti remaja yang seusia pada umumnya, Aku cukup banyak terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan di luar lingkup tempat tinggalku. Seperti keterlibatan pelayanan di lingkungan gereja yakni sebagai pelayan liturgi seorang Imam saat perayaan misa atau yang biasa disebut dengan Misdinar.

Aku sempat juga menjadi bagian dari redaksi sebuah buletin bulanan milik gereja yang selalu menerbitkan informasi segala aktivitas yang ada di lingkup gereja.

Layaknya seorang remaja, Aku tak bisa bercerai dengan kata nakal. Sebagai seorang pelajar, saat SMP Aku cukup sering bolak-balik mengunjungi ruangan guru Bimbingan Penyuluhan (BP). Kalau istilah zaman sekarang ialah guru Bimbingan Konseling atau biasa disingkat guru BK.

Terlalu sering mengajak teman adu pukul dan bolos sekolah adalah penyebab seringnya diriku keluar-masuk ruangan guru BP.

Dalam lingkup sekolah, oleh teman-teman seangkatan, aku adalah orang yang paling disegani. Entah karena riwayatku yang sering jadi pengunjung ruang BK atau bisa karena parasku yang garang.

Aku juga memiliki otoritas penuh atas gerombolanku pada saat itu. Teman-teman selalu menuruti apa yang terucap dari bibirku. Jika aku berkata A tak ayal teman-teman juga langsung melaksanakan A.

Ada pula kenakalan lain dari diriku yakni sering menumpang mobil bak terbuka untuk bertamasya ke luar kota. Kalau orang Surabaya biasa menyebutnya dengan istilah Nggandol.

Mohon bisa maklum jika pribadiku demikian. Karena selain bergaul dengan teman satu sekolah dan teman gereja, aku juga bersahabat dengan orang-orang yang sering berjuang melawan kerasnya hidup di jalanan ibu kota Jawa Timur.

Namun setiap insan yang dilahirkan selalu punya dua sisi yakni sisi buruk dan sisi baik. Aku pun juga demikian.

Di balik kemesraan antara diriku dan kenakalanku, ada sisi positif yang bisa dilihat dari diriku.

Aku menekuni hobi di bidang musik secara otodidak sejak kecil. Hobi ini pernah mengantarkanku meraih prestasi yang cukup membanggakan di kala SMP.

Grup band sekolahku mampu menjuarai kompetisi band antar pelajar Katolik seluruh Surabaya. Pada masa itu Aku dipercaya sebagai pemain bas dalam komposisi grup band sekolah.

Namun kehidupan remajaku berubah 180 derajat tatkala berada di dalam rumah sendiri. Aku sangat manja dan taat kepada kedua orang tua. Terdengar aneh bukan?

Menurutku masa remaja adalah masa yang bergejolak. Berbagai aneka bentuk kenakalan dan kebaikan menemani proses seseorang untuk melewati masa-masa remaja.

Masa remajaku kala itu adalah fase di mana diriku berusaha mencari sebuah pengakuan diri. Hal ini aku lakukan agar tak dipandang sebelah mata oleh teman-teman serta orang-orang di sekitarku.

Suasana hatiku juga sering berubah-ubah kala itu. Hal ini biasa terjadi karena beban yang aku panggul sebagai seorang pelajar cukup berat.

Gempuran berbagai ujian dan aneka pekerjaan rumah dari sekolah menjadi salah satu sumber penyebabnya. Belum lagi dinamika sosial di pergaulan dengan teman-teman yang membuatku terjerembap dalam “dunia hitam”.

Sebagai penutup kisah tak berujung ini, diriku mohon izin untuk memberikan secuil buah pikir buat para pembaca.

Sebagai insan, ada kalanya kita perlu mengambil jeda singkat kala mengarungi hidup. Sekadar untuk bernostalgia dan memaknai setiap momen-momen yang terjadi di masa lampau. Entah itu momen baik maupun momen kelam.

Tujuannya simple, agar kelak kita tak lagi jatuh pada lubang sama dan segera bangun tuk kembali bangkit menatap hari esok yang jauh lebih elok.

Oleh : Jemmy Aquariesta

Dimuat dalam buletin Fides Et Actio edisi No.110, Agustus 2019

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: