PENJARING IKAN PUN BISA MOVE ON

Pocket

Di hari yang begitu panas ini kulanjutkan perjalananku menuju Sentra PKL Karah untuk sejenak beristirahat sambil bersantap siang. Setelah selesai makan siang, rasanya masih malas untuk pulang, jadi iseng saja siang ini aku jalan-jalan di sekitaran sungai Rolak. Di sana aku melihat ada beberapa orang yang sedang asyik memancing. Tidak puas dengan hanya jalan-jalan saja, keisenganku mulai muncul untuk mulai mengambil beberapa potret kegiatan mereka.

Lagi-lagi ketidakpuasanku untuk iseng muncul. Aku hampiri salah seorang dari pemancing itu sambil bertanya “Sudah dapat banyak hari ini, Pak?”. Mendengar suaraku itu, seorang bapak yang biasa dipanggil “Pak Sur” seorang yang hobi menjaring ikan berasal dari Sepanjang itu menatap tajam ke arahku. “Waduh salah ngomong nih”, pikirku. Setelah agak lama menatapku beliau pun menghela nafas dalam-dalam sambil menggelengkan kepala. “Hari ini sepi, airnya jelek, matahari juga sangat panas, anginnya kencang, arus air juga jadi deras, jadi ikannya nggak muncul”

Mendengar jawabannya aku jadi lega karena tidak jadi salah ngomong, tapi juga jadi kasihan oleh jawaban yang begitu detil dengan raut muka yang lesu.

Setelah kutawari sebatang rokok, beliau pun mulai mengeluarkan segala keluh kesahnya mulai dari sepinya ikan yang dari kemarin pagi tidak didapat, hingga rasa kecewanya terhadap orang-orang dekatnya yang meninggalkannya.

Di kemajuan jaman yang cepat ini, beliau merasa sangat tertinggal hingga hanya memancing yang bisa dilakukannya untuk bertahan hidup. Bukan hanya jaman yang semakin maju dan meninggalkannya, namun juga anak dan istrinya, begitu ucapnya.

Hasil ikan yang beliau dapat pun seringkali dibagikan pada tetangga untuk diolah dan dinikmati bersama. Karena dengan begitu, beliau tidak lagi merasa kesepian dan masih bisa menikmati hangatnya kasih keluarga walaupun hanya dari tetangganya saja.

“Beruntung saya masih kuat bersepeda ke sini untuk menjaring ikan dan punya tetangga baik yang sudah seperti keluarga, setidaknya Tuhan masih ada, tidak meninggalkan saya” tutupnya.

Yaah, begitulah hasil keisengan saya siang ini, lumayanlah iseng-iseng berfaedah, hehehe. Sesulit apa pun hidup bagi kita, bersyukur saja, Tuhan selalu hadir di hidup ini. Matur nuwun, Pak Sur, sampai jumpa lagi. Terima kasih Tuhan, sudah hadir sebagai penjaring ikan.

Christianus H. Winjaya

Dimuat dalam buletin Fides Et Actio edisi No. 100, Oktober 2018

Please follow and like us:
error0

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: