NGEMPENG……

Pocket

Salah satu ponakanku dulu masih ngempeng sampai agak besar. Meski dotnya udah koyak dan bau, tetapi dia selalu mencari dot itu dan menikmatinya. Dia tidak peduli meski diolok-olok masih ngempeng. Dia tidak peduli meski banyak orang merasa aneh melihatnya ngempeng dot yang sudah dapat dikatakan busuk. Baginya ngempeng adalah sebuah kenikmatan. Bila dot lama diganti pasti akan ribut dan nangis. Pernah juga sampai demam. Aku lupa kapan persisnya dia berhenti ngempeng. Apa penyebab dia mampu melepaskan dot kesayangannya. Seingatku tidak ada pengganti dotnya.

Sebetulnya ada banyak orang ngempeng dalam bentuk lain. Menikmati kesukaan yang tidak dipahami oleh orang lain. Mereka tetap menikmati meski banyak orang mengolok, tidak memahaminya, meski barang yang dinikmatinya sudah kedaluwarsa. Baginya kenikmatan adalah kenikmatan. Kenikmatan yang membuatnya tergantung. Kenikmatan yang hanya dia sendiri yang mengetahuinya

Seperti ponakanku pasti tidak mudah melepaskan dotnya, kenikmatannya. Tetapi situasi dan kondisi membuatnya harus mengambil keputusan untuk mengakhiri kebiasaanya. Aku yakin ini tidak mudah. Membutuhkan keberanian untuk melepaskan kenikmatan. Berani merasakan hidup yang menjadi tidak nyaman sebab kehilangan sesuatu yang membuatnya nyaman. Berani melepaskan sesuatu yang melekat selama beberapa tahun tidaklah mudah. Tetapi akhirnya situasi dan kondisi serta kesadaran diri mampu mengalahkan kenikmatan.

Dalam hidup kita pun sering terlekat pada sebuah kenikmatan. Kenikmatan yang hanya kita ketahui sendiri. Kenikmatan kita tidak selalu mengganggu orang lain. Atau merugikan orang lain. Seperti ngempeng. Tidak merugikan siapapun juga. Terkadang kita sadar bahwa kenikmatan kita kurang pas dalam masyarakat, tetapi seringkali kita tidak sadar. Apa yang bagi kita kenikmatan bisa saja dipandang orang lain sebagai sesuatu yang aneh, sehingga mereka mengolok-olok. Atau mereka tidak memahami apa sebetulnya yang membuat kita begitu menikmati kenikmatan itu. Tetapi kita sering kali tidak peduli pada apa kata orang. Kita hanya berpusat pada kenikmatan kita sendiri.

Tetapi hidup perlu berproses. Tidak stagnan. Manusia pun perlu berproses. Apa yang dulu baik suatu saat dapat saja dianggap kurang baik. Ngempeng pada saat kecil dianggap baik. Bahkan orang tualah yang memberi dot kepada anaknya yang masih kecil. Tetapi kebiasaan itu bila terus dilakukan sampai besar tentu dianggap kurang baik. Untuk itu perlu ada keberanian dalam diri kita untuk berani keluar atau melepaskan kenikmatan itu.

Situasi dan kondisi perlu menjadi pertimbangan kita. Apakah kita akan terus mempertahankan kenikmatanku atau mau berubah. Pandangan dan penilaian masyarakat pun perlu menjadi pertimbangan agar kita berani berubah. Misalnya orang tidak mau belajar melainkan menghabiskan waktu untuk menikmati hidup. Ini memang tidak merugikan orang lain. Orang buta huruf tidak merugikan orang lain. Tetapi apakah orang akan tetap bertahan menjadi seorang buta huruf dalam jaman yang terus berubah secara cepat? Untuk itu perlu keberanian untuk melihat diri. Apakah aku sudah menyesuaikan diri pada jaman ini? Atau aku masih menikmati masa lalu yang seharusnya sudah harus kuubah? Seperti apakah aku akan terus ngempeng sampai kuliah? Maka perlu melihat diri sendiri dan berani berubah. Jika tidak maka kita akan menjadi orang aneh di tengah masyarakat yang terus berubah.

Oleh : Rm. Yohanes Gani CM

Dimuat dalam buletin Fides Et Actio edisi no. 101, November 2018

Please follow and like us:
error0

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: