Allah Besar Yang Kecil

Pocket


Suara riuh terdengar dari kejauhan. Tampak anak-anak sedang berlari ke sana kemari, bermain bola, main hula hoop, bahkan ada yang sibuk dengan dunianya sendiri. Beberapa dari mereka bahkan tidak menyadari kedatangan kami, mahasiswa Fakultas Kedokteran Widya Mandala. Mereka adalah anak-anak binaan Sanggar Merah Merdeka yang dinaungi Yayasan Kasih Bangsa Surabaya. Saat pertama kali mengamati mereka, aku hanya melihat sekumpulan anak yang berisik dan susah diatur.  Aku tidak menyadari bahwa yang sekumpulan anak yang kulihat saat itu kelak akan menjadi sosok yang menunjukkan citra Allah padaku.
Pantang Menyerah. Itu adalah pelajaran pertama yang kudapat saat terjun langsung di Sanggar Merah Merdeka. Seperti anak-anak pada umumnya, mungkin mereka merasa canggung akan kehadiran kami bersembilan. Bahkan, kami harus berlarian kesana kemari mengejar mereka satu persatu hanya untuk berkenalan. Saat itu aku merasa lelah dan jengkel. Namun sekarang aku sadar segala jerih payah lelahku saat itu terbayar lunas karena bisa mengenal mereka. Aku merasa beruntung dan bersyukur saat itu aku tidak menyerah.

Setelah pertemuan pertama yang amat melelahkan, mereka mulai mengenal kami. Beberapa dari mereka bahkan hafal nama beberapa dari kami. Saat diajak berkumpul dan main bersama, mereka dengan senang hati menjalankan aktivitas dari kami. Ternyata, anak-anak yang kuanggap liar bisa menjadi anak yang taat setelah kenal dengan kami. Begitu pula harusnya kita di kehidupan ini. Meskipun kita adalah manusia yang penuh dengan kedagingan, setelah kita mengenal Tuhan, harusnya kita bisa menjadi anak-anak yang taat padaNya.
Sabar. Bersabar bukanlah sesuatu hal yang mudah. Menghadapi anak-anak perlu banyak kesabaran. Pada pertemuan kedua, aku terjatuh saat ada seorang anak bernama Vira yang secara mendadak loncat ke arahku saat aku hendak berdiri. Sakit dan malu rasanya. Aku yang biasanya pasti akan marah. Namun, Setelah melihat Vira yang ketakutan aku menjadi luluh. Mungkin hal itu yang selalu dirasakan oleh Tuhan saat kita menyakitiNya. Tuhan pasti marah saat melihat manusia berdosa. Namun, Ia juga bisa luluh saat manusia bertobat karena kasihNya yang begitu besar pada manusia. Tentu hal yang kualami tidak ada apa-apanya dibanding kesalahan ku pada Tuhan. Tapi, pada saat itu aku mengerti betapa Tuhan amat mengasihi kita, anakNya.
Berbagai macam permainan kami mainkan bersama. Berbagai kerajinan tangan telah kami buat bersama juga. Dari setiap aktivitas, tentu ada banyak nilai-nilai yang bisa diambil. Saat bermain, kita mengajari mereka untuk jujur dan sportif. Kita sendiri juga belajar untuk bisa bekerja sama mengatur anak-anak yang terkadang berulah dan kreatif saat mencari jalan keluar dari permasalahan itu. Saat membuat kerajinan tangan, kita berusaha mengajari mereka arti sebuah komitmen. Mereka sebisa mungkin harus mengerjakan prakarya mereka sendiri hingga selesai. Tentu anak-anak terkadang cepat bosan. Namun setelah mereka melihat hasil prakarya mereka yang sudah jadi, mereka jadi senang. Begitu juga kita dalam meraih cita-cita yaitu sebagai dokter profesional. Terkadang kita merasa jenuh, lelah, dan mulai menyerah. Namun, kita tidak boleh berhenti di tengah jalan. KIta harus terus berusaha dan berdoa sampai cita-cita kita tercapai. Dibutuhkan perjuangan untuk mencapai kebahagiaan.
Selain mendapat banyak pelajaran dari anak-anak. Kami juga mendapat banyak pelajaran saat mengobrol dengan relawan, sukarelawan dan penduduk di sana. Aku belajar tentang melayani dengan Kasih, mengasihi sesama seperti diri sendiri, dan lain-lain. Penduduk di sana juga amat ramah dan peduli satu sama lain.
Waktu pun berlalu begitu cepat. Kami hanya tahu kami bersenang-senang. Pada saat itu kami tidak menyadari kami membuat memori yang indah. Tidak hanya untuk dikenang, namun kami juga memperoleh pelajaran yang amat berharga tentang kebesaran Allah dari mereka yang secara fisik masih kecil. Aku beruntung bisa bertemu mereka.
Oleh : Aline Vania
(Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Widya Mandala Surabaya)
Dimuat dalam buletin Fides Et Actio edisi No.54 Desember 2014
Please follow and like us:
0

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: